Potensi Wisata Area Situs Sangiran

Area Situs Sangiran terletak di desa Krikilan, Ngebung, Manyarejo, Kabupaten Sragen dan Dayu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Sejak lama, situs ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun asing. Pengembangan situs Sangiran ini dapat dilakukan dengan mengintegrasikan potensi-potensi yang ada di dalamnya. Potensi tersebut antara lain : potensi alam (bebatuan, lapisan tanah, mata air purba, sumber air asin, sangiran Dome, fosil-fosil dan lokasi penemuannya), kontruksi sejarah evolusi manusia khususnya jenis atau spesies hominid, aktivitas penduduk, dan museum dan kluster pendukungnya.

Pariwisata di wilayah ini sudah berkembang dari waktu ke waktu. Namun hingga saat ini, khususnya wisatawan maupun pengunjung mancanegara yang datang ke sangiran, sebagian masih mengidentikkan tempat ini sebagai tempat penelitian. Pasalnya, sejak tahun 1930-an, sejumlah lokasi telah menjadi penelitian-penelitian baik yang berhubungan dengan geologi atau arkeologi. Dalam perjalanannya, kedatangan pengunjung ke Sangiran memang tidak bisa dilepaskan dari penelitian dan konteks akademis.

Perkembangan Sangiran mulai dari situs purbakala lalu menjadi tujuan wisata hingga memiliki Museum dan kluster seperti sekarang ini, tidak dapat dilepaskan dari peran dan andil sejumlah aktivitas dan langkahlangkah para peneliti terdahulu. Nama-nama besar dalam penelitian di bidang paleontologi, gologi, antropologi dan arkeologi adalah pembuka jalan dikenalnya Sangiran di mata dunia. Mulai dari peneliti berkebangsaan German-Belanda Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald, hingga Begawan antopolog dari Indonesia Seperti Prof. Teuku Jacob dari Universitas Gadjah Mada dan Prof Sartono Sastromihadjo dari Institut Teknologi Bandung pernah mendapatkan temuan terbesar yang kemudian menjadi bagian dari literatur-literatur sejarah di Dunia, melalui situs Sangiran. Perkembangan Sangiran juga tidak lepas dari masyarakat yang menerima para peneliti dengan tangan terbuka, salah satunya Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan di era penjajahan Belanda. Tak lepas juga dari komitmen pemerintah pusat mulai era Presiden Soeharto dan pemerintah daerah, khususnya Sragen, mulai dari era Bupati Untung Wiyono.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 081232999470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *