Permainan Tradisional Engkling

Permainan tradisional merupakan suatu permainan yang tumbuh dan berkembang di daerah tertentu, yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan tata nilai kehidupan masyarakat dan diajarkan turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya (Kurniati, 2016:2).

Sebagai salah satu kota budaya yang ada di Indonesia, Yogyakarta memiliki banyak permainan tradisional yang berasal dari daerah ini, salah satu contohnya adalah permainan tradisional Engling. Sebagai kota besar, Yogyakarta tentunya menerima perkembangan teknologi dengan baik.  Oleh sebab itu, sekarang permainan tradisional ini mulai ditinggalkan. Berangkat dari hal ini, maka permainan tradisional berhak masuk kedalam warisan budaya tak benda.

Engling adalah permainan tradisional yang dimainkan diatas bidang yang telah digambar berbagai macam bentuk, seperti pesawat, gunung, atau baling-baling yang dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan.

Tidak ada data pasti tentang historis dari permainan ini, tapi beberapa data menyebutkan permainan ini muncul di akhir abad 19, awal abad 20.  Beberapa sumber menyebutkan engling diperkenalkan oleh Belanda ke Indonesia oleh Zondaag maandag sehingga permainan ini ada yang menyebutnya sunda manda. Ada juga yang menyatakan bahwa permainan ini sama dengan permainan Britania Raya yang bernama hopscocth yang sudah ada sejak zaman Romawi Kuno.

Permainan ini bisa dimainkan oleh dua anak atau lebih. Pemain harus berjalan dengan satu kaki mengikuti pola yang telah digambar. Dan juga pemain harus mempunyai gacuk yang terbuat dari batu atau pecahan genting untuk dilempar pada pola sesuai aturan.

Permainan ini memberi dampak positif, yakni melatih aspek gerak kasar motorik anak, menjadi wadah dalam penyaluran energi anak melalui gerakan-gerakan fisik sehingga anak dapat mengoptimalkan fungsi dari otot-otot kaki, tangan, dan punggung. Selain itu, ini juga dapat melatih ketangkasan dan kecermatan anak.

Permainan engling ini cukup populer di dunia anak-anak dibandigkan dengan permainan tradisional yang lain. Juga anak-anak memiliki minat untuk memainkan engling. Ditengah maraknya gadget, masih ada beberapa anak yang masih mau memainkan engling ini.

Engling memilki fungsi sosial dimana anak-anak harus berhompimpa  untuk menentukan urutan pemain. Ketika satu anak main, yang lain menyemangati. Terkandung unsur sosialisai dan saling menghormati disini. Selain itu, engling juga memiliki fungsi budaya  yaitu anak-anak di latih konsentrasi saat melempar gacuk  dan menjaga keseimbangan saat jalan. Anak juga dilatih untuk jujur dan transparan ketika gacuk  dilempar ke kotak.  Adapun makna filosofis permainan ini adalah, siapa yang bekerja keras maka akan membuahkan hasil, disini, hasilnya berupa rumah ketika selesai menempatkan gacuk di semua kotak.

Permainan tradisional ini harus tetap dilestarikan dan dijaga keharmonisan memainkannya oleh masyarakat. Pemerintah juga mempunyai peran penting dalam menjaga upaya pelestariannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *