Persiapan dan Pelaksanaan Tradisi Baarak Naga pada Masyarakat Banjar

Persiapan dan Pelaksanaan Tradisi Baarak Naga – Sebelum memulai proses Baarak Naga, terlebih dahulu pihak mempelai laki-laki meminta izin untuk meminjam kepala naga kepada keturunan yang memelihara atau menyimpan kepala naga tersebut. Peminjaman ini harus disertai dengan adanya jaminan atau akad yang disebut sebagai andal. Pihak mempelai laki-laki memberikan andal ini kepada keturunan yang menyimpan kepala naga dalam bentuk uang. Terdapat dua macam jenis kepala naga, yaitu laki dan bini. Yang laki (jantan) bernama Wisakutara berwarna merah, sedangkan yang bini (betina) bernama Salera berwarna putih. Ornamen kepala naga yang akan digunakan dalam upacara Baarak Naga pada walimah perkawinan bisa saja disesuaikan dengan keinginan keluarga yang berhajat. Terkadang ada yang hanya ingin memakai yang laki saja, ada yang memakai bini saja, dan ada pula senang memakai keduanya atau laki bini (Azhari, 2021).

Selain itu, ada lagi hidangan lain yang mesti dipersiapkan, yakni sajian yang digantung di dagu kepala naga atau yang dikenal sebagai punjung ampat. Punjung ampat ini dibuat dari gedebog pisang, dengan isian nasi yang terbuat dari beras dan diberi pewarna empat macam yaitu merah, putih, hitam dan kuning. Nantinya, punjung ampat akan direbutkan oleh masyarakat ketika mempelai laki-laki naik ke atas kerangka naga lalu selanjutnya akan diarak keliling kampung. Orang-orang mempercayai bahwa jika berhasil mendapat punjung ampat maka akan memperoleh banyak kebaikan. Seperti apabila seorang perempuan yang belum mendapatkan jodoh, niscaya ia akan segera bertemu dengan pasangannya.

Baca juga : Profil & Potensi Desa Wisata Kemuning Kabupaten Karanganyar

Sedangkan apabila laki-laki, maka ia akan menjadi lakilaki yang tangguh mentalnya, kuat fisiknya dalam mencari nafkah serta kuat dalam mengarungi hidup (Hairullah dan Mardiani, 2021). Tahapan selanjutnya ialah membuat kerangka naga menggunakan alat-alat pertukangan seperti paku, palu, pahat, gergaji dan lain-lain. Alat-alat ini akan dipergunakan untuk membuat ornamen naga yang biasanya terbuat dari rotan yang dilapisi dengan tikar purun, paring (bambu), kayu galam, tapih bahalai (sarung panjang) dan ambal (karpet). Dibutuhkan waktu dua atau tiga hari untuk menyelesaikan pengerjaan kerangka naga karena ukurannya lumayan besar sekitar enam sampai tujuh meter.

Tradisi Baarak Naga akan dilaksanakan pada hari walimah perkawinan pengantin sehabis shalat zuhur atau sekitar jam satu siang, namun bisa juga lebih. Tempatnya bisa dimanapun menyesuaikan lokasi perkawinan yang dilangsungkan, seperti sepanjang jalan rumah mempelai laki-laki menuju rumah mempelai wanita atau di lapangan terbuka. Apabila rumah mempelai berseberangan kampung, maka terdapat dua pilihan yang biasa dikerjakan masyarakat seperti diarak melalui jalur sungai dengan perahu kelotok berhias kepala naga dan ornamen lain atau dengan mobil di daratan.

Setelah mempelai sudah bersiap dengan memakai baju adat Banjar, ornamen naga akan ditaruh di depan halaman rumah tempat turunnya pengantin untuk dapat dinaiki. Tempat turun pengantin ini tidak mesti rumah mempelai, bisa saja rumah siapapun yang tersedia. Karena tempat ini akan dijadikan sebagai tempat bermulanya prosesi tradisi Baarak Naga. Pemimpin atau tokoh agama setempat akan membacakan do’a selamat sesaat sebelum mempelai menaiki mobil yang dihias ornamen naga dengan harapan memperoleh keselamatan selama perjalanan. Pengantin yang akan turun dari rumah harus berhenti di pelataran untuk dibacakan shalawat Nabi Muhammad diiringi hamburan baras kuning dan uang koin yang direbutkan oleh masyarakat.

Sebelum mempelai naik ke atas mobil dengan ornamen naga, pengantin terlebih dahulu juga di tapung tawar, yaitu pemercikan air yang dilakukan oleh pemimpin acara tradisi Baarak Naga. Di dalam air biasanya tersebut terdapat bunga-bunga, dan alat yang dipergunakan untuk memercikannya terbuat dari daun pandan atau daun pisang. Sehabis itu, mempelai dipersilahkan naik ke atas ornamen naga dengan melalui tangga karena tempatnya yang cukup tinggi untuk diraih. Sepanjang perjalanan Baarak Naga akan diringi pula dengan lantunan shalawat atau syair-syair yang disebut sebagai kesenian sinoman hadrah hingga menuju rumah mempelai perempuan. Biasanya juga disertai kesenian pencak silat tradisional asli Banjar atau bakuntau. Setelah mempelai laki-laki tiba di rumah mempelai perempuan, mereka akan disuguhi dengan tradisi bausung dengan cara ditopang, dijunjung atau digendong untuk menaiki bahu si pengusung sembari masih diiringi kesenian bakuntau. Setelah selesai, kedua mempelai laki-laki dan perempuan akan duduk batatai atau yang kita kenal dengan bersanding di atas pelaminan. Sesudah beberapa waktu, kedua mempelai akan berlanjut untuk kembali ke rumah mempelai laki-laki dengan diarak menaiki ornamen naga lagi, juga diiringi lantunan syair-syair shalawat dalam musik sinoman hadrah.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelatihan kami, anda dapat menghubungi admin (0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *