Profil Mangkunegaran VI : Dukungan Mangkunegara VI terhadap Pergerakan Nasionalisme

Keberadaan Pasarean Astana Oetara sebagai peristirahatan terakhir K.G.P.A.A. Mangkunegara VI (Mangkunegara VI) yang memerintah di Kadipaten Mangkunegaran antara 1896-1916 ini memiliki banyak keunikan yang dapat diangkat sebagai salah satu potensi wisata religi di kawasan Surakarta utara. Keunikan itu mengenai sosok Mangkunegara VI dan nilai-nilai yang dapat dikembangkan salah satunya dukungan Mangkunegara VI terhadap pergerakan nasionalisme

Cipto Mangunkusumo dalam sebuah artikelnya yang membahas mengenai Mangkunegara VI, menyatakan bahwa Mangkunegara VI merupakan sosok yang anti terhadap kolonialisme Belanda, bahkan jauh sebelum beliau bertahta (Sidamukti, 1965). Pemerintah kolonial Belanda merasa curiga dengan surat pensiun yang diajukan oleh Mangkunegara VI pada tahun 1912. Meskipun anaknya, RM Suyono tidak dapat menggantikannya dan bertakhta di Mangkunegaran, sebenarnya Mangkunegara VI masih tetap dapat melanjutkan pemerintahannya sampai wafat (Ardhie, 2021: 140).

Mangkunegara VI oleh pemerintah kolonial Belanda juga dicurigai memiliki potensi untuk tidak setia karena simpatinya kepada gerakan nasionalisme Indonesia yang sedang tumbuh subur pada waktu itu.  Bukan saja anaknya, RM Suyono, Mangkunegara VI juga diketahui ikut membantu organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo. Mangkunegara VI juga telah lama menjadi pelanggan setia surat kabar Bintang Hindia, koran bumiputera yang menyuarakan ide-ide tentang kemajuan bagi masyarakat bumiputera (Sidamukti, 1965).

Peran dan aktivitas Mangkunegara VI yang mendukung gerakan nasionalisme Indonesia ini oleh pemerintah kolonial Belanda dianggap sebagai musuh dan berpotensi mengganggu jalannya pemerintahan. Konflik antara Mangkunegara VI dan pemerintah kolonial, dalam hal ini Residen Surakarta, inilah yang disinyalir menjadi salah satu penyebab mundurnya beliau dari takhta. Mangkunegara VI memilih untuk melawan pemerintah kolonial dengan cara menolak kerjasama dengan pemerintah dan keluar dari lingkaran feodal untuk berpindah ke kota Surabaya dan menjadi pedagang sampai wafat pada tahun 1928.

Untuk menjadikan Astana Oetara sebagai salah satu potensi destinasi wisata religi (minat khusus) maka diperlukan sebuah kajian guna mengkaji kemungkinan Makam Astana Oetara sebagai destinasi untuk meningkatkan daya tarik wisatawan mengunjungi Kota Surakarta. PT. Kirana Adhirajasa Indonesia, selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Dinas Pariwisata Kota Surakarta dan pihak yang telah membantu dalam penyusunan kajian pariwisata ini. Diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam perencanaan dan pengembangan daya tarik wisata Kota Surakarta.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kajian atau konsultasi Pariwisata dapat menghubungi Admin kami di 081215017910.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *