Profil Desa Wisata Tlogo Ringo Kabupaten Karanganyar

Profil Desa Wisata Tlogo Ringo – Tlogo Dringo merupakan salah satu desa di kaki Gunung Lawu. biasanya digunakan oleh organisasi pencinta alam untuk basecamp pendakian ke Lawu maupun untuk pendidikan dasar. Desa ini terletak di lembah dringo yang di dalamnya terdapat sentra pengembangan tanaman buah stroberi. Potensi yang terkandung di dalamnya adalah desa ini masih sangat asri dan sering mendapat perhatian dari pemerhati lingkungan karena kontur alamnya yang masih alami dibandingkan daerah lain di Karanganyar. Hutan di kawasan ini adalah hutan lindung yang pengawasannya di bawah KPH Lawu Utara, terdapat keanekaragaman jenis flora dan fauna yang biasa terdapat di hutan tropis Pulau Jawa, seperti Elang, Babi Hutan, Beruk, Kera Ekor Panjang, dan berbagai jenis ular, terdapat juga burung gagak yang sering dating ke kampung warga. Begitu juga dengan tanaman buah strowberi yang tidak ditemukan di daerah lain di Kabupaten Karanganyar.

Baca juga : Faktor-faktor Pendorong Wisata

Asal muasal nama Tlogo Dringo diambil dari adanya sebuah tanah datar yang sekarang menjadi lapangan sepak bola dulunya adalah sebuah telaga. Telaga tersebut merupakan danau kecil, di sana terdapat pohon Dringo yang daunnya sering digunakan oleh warga sekitar untuk memandikan anaknya karena daunnya beraroma sangat wangi. Oleh karena itu, tempat ini dinamakan Tlogo Dringo. Awalnya di daerah ini hanya terdiri dari 7-9 rumah saja. Salah satu pendiri desa adalah Mbah Kertorejo, sekarang tapak tilasnya ada di sebelah utara dari bekas danau. Pada tahun 1950-an, daerah ini mulai ramai, selain bertambahnya penduduk dengan keturunan orang asli Tlogo Dringo, banyak pula pendatang yang berasal dari wilayah Kabupaten Magetan, Kabupaten Wonogiri dan juga Karanganyar. Di kawasan ini dulunya masih di bawahi oleh kolonial Belanda, kemudian Jepang dan yang terakhir adalah agresi kembali oleh Belanda.

Daerah Tlogo Dringo ini masih kental dengan nuansa mistis. Sesajen juga masih berlaku untuk menyeimbangkan kehidupan masyarakat sekitar. Diceritakan, di kawasan hutan lindung di sebelah selatan desa ini masih banyak terdapat arca-arca dan beberapa artefak yang menurut legenda adalah petunjuk-petunjuk yang harus ditaati oleh orang-orang yang bermukim di lereng hutan tersebut. Salah satunya adalah patung celeng yang terdapat di sebelah timur puncak Njogolarangan. Patung ini merupakan perwujudan dari raja babi hutan yang dinamakan Dadung Awuk.

 

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 0812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *