Rodat

Desa Wukirsari terdapat beberapa kelompok kesenian rakyat bernuansa Islam kesenian tersebut adalah Rodat. Terhitung ada enam kelompok Rodat yang terdaftar di Balai Desa Wukirsari. Kelompok ini terdiri dari Shalawat Rodat Sindet, Al-A’la, Rauchotul Jannah, Saroful Anam, Fauqiyah, dan Nurul Hidayah. Rodat Wukirsari termasuk salah satu kesenian yang masih dijalankan sampai sekarang, meski tidak keseluruhan aktif dikarenakan terhenti oleh keadaan pandemi. Rodat adalah salah satu kesenian bernuansa Islam karena di dalamnya terdapat elemen- elemen agama Islam. Unsur musik dan syair yang dibawakan yang terdiri dari terbang dan jidor serta syair dari kita Al- barjanzi merupakan bentuk pujian kepada Allah SWT dan Rasullullah Muhammad SAW. Begitupun unsur gerakannya merupakan salah satu adapatasi dari beberapa gerakan ibadah dan sebagai bentuk fitrah manusia ketika mendengar shalawat dan menyambut kehadiran Nabi Muhammad SAW. Gaya berbusana yang diadaptasi oleh kelompok Rodat juga merupakan salah satu unsur Islam dimana menggunakan pakaian yang rapih dan seperti akan melakukan ibadahnya.

Masyarakat sangat menerima dan terbuka dengan adanya kelompok kesenian Rodat ini. Selain memang sudah dijaga secara turun temurun kesenian ini juga menjadi sarana berdakwah bagi masyarakat. Berdakwah melalui media seni salah satunnya yaitu dengan Shalawat Rodat yang diharapkan mampu mengajak manusia untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan yang tidak baik. Rodat tidak hanya menjadi kesenian dan media dakwah saja untuk Desa Wukirsari tapi memiliki fungsi sebagai sebuah kesenian seutuhnya, sehingga bisa saja untuk kegiatan acara masyarakat. Selain itu fungsi Rodat sebagai salah satu media slitaruhami bagi setiap anggotanya.

Proses pelestarian dari Rodat ini melalui cara turun temurun dan ajakan terbuka saja. Tidak ada unsur paksaan atau keharusan dari setiap orang untuk mengikuti Rodat, semua akan didasarkan pada panggilan jiwa dan kesadaran masing- masing. Melalui proses latihan yang dilakukan berpindah dari rumah tiap anggota ini adalah upaya menjalin silaturahmi dan proses untuk mengenalkan Rodat kepada anak dan keluarga. Rodat adalah bentuk kesenian dengan berbagai bentuk pendekatan baik antar manusia, manusia dengan Sang Pencipta ataupun manusia dengan alam. Bentuk ini merupakan ungakapan yang tidak bisa disampaikan secara langsung melainkan memiliki nilai emosional.

Baca Juga : BUKU PANDUAN WISATA KULINER SURAKARTA TAHUN 2018

Rodat merupakan seni pertunjukan rakyat dengan nuansa Islam dengan diimbuhi syair-syair yang diambil dari kitab Al Barzanji. Selain syair lagu ada pula elemen-elemen Rodat yaitu musik, gerak, penari dan ditambah pula properti-properti yang turut ada guna membuat Rodat menjadi lengkap. Kata Rodat sendiri memiliki 2 arti, pertama Rodat berasal dari kata Irodat, salah satu sifat Allah yang berarti berkehendak, adapula yang mengatakan dari kata raudah atau taman nabi yag terletak di masjid Nabawi, madinnah. Kedua, kata Rodat dalam bahasa Jawa yang berarti Ro adalah Weruho dan dat yang berarti adalah sahadat, jika digabungkan menjadi salah satu kata yaitu Rodat yang artinya weruho kalimat sahadat. Sedangkan menurut Kiyai Ahmad Zabidi  Rodat diambil dari bahasa arab yang artinya lenggak lenggok, rodat adalah merupakan hasil budaya manusia yang menggambarkan nurani atau fitrah manusia. Salah satu makna yang bisa diambil dari Rodat ini bisa dilihat dari kegiatan Majemukan Dusun Karangkulon yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2022 lalu. Majemukan yang dilaksanakan di Kawasan Desa wukirsari merupakan sebuah atraksi budaya ahunan yang sangat di nanti. Kegiatan ini merupakan sebuah wujud syukur masyarakat kepada Yang Maha Kuasa atas segala berkah selama setahun, terutama berkah hasil panen, sebab mayoritas penduduk awalnya bekerja sebagai petani. Kegiatan ini akhirnya menjadi tradisi yang diwariskan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya yang biasanya diawali dengan arak-arakan gunungan, umpeng ingkung, serta diakhiri dengan pengajian hingga tengah malam suntuk.

Kegiatan Majemukan ini juga menjadi salah satu upaya ajakan untuk masyarakat untuk lebih giat dalam bersedekah. Dalam kegiatan ini dilakukan pembagian nasi bungkus dan gunungan yang merupakan hasil bumi yang akan dibagikan kepada masyarakat. Acara ini sangat disambut antusias oleh masyarakat karena selain mendapatkan keberkahan juga menjadi seperti pesta rakyat untuk masyarakat dusun khususnya.  Gunungan ini merupakan simbol dari bentuk syukur masyarakat atas berkah panen yang diberikah oleh Allah.

Kesenian rodat masih bisa tetap bertahan sampai saat ini dikarenakan adanya perhatian serta upaya dari para anggota kesenian rodat tersebut. Upaya yang telah dilakukan oleh anggota kesenian rodat rukun santosa adalah membuat variasi baru agar banyak penonton yang berminat menonton kesenian rodat ketika tampil nantinya. Variasi atau perubahan ini terjadi juga karena adanya perubahan yang bersumber dari modernisasi dan globalisasi. Salah satunya adalah variasi yang dilakukan kelompok syaroful anam dimana untuk ketukan dan irama lebih bertempo cepat. Hal ini juga salah satu variasi yang dilakukan untuk mempercepat dalam satu kali penampilan agar tidak membosankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *