Rintisan Kelurahan Budaya Tegalpanggung

Rintisan Kelurahan Budaya Tegalpanggung, Salah Satu Kelurahan Penyangga Kebudayaan di Sekitar Malioboro – Kelurahan Tegalpanggung merupakan salah satu dari 3 (tiga) kelurahan yang ada di Kemantren Danurejan, dibentuk berdasarkan Perda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor  06 Tahun 1981 tentang Pembentukan, Pemecahan, Penyatuan dan Penghapusan Kelurahan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun untuk nomor kode wilayah adalah 34.71.04.02 dengan kode pos 55212.

Lokasi kantor Kelurahan Tegalpanggung terletak di Jalan Tukangan 51 A Kelurahan Tegalpanggung Yogyakarta sekitar 2 km dari Pusat Pemerintahan Kota Yogyakarta. Kelurahan Tegalpanggung  bagian barat dilalui Sungai Code sebagai batas dengan Kelurahan Suryatmajan. Kelurahan Tegalpanggung memiliki luas wilayah lebih kurang 0,35 km persegi dan terbagi dalam 16 RW, 66 RT serta terdiri atas 5 (lima) kampung yaitu Kampung Ledok Tukangan, Tukangan, Tegal Kemuning, Tegalpanggung, dan Juminahan.

Potensi kesenian yang ada di Kelurahan Tegalpanggung antara lain kelompok tari dan Musik Mudo Prakoso, Gejlog Lesung Ngudi utomo laras, Slendro Look, Jathilan Gedruk Bumi, Keroncong Surya Mataram , Ketoprak Letu Budoyo, Teater Anak New ONE, Reyog Suro Menggolo, Barongan, Keroncong Inspirasi, Tradisi Ziarah Ari-ari, Lampah Ratri dan Bergodo Tegal Siyogo. Kemudian untuk upacara dan tradisi yang ada di Kelurahan Tegalpanggung antara lain ziarah ari-ari, lampah ratri, tahlilan, supitan, apeman, dan brokohan

Untuk peninggalan Warisan Budaya yang ada di Kelurahan Tegalpanggung terdapat gedung SMP BOPKRI 1, Kantor Pos Indonesia, dan Rumah Dewo Broto.

SMP BOPKRI 1
Kantor POS
Rumah Dewo Broto

 

Bangunan SMP BOPKRI I pada mulanya merupakan HCS (Hollandsche Chineesche School), yang didirikan tahun 1917 di kampung Gemblakan.  Di Yogyakarta, sekolah HCS pertama kali didirikan pemerintah Belanda tahun 1912 di kampung Gondekan. Bangunan SMP BOPKRI I ini menunjukkan ciri khas model arsitektur Indis, yaitu perpaduan antara arsitektur lokal Jawa dengan arsitektur gaya Belanda. Gaya arsitektur Jawa dapat dilihat dari bentuk limasan dan penggunaan unsur kayu. Sedangkan model arsitektur gaya Belanda ditunjukkan dengan penggunaan material batu bata berspesi dan lantai tegel. Nilai penting arkeologis dari bangunan ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan Kawasan Danurejan serta Lempuyangan. Pada tahun 1899 pembangunan jalur jalan sudah mencapai daerah Lempuyangan.
Baca juga : Rintisan Kelurahan Budaya Purbayan

Demikian artikel ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *