mostbet az casinolackyjetmostbet casinopin up azerbaycanpin up casino game

Perkembangan dan Upaya Pelestarian Srimpi Muncar

Kondisi kehidupan seni pertunjukan diantaranya adalah seni tari di Kraton Yogyakarta yang disebut seni adiluhung semula hanya dinikmati kaum bangsawan dilingkungan keraton. Namun dalam perkembangannya bisa keluar dari istana, sehingga masyarakat pada umumnya dapat menikmati dan mempelajarinya. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII mengijinkan orang-orang di luar keraton untuk belajar tari istana yang kegiatannya di luar tembok keraton. Maka pada 1918 berdirilah organisasi tari Krida Beksa Wirama yang dipelopori oleh dua putra Sultan yaitu Pangeran Tejokusumo dan Pangeran Soeryodiningrat. Perkembangan berikutnya muncul beberapa organisasi tari lainnya yaitu Irama Citra (1949), Paguyuban Siswa Among Beksa (1952), Mardawa   Budaya   (1962)   dan   Pamulangan   Beksa   Ngayogyakarta   (1976). Kemudian pada tahun 1992 kedua orgnisasi yaitu Mardawa Budaya dan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta bergabung menjadi Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM). Pada saat ini organisasi tari tersebut yang masih bertahan adalah Yayasan Siswa Among Beksa dan Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa antara lain menyelenggarakan kegiatan kursus tari. Kedua yayasan tersebut meskipun mengalami pasang surut, masih mampu mempertahankan eksistensinya sampai sekarang (Putraningsih, 2007:47-48).

Perkembangan seni tari tidak hanya di lingkungan keraton, tetapi sudah di luar keraton antara lain adalah Tari Srimpi. Tari srimpi merupakan bentuk penyajian tarian Jawa klasik dari tradisi Kesultanan Mataram yang dibawakan oleh empat penari. Namun setelah adanya Perjanjian Giyanti tahun 1755, Kerajaan Mataram terpecah   menjadi   Kesultanan   Ngayogyakarta   Hadiningrat   dan   Kesultanan Surakarta Hadiningrat yang berimbas pada tari srimpi meskipun esensi tariannya masih sama. Tarian serimpi gaya Yogyakarta digolongkan menjadi Srimpi Babul Layar, Srimpi Dhempel, dan Srimpi Genjung, sedangkan gaya Surakarta digolongkan Srimpi Anglir Mendung dan Srimpi Bondan. Dalam perkembangannya, muncul bentuk-bentuk kreasi baru dari srimpi, baik dilingkungan Kraton Ngayogyakarta maupun Kraton Surakarta, yang kemudian menembus benteng keraton dan berkembang di masyarakat. Inovasi tari srimpi di kedua keraton menghasilkan ragam tarian dengan kreasi busana dan jumlah penari yang berbeda, diantaranya adalah tari Srimpi Cina atau yang dikenal tari Srimpi Muncar, salah satu jenis tarian putri di Kraton Ngayogyakarta yang penarinya mengenakan busana khas Cina. Dari segi tata busana tari srimpi juga mengalami perkembangan, yang semula menggunakan pakaian seperti temanten putri keraton gaya Yogyakarta dengan dodotan dan gelung bokornya sebagai motif hiasan kepala. Kemudian beralih ke “kain seredan” berbaju tanpa lengan (biasanya pakaian berwarna hitam atau merah), dengan hiasan kepala khusus yang berjumbai bulu burung kasuari, gelung berhiasan bunga ceplok dan jebehan. Properti yang digunakan pada tari ini adalah keris yang diselipkan di depan silang ke kiri. Kemudian disamping keris dikenakan pula “jembeng” yaitu sebangsa perisak, bahkan pada jaman Sri Sultan Hamengku Buwono VII dijumpai pula tari srimpi dengan alat perang pistol yang ditembakkan ke arah bawah (Putri, 2015:3).

Tari Srimpi Muncar pernah dipentaskan untuk memeriahkan upacara pernikahan puri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, GKR Timur dengan KGPAA Mangku negoro VII pada 6 September 1920. Kemudian beksan atau Srimpi Muncar menjadi populer karena digunakan sebagai materi pembelajaran tari putri pada saat tari keraton mulai diajarkan di luar lingkungan istana, yaitu melalui Sekolah Seni Kridha Beksa Wirama yang didirikan oleh BPH Suryadiningrat dan GPH Tejokusumo pada tahun 1918. Di sekolah inilah, putri tunggal GKR Timur dengan KGPAA Mangkunegoro VII, yaitu GRAj Siti Nurul Kamaril belajar Srimpi Muncar lalu mengubahnya ke dalam versi berbeda yang kemudian dikenal sebagai Srimpi Muncar gaya Mangkunegaran.

Pengembangan merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian. Pelestarian, sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 10 tahun 2014, yaitu Pelestari Tradisi meliputi pelindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Pengembangan dalam Peraturan Mendikbud tersebut, yaitu pada bab I, pasal 1, ayat (3) dijelaskan yaitu upaya dalam berkarya, yang memungkinkan terjadinya peyempurnaan ide/gagasan, perilaku, dan karya budaya berupa perubahan, penambahan atau penggantian sesuai aturan dan norma yang berlaku pada komunitas pemiliknya tanpa mengorbankan orisinalitasnya. Pengembangan, dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, tentang Pemajuan Kebudayaan pada bab I, pasal 1, ayat (5), adalah upaya menghidupkan ekosistem kebudayaan serta meningkatkan, memperkaya dan menyebarluaskan kebudayaan.

Upaya pelestarian seperti disebutkan dalam Permendikbud dan Undang- Undang Pemajuan Kebudayaan tidak hanya pengembangan tetapi pelindungan dan pemanfaatan. Kemudian untuk memelihara pelestarian kebudayaan Jawa, khususnya kebudayaan yang bersifat non tangible (non fisik) Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerjasama dengan masyarakat melakukan tiga langkah pelestarian kebudayaan tersebut36.

Upaya pelindungan non fisik dilakukan dengan cara regenerasi dan rekontruksi seni tradisi melalui penelitian, workshop dan sebagainya. Bentuk pelindungan ini dengan dilindungi oleh payung hukum yang didalamnya memuat penetapan hak milik dan pencatan warisan budaya, sebagaimana dalam Peraturan

Daerah DIY No.6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya. Untuk pengembangan atau inovasi dilakukan berdasarkan budaya yang berkembang menurut perkembangan masyarakat pendukungnya. Seperti diketahui dulu Yogyakarta masyarakat homogen dengan mayoritas suku Jawa, tetapi dengan perkembangan zaman berubah menjadi wilayah heterogen sehingga kebudayaan akan mengalami perubahan. Meskipun demikian, perubahan kebudayaan yang terjadi tidak serta merta menghilangkan kebudayaan asli. Kebudayaan asli masih tetap dipertahankan hanya saja akan dikolaborasi dengan kebudayaan baru yang ada. Dalam hal ini dikemas dalam kesenian tradisi yaitu pengemasan kembali kesenian tradisi dengan bentuk festival, pameran dan acara- acara lain baik tingkat lokal, nasional maupun luar negeri. Pemanfaatan, mestinya kebudayaan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik manfaat berupa profit maupaun benefit. Untuk itu diperlukan perencanaan yang matang supaya dapat memaksimalkan keuntungan yang dapat bermanfaat masyarakat luas khususnya masyarakat Yogyakarta.

Upaya pelestarian tersebut tidak hanya dilakukan oleh Dinas Kebudayaan di DIY yang didukung oleh komunitas dan masyarakat, tetapi juga Keraton Yogyakarta. Upaya yang telah dilakukan sebagai bentuk pelestarian dalam acara rutin Uyon-Uyon Adiluhung di Kagungan Dalem Bangsal Kasatriyan  Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pada hari Senin Pon, 10 Agustus 2020 menampilkan sajian istimewa: Srimpi Muncar37. Berikut foto terkait kegiatan uyon-uyon hadiluhung di Kraton Ngayogyakarta.

Kemudian menurut ibu Sas atau ibu Tiyah38, upaya untuk mempertahankan atau tetap lestari Tari Srimpi Muncar harus disederhanakan dan disesuikan dengan kondisi sekarang, supaya anak-anak tertarik belajar menari. Seperti misalnya durasi biasanya 30 menit bisa dipadatkan menjadi 20 menit, dengan mengurangi gerakan yang sama atau pengulangan dari 4 gerakan menjadi 1 gerakan. Selain itu, sebagi salah satunya bahan ajar di sanggar atau paguyuban, atau di sekolah yang mengadakan seni tari, sering diadakan even atau pertunjukan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.