Raja Mataram dan Makhluk-makhluk Spiritual

Raja Mataram dan Makhluk-makhluk Spiritual – Ketika Danang Sutawijaya, anak angkat dari Sultan Pajang, mendapatkan wahyu bahwa ia akan menjadi penerus takhta kerajaan Jawa, ia dinasihati oleh Ki Juru Mertani agar melakukan perjalanan ke tempat yang dianggap sakral. Ki Juru Mertani berangkat ke Gunung Merapi, sementara Danang Sutawijaya pergi ke Laut Selatan Jawa. Ketika sedang bersemedi di pinggir pantai, lautan mengalami guncangan dan terjadi huru-hara di kerajaan bawah laut. Ada versi yang mengatakan bahwa Danang Sutawijaya juga pergi ke Gunung Merapi dan membuat kawahnya bergejolak (Sumadi, 2004, p. 46). Di tempat sakral tersebut Sutawijaya bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa makhluk halus di seluruh Pulau Jawa, yang bertakhta di Laut Selatan Jawa. Mereka berdua jatuh hati dan mengikat janji untuk saling membantu dalam menyelenggarakan kerajaan. Sebagai istri, Kanjeng Ratu Kidul berjanji akan membantu dan menjaga Kerajaan Mataram dan seluruh raja-raja penerus Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati.

Sebagai tanda cintanya, Kanjeng Ratu Kidul memberikan sebuah telur yang disebut endhog jagad atau telur dunia untuk dimakan oleh Panembahan Senopati. Atas nasihat dari Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati tidak memakan telur itu agar tidak berubah menjadi makhluk halus seperti Kanjeng Ratu Kidul. Akhirnya, sang raja memberikan telur itu kepada abdinya yang bernama Ki Juru Taman. Dalam beberapa sumber seperti Serat Sri Nata: Babad Tanah Jawi (Dipomenggolo, 2015, p. 360) dan Serat Sakondar (Ricklefs, 1974 via Schlehe, 1996, p. 395), Ki Juru Taman sebenarnya adalah seorang bangsawan Belanda atau Spanyol bernama Baron Kasender atau Baron Sekeder yang menjadi abdi Panembahan Senopati setelah gagal membunuh sang raja.

Baca juga : Menyelusuri Keindahan dan Keunikan Museum Zoologi Bogor

Setelah memakan telur dunia, Ki Juru Taman berubah menjadi makhluk halus berwujud raksasa buruk rupa. Agar tidak menanggung malu, Panembahan Senopati pun mengutus Ki Juru Taman untuk pergi ke Gunung Merapi dan menjadi penjaganya dengan gelar Kyai Sapujagad atau ada juga yang menyebutnya Eyang Panembahan Sapu Jagat (Permana, 2020, p. 247). Ia ditugaskan untuk memimpin pasukan makhluk halus di Merapi dan memastikan bahwa Mataram terlindung dari bencana Merapi. Sebagai imbalan atas jasanya, setiap tahun utusan Kerajaan Mataram mengadakan ritual labuhan dan memberikan sesaji berupa makanan, pakaian, dan hal-hal lain yang dibutuhkan oleh Kyai Sapujagad. Hal ini kemudian dilakukan juga bagi makhluk-makhluk halus penguasa tempat-tempat sakral lainnya di berbagai penjuru kerajaan, yakni Kanjeng Ratu Kidul di Laut Selatan, Kanjeng Sunan Lawu di Gunung Lawu, dan Sang Hyang Pramoni di Kayangan nDlepih (Twikromo, 2006, pp. 103–104; Wirasanti, 2009, p. 578).

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di+62 812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *