Profil Desa Wisata Ngadimulyo Kabupaten Temanggung

Profil Desa Wisata Ngadimulyo Kabupaten Temanggung – Desa Ngadimulyo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Desa Ngadimulyo berada pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut dengan jarak 3 km dari ibu kota Kecamatan Kedu dan 9 km dari ibu kota Kabupaten Temanggung. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 180/188 Tahun 2020 tentang Desa Wisata, Desa Ngadimulyo telah ditetapkan menjadi salah satu desa wisata dengan klasifikasi desa wisata berkembang di Kabupaten Temanggung.

Batas wilayah Desa Ngadimulyo terdiri dari, yaitu sebelah barat berbatasan dengan Desa Gondangwayang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Baledu Kecamatan Kandangan, sebelah utara berbatasan dengan Desa Rowo Kecamatan Kandangan dan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Karangtejo dan Mergowati.

Desa Wisata Ngadimulyo terdiri dari 10 (sepuluh) dusun, antara lain Dusun Setrobayan, Ngliwu, Gintung, Craken, Ngadidono, Ngadiprono, Dadapan, Ngleri, Pager Gunung dan Krincing. Dusun Ngadiprono merupakan salah satu dusun yang memiliki daya tarik wisata terkenal, yaitu Pasar Papringan Ngadiprono. Pasar Papringan Ngadiprono dibangun di area rumpun bambu atau biasa disebut dengan papringan seluas 2.500 meter2 . Area ini tadinya dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah, yang kemudian diinisiasi oleh masyarakat Dusun Ngadiprono dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) SPEDAGI jauh sebelum Desa Ngadimulyo ditetapkan sebagai desa wisata, tepatnya pada tahun 2017.

Masyarakat Desa Ngadimulyo aktif di beberapa kelompok kesenian seperti kuda lumping, rebana dan sholawatan. Masyarakat Desa Ngadimulyo juga aktif dalam kelompok olahraga seperti sepak bola, bola voli, dan bulu tangkis. Pemerintah Desa Ngadimulyo menyediakan satu lapangan sepak bola yang ada di Dusun Ngliwu, dua lapangan bola voli yang ada di Dusun Ngadiprono dan Ngadidono,serta lapangan bulu tangkis yang ada di Balai Desa Ngadimulyo.

Pasar Papringan Ngadiprono merupakan pasar dengan konsep “papringan” atau kebun bambu yang digelar sebulan dua kali, yakni setiap Minggu Wage dan Minggu Pon. Pasar ini mengusung tema kearifan lokal dan pasar yang ramah lingkungan. Pasar Papringan Ngadiprono menawarkan aneka kuliner tradisional, kerajinan, hasil tani, hingga hewan ternak. Transaksi pada pasar ini diharuskan menggunakan kepingan bambu yang bisa ditukar menggunakan rupiah di loket penukaran uang. Konsep Pasar Papringan Ngadiprono yang cukup unik ini tentu telah menarik banyak wisatawan baik dari dalam Kabupaten Temanggung hingga dari luar daerah Kabupaten Temanggung.

Terhitung sejak ditetapkannya Desa Ngadimulyo sebagai desa wisata pada tahun 2020, kegiatan wisata di desa wisata ini masih terbatas pada pengembangan satu dusun saja, yaitu Dusun Ngadiprono.

Baca juga : Arsitektur Kontemporer : Persimpangan Inovasi dan Keberlanjutan

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 0812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *