Perkembangan Kota Yogyakarta

Periode 1755

Dalam buku Profil Yogyakarta City of Philosophy yang disusun oleh Dinas Kebudayaan DIY tahun 2015 dijelaskan bahwa elemen kunci pembentukan kota Yogyakarta adalah Kraton (1755-1756), Masjid Gedhe Kauman (1773-1775), Pasar Gede, Alun-alun Lor, Tamansari (1756-1758), Beteng Baluwerti, Panggung Krapyak, Tugu Pal Putih, dan kawasan pemukiman. Kraton merupakan tempat tinggal raja sedangkan para pangeran, bangsawan, serta abdi dalem tempat tinggalnya menyebar di seluruh kota, baik di dalam maupun di luar benteng kraton. Penataan dan pertumbuhan kota Yogyakarta terjadi dengan cepat dimulai dari pembangunan kraton sebagai inti perkembangan kota dengan tugu pal putih sebagai simpul di bagian utara yang dihubungkan oleh Jalan Marga Utama, Marga Mulya, Malioboro, dan Pangurakan. Sementara di sebelah selatan kraton terdapat simpul panggung krapyak.

Periode 1756-1830

Periode ini ditunjukkan dengan pembangunan dan peningkatan berbagai elemen yang permanen, sementara elemen eksisting utama tetap dipelihara. Pada periode elemen yang dibangun adalah Benteng Belanda dan rumah Residen. Sementara jaringan jalan semakin kompleks dengan munculnya jalan skunder dan gang yang berpotongan dengan Jalan Malioboro. Kaptihan merupakan tempat tinggal Pepatih Dalem Adipati Danureja, sehingga disebut Kepatihan Danurejan. Sementara pasar yang awalnya tidak permanen, kemudian dilengkapi dengan deretan bangunan los. Bangunan ini terbuka dengan atap berbentuk limasan.

Pada 1760, Benteng Vredeburg mulai dibangun semi permanen, kemudian pada 1765 W.H. Ossenberc mengusulkan kepada Sultan untuk memperkuat bangunan itu menjadi lebih permanen dengan alasan keamanan. Dengan izin Sultan Hamengku Buwono I, pembangunan benteng dikerjakan dengan pengawasan ahli bangunan bernama Ir. Frans Haak. Pembangunan selesai pada 1789 dan diberi nama Benteng Vredeburg yang mempunyai arti benteng perdamaian. Diseberang benteng, dibangun kediaman Residen pada 1830. Di bagian selatannya terdapat sebuah pavillion untuk mewadahi kegiatan Dutch Club yang sudah ada sejak tahun 1822.

Sejak periode inilah Belanda mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan kota Yogyakarta. Apalagi jika dihubungkan dengan kebijakan segregasi spasial yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda, yang menetapkan zonasi pemukiman penduduk berdasarkan ras. Zona pemukiman etnis Tionghoa, Arab, dan India diatur letaknya sedemikian rupa sehingga diposisikan sebagai area transisi antara kalangan pribumi dan Eropa.

Pada periode ini bangunan-bangunan perdagangan mulai bermunculan di sepanjang Jalan Malioboro. Lokasinya di utara kediaman Residen dan pasar sampai dengan Kepatihan Danurejan. Kawasan diutara pasar merupakan pemukiman pecinan yang dialokasian secara khusus oleh Sultan.

Pada 1812-1816, Inggris menduduki Jawa, termasuk Yogyakarta. Pada periode inilah terjadi peristiwa Geger Sepehi pada 19-20 Juni 1812, dimana Inggris berhasil menaklukkan Kesultanan Yogyakarta yang diperintah oleh Sultan Hamengku Buwono II. Salah satu dampak peristiwa itu adalah Inggris menobatkan Pangeran Notokusumo menjadi Sri Paduka Paku Alam I. Lokasi kediamannya di sebelah timur Kali Code. Keberadaan Puro Pakualaman ini secara tidak langsung ikut mendorong pertumbuhan kehidupan kota Yogyakarta diluar beteng. Setelah berhasil berkuasa lagi, pemerintah Hindia Belanda membuat wilayah Yogyakarta dan sekitarnya sebagai medan pertempuran akibat perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kekuasaannya. Perang ini dikenal dengan Perang Jawa yang berkobar antara tahun 1825-1830.

Periode 1830-1925

Pasca Perang Jawa, pemerintah kolonial menerapkan UU Agraria yang memberi kesempatan pihak swasta untuk berinvestasi dalam bidang perkebunan dan industri di Hindia Belanda. Sebagai dampak hal itu, di Yogyakarta mulai didirikan beberapa pabrik industri pengolahan baik sektor pertanian, perkebunan maupun sektor lainnya. Perkembangan permukinam kota Yogyakarta sejak akhir abad ke-19 cenderung menjadi semakin plural sebagai akibat dari semakin banyaknya orang-rang asing yang tinggal di kota Yogyakarta. Selain orang Cina, orang-orang Belanda dan orang Barat lainnya juga banyak yang tinggal di kota ini. Mereka itu adalah para pejabat pemerintah Belanda, para pengusaha perkebunan, atau pengusaha lainnya. Selain orang-orang asing, orang-orang Indonesia dari suku-suku lainnya juga mulai datang untuk tinggal di tempat ini. Seperti halnya penduduk di kota-kota kolonial, warga kota Yogyakarta pada akhirnya juga dapat dibedakan atas tiga golongan penduduk, yaitu golongan Eropa, golongan Asing Timur dan golongan Bumiputra.

Di seluruh wilayah Yogyakarta pada masa Sultan Hamengku Buwono VII, terdapat 17 pabrik gula. Sementara diwilayah kota didirikan pabrik pengolahan besi Purosani. Untuk mendukung industri ini kemudian dibangun sarana transportasi yaitu pembangunan stasiun kereta api Lempuyangan pada 1872 oleh NISM (Nederlandsch Indische Spoorwegen Maatshcappij), menyusul kemudian dibangun Stasiun Tugu oleh SS (Staats Spoorwegen) pada 1887.

Pembangunan stasiun kereta ini mendorong perkembangan perekonomian kota terbukti diseberang stasiun Tugu kemudian dibangun Hotel Toegoe, kemudian di Jalan Malioboro dibangun pula Grand Hotel Djokdja dan Loge Mataram atau Gedung Perkumpulan Theosofi Belanda Cabang Yogyakarta (1878). Di seberang Grand Hotel Djokdja kemudian bermunculan bangunan rumah toko dengan gaya Belanda, seperti Aphotheek Juliana (1856) yang kemudian dikenal dengan Kimia Farma Malioboro. Sementara di sebelah utara rumah Residen, sebuah gereja dibangun pada 1857. Tidah jauh dari bangunan itu, didepannya, pada 1914, terdapat sebuah jam atau Stadsklok yang diletakkan menghadap ke utara dan selatan. Keberadaan jam itu untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Inggris.

Pada tahun 1867, Yogyakarta dilanda bencana gempa bumi. Akibatnya berbagai bangunan roboh, antara lain Tugu Golong Gilig. Sebagai gantinya Belanda pada tahun 1889 membangun sebuah tugu yang disebut White Paal, seperti dikenal masyarakat sekarang ini. Bentuknya berbeda dengan Tugu Golong Gilig dan dilengkapi dengan berbagai ornamen. Tingginya hanya 15 meter, lebih rendah dibangdingkan dengan Tugu Golong Gilig yang tingginya 25 meter.

Pada periode ini juga terlihat persebaran kampung-kampung yang berada di sebelah barat dan timur Malioboro. Demikian juga mulai muncul perkantoran dan sarana prasarana yang menunjang keberadaan Belanda di Yogyakarta seperti sarana pendidikan, keagamaan, kesehatan, hiburan, dan hotel. Sarana tersebut antara lain berupa Apotheek van Gorkom di timur pasar dan Apotheek Rathkamp di Jalan Malioboro, Klieniek Toegoe di utara Hotel Toegoe, bioskop di barat pasar dan daerah Pajeksan, sekolah-sekolah, kantor militer tepat di utara rumah Residen, dan pabrik es “IJS Fabrieek Pathook” yang ada di daerah Patuk.

Penduduk bangsa Eropa dan bangsa asing lainnya pada umumnya bekerja pada bidang-bidang birokrasi pemerintahan, keamanan, perkebunan, dan leveransir kebutuhan hidup. Mereka tinggal di sekitar permukiman masyarakat Eropa di Loji Gede, Loji Kecil, Bintaran, Kota Baru, dan Sagan. Kelompok etnik Arab dan Cina umumnya memiliki aktivitas di bidang perekonomian seperti pedagang, pemungut cukai pasar, rumah gadai, rumah persewaan candu, rumah gadai, serta menjadi perantara antara orang Barat dan orang Bumiputra. Mereka umumnya tinggal di Kampung Pecinan, Sayidan, Kranggan, dan Loji kecil.

Periode 1926 – 1940

Pada periode ini terjadi sedikit perubahan pada bentuk-bentuk bangunan yang sudah ada. Misalnya, Grand Hotel Djokja direnovasi menjadi kompleks bangunan dua lantai. Sementara di sekeliling kediaman Mayor Cina telah dipenuhi oleh rumah toko yang menghalangi akses visual terhadap bangunan itu. Pada periode ini pasar dibangun kembali menjadi permanen hingga 1923, bangunan pasar yang masif dibuat menggantikan bangunan yang berstruktur kayu. Pemukiman berkembang dengan adanya pembangunan rumah tinggal dan toko. Perekonomian di kawasan Malioboro semakin mengalami peningkatan yang sangat pesat sehingga mendorong terjadinya pembangunan di kawasan sekitarnya.

Periode 1941 – 1987

Penduduk Yogyakarta pada masa pendudukan Jepang berkurang karena mengungsi untuk menghindari kerja paksa (Romusha). Namun sebaliknya berkembang secara pesat pada ketika Yogyakarta menjadi ibukota RI pasca kemerdekaan. Banyak pejabat pemerintahan dan tokoh-tokoh nasional dari Jakarta atau Jawa Barat hijrah ke Yogyakarta. Pada saat itu pula kota Yogyakarta menjadi kota perjuangan dan kota revolusi yang sangat penting bagi sejarah bangsa. Sejak itu jalan Malioboro muncul dan menjadi pusat kota yang legendaries, yang menyimpan memori kolektif masa perjuangan di kota Yogyakarta. Malioboro menjadi ekologi simbolik baru bagi kota Yogyakarta, yaitu menjadi arena persebaran makna dan gagasan serta citra baru dari masa revolusi di lingkungan kota Yogyakarta.

Perkembangan itu semakin nyata ketika pada 1949 didirikan Universitas Gadjah Mada, ketika mahasiswa dari berbagai daerah masuk ke Yogyakarta. Yogyakarta pada saat itu sudah menjadi Indonesia mini yang mencerminkan kebhinekaan warganya. Pada periode ini kota Yogyakarta juga mengalami perkembangan parisiwata terutama pada 1960-an yang ditandai dengan munculnya penginapan di Sosrowijayan untuk wisatawan domestik. Sejak tahun 1970-an penginapan untuk wisatawan asing mulai dirintis.

Malioboro semakin menjadi pusat perkembangan kota ketika pada tahun 1970-an ditetapkan sarana fungsional pemerintahan seperti Kantor Kepatihan dan Gedung DPRD. Sementara bagian depan Ducth Club (Societeit de Vereeneging) menghasilkan ruang terbuka yang ada dibalik pagar Gedung Agung yang selanjutnya diberi nama Senisono. Pada periode ini pasar gedhe yang terkenal dengan Pasar Beringharjo sudah menjadi bangunan permanen, tetapi tidak bertungkai.

Periode 1988-sekarang

Salah satu yang menarik dari kecenderungan pada masa mutakhir kota Yogyakarta pada hakekatnya adalah posisinya yang semakin kuat menjadi Kota Nasional atau “Kota Indonesia”, tercermin dari komposisi penduduknya yang secara plural terdiri dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Selama periode ini terjadi perluasan wilayah administratif kota. Kota Yogyakarta telah memperoleh penambahan luas lahan sebesar 2025.78 Ha., Ini merupakan suatu kecepatan perluasan wilayah kota yang cukup besar bagi kota Yogyakarta. Terdapat dua faktor yang menyebabkan hal ini terjadi yaitu faktor konsentrasi penduduk dan faktor kebutuhan ketersediaan fasilitas social ekonomi dan faktor fasilitas sosial ekonomi yang mendorong perubahan penggunaan lahan pertanahan kota, antara lain mencakup segi-segi kebutuhan seperti perumahan, jalan untuk sarana transportasi, perdagangan, pertokoan, mall, pendidikan, kesehatan, peribadatan, kelembagaan, olahraga, dan hiburan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.