Potret Potensi Budaya di Kelurahan Pakuncen

Kelurahan Pakuncen merupakan salah satu kelurahan dari tiga kelurahan di Kemantren Wirobrajan Kota Yogyakarta. Kelurahan Pakuncen berada di bagian barat Kota Yogyakarta. Kelurahan Pakuncen dengan tipologi kelurahan sebagai daerah penyedia jasa dan perdagangan.

Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah dimana dari barat ke timur relatif datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ± 1 derajat, serta terdapat 3 (tiga) sungai yang melintas Kota Yogyakarta, yaitu : Sebelah timur adalah Sungai Gajah Wong, Bagian tengah adalah Sungai Code, Sebelah barat adalah Sungai Winongo.  Pertambahan penduduk Kota dari tahun ke tahun cukup tinggi, pada akhir tahun 1999 jumlah penduduk Kota 490.433 jiwa dan sampai pada akhir Juni 2000 tercatat penduduk Kota Yogyakarta sebanyak 493.903 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata 15.197/km².  Angka harapan hidup penduduk Kota Yogyakarta menurut jenis kelamin, laki-laki usia 72,25 tahun dan perempuan usia 76,31 tahun.

Pengurus Rintisan Kelurahan Budaya sudah berperan dalam membukan ruang kegiatan adat dalam masyarakat. Peran RW dapat berfungsi sebagai lembaga adat organik dan menjadi suh kegiatan adat. Organisasi sanggar seni budaya memberikan dukungan secara bermakna untuk kegiatan adat. Pemerintah kelurahan aktif berkominukasi dengan tokoh budaya setempat.

Satu upacara adat organik, Memetri Kali Winongo turun temurun. Menyusul adat-adat fungsional yang melekat pada aktivitas warga terkait dengan kebutuhan terkini, lebih sebagai kegiatan budaya baru sebagai gerakan masyarakat sehingga menumbuhkan partisipasi dan gerakan budaya dalam masyarakat. Diperkuat dengan sejumlah upacara bersama terkait tradisi suran dan upacara kenduri yang terintegrasi dengan kegiatan adat keagamaan. Partisipasi keterlibatan warga dalam menyiapkan dan melaksanakan adat sudah menjangkau lebih dari tiga perempat warga. Upacara adat atau adat daur hidup dalam keluarga direspon sebagai kegiatan panitia/pengurus secara terkoordinasi dan keluarga yang bersangkutan.

Meskipun keragaman jenis dan kekayaan adat yang diupacarakan masih terbatas namun adat tata nilai kehidupan masyarakat masih terlihat kuat terkait dengan adat musyawarah, gotong royong, soliderita, tenggang rasa dan toleransi.

Masih tersedia  banyak narasumber setempat dalam jumlah cukup, sebagian malah menjadi pelaku  budaya, yang bisa menjelaskan dan menjadi rujukan adat. Namun kurang dimanfaatkan untuk upaya dalam gerakan adat tradisi sebagai gerakan pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan warga.

Untuk penggunaan bahasa jawa masih menjadi bahasa harian tetapi belum diperdalam dan diperluas sebagai ekspresi budaya bersama, mengingat makin heterogenitasnya latar belakang bahasa ibu warga. Sedangkan untuk Kegiatan kerajinan, kuliner, dan pengobatan tradisional masih terjaga. Di Kelurahan Pakuncen sendiri masih terdapat 5 warisan budaya bendawi berupa 3 bangunan  (Masjid Pakuncen, Pendopo Ijo, Gedung JNM eks. SESRI) dan 2 situs (Makam Pakuncen, dan lapangan ASRI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *