Sejarah Penciptaan Tari Beksan Panji Sekar

beksan

Tarian ini sudah cukup lama, hampir 300 tahun diciptakan pada masa HB I antara tahun 1770-1792.  Masa-masa itu HB I yang  juga dikenal  sebagai  Pangeran Mangkubumi pendiri Kraton Kasultanan Yogyakarta menciptakan tarian-tarian atau beksan, menjadi tonggak sejarah karena dengan berdirinya Kraton Yogyakarta maka perlu ada kelengkapan2 yang bersifat budaya upacara adat, busana tradisional, juga seni-seni pertunjukan tradisional bergaya Yogyakarta, sering disebut seni gaya Mataraman yang berbeda dengan gaya Surakarta.

Pangeran Mangkubumi ketika mudanya dikenal sebagai seorang pemberani anti Belanda, melakukan perlawanan kepada Belanda, patriotik, dikejar-kejar Belanda. Dari daerah Sukowati di Sragen, Surakarta, sampai ke daerah Yogyakarta, Kedu, Magelang, di gunung Tidar Magelang itu juga ada sejarah Mangkubumi.  Ketika beliau menjadi raja pertama, lalu memprakarsai tari-tarian istana yang dibantu pepatih dalem dan empu-empu kesenian di kraton saat itu, diciptakan kesenian yang masih terpengaruh oleh jiwa patriotik. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar HB I mencipta tari-tari bertemakan peperangan tetapi bukan peperangan, hanya latihan berperang. Dengan menggunakan sodor penari 16, Beksan Tuguwasesa, beksan Panji Sekar. Beksan Panji Sekar menggunakan keris dan jemparing (panah), maka sering disebut beksan jemparingan.

Cerita Panji adalah asli dari Jawa, yang diilhami oleh pembagian atau pembelahan wilayah antara sebelah timur sungai Berantas yang disebut ‘Jenggala’ dan sebelah barat sungai Berantas yang dikenal bernama ‘Panjalu’ pada tengah pertama abad 11, atau tepatnya antara tanggal, 20-24 Nopember 1042 menjelang turun tahtanya Raja Erlangga. Dua putra Raja Erlangga kemudian menjadi raja dan penguasa di masing-masing wilayah tersebut.  Sri Maharaja Mapanji Garasakan adalah raja pertama di Jenggala, dan Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttungga Dewa raja pertama di Panjalu.

Dua raja kakak beradik tersebut terus berselisih paham dan bermusuhan, yang mengakibatkan   terjadinya   peperangan   berlarut-larut   antara   Jenggala   melawan Panjalu. Pada tahun 1135, setelah mengalami tiga kali pergantian raja kerajaan Jenggala dapat dihancurkan oleh raja Panjalu yang bernama Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya (Muljana, 2006: 22-26). Nama Panjalu sebagai wilayah kerajaan di kemudian hari dikenal pula bernama ‘Daha’, dan terakhir lebih popular dengan sebutan ‘Kediri’. Jenggala sebagai nama kerajaan kembali dikenal dalam cerita Panji bersama dengan Kediri sebagai suatu kerajaan yang dalam sejarah bernama Panjalu.

Jenggala dan Kediri dalam cerita Panji dikisahkan sebagai dua kerajaan yang dipimpin oleh dua raja kakak beradik yang berbesanan. Dua raja bersaudara tersebut adalah Miluhur (raja Jenggala), dan adiknya bernama Mangarang (raja Kediri). Berdasarkan cerita Panji versi ‘Serat Kandha’, mereka adalah putra Raja Jenggala bernama Dewakusuma. Putra-putri Raja Dewakusuma seluruhnya ada lima, yaitu; (1) Rara Kili, yang tidak bersuami dan menjadi pendeta, (2) Miluhur, putra mahkota yang kelak   menjadi   raja   Jenggala, (3)   Mangarang   atau   dikenal   bernama   Lembu Mangarang, nantinya menjadi raja Kediri, (4) Midadu, kemudian menguasai daerah Gegelang, dan (5) seorang putri bernama Wragilwangsa yang kawin dengan bupati Singasari bernama Lembu Mijaya (Poerbatjaraka, 1968: 84-85) (Sumaryono, 2014).

Dalam hal ini, putra mahkota Jenggala yang bernama Panji Inu Kartapati alias Asmarabangun (putra Miluhur) dijodohkan dengan putri ‘Sekar Kedhaton’ Kediri yang bernama Dewi Sekartaji atau bernama lain Dewi Candrakirana (putri Mangarang). Nama ‘Candrakirana’ dapat dikaitkan dengan sejarah kerajaan Panjalu pada tengah kedua abad 12 (Tahun 1185). Pada waktu itu raja Panjalu ke-10 yang bernama Sri Maharaja Kameswara Triwikrama Awatara Aniwariwirya Parakrama Digdaya Uttungga Dewa memiliki permaisuri bernama  Dewi  ‘Sasikirana’  yang berasal dari Jenggala. Kata ‘Sasi’ memiliki arti ‘bulan’ atau ‘candra’, yang dapat dihubungkan dengan nama putri ‘Sekar Kedhaton’ Kediri dalam cerita Panji, yaitu Dewi ‘Candrakirana’.

Slamet Muljana mengutip pendapat Poerbatjaraka, yang menjelaskan bahwa pada masa-masa sesudah perkawinan raja Panjalu ke-10 dengan Dewi Sasikirana dari Jenggala inilah dianggap sebagai titik tolak munculnya cerita Panji (Muljana, 2006: 43). Berdasarkan data-data inilah maka kemunculan cerita Panji diperkirakan antara akhir abad 12 sampai dengan awal abad 13. Pada masa kejayaan kerajaan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) antara tahun 1350-1389 (sampai tengah kedua abad 14), cerita Panji sudah popular dalam bentuk-bentuk seni pertunjukan. Kisah Panji dalam bentuk relief juga dipahatkan pada suatu bangunan suci berundak (tengah kedua abad 15) di  Gunung  Pananggungan,  Jawa  Timur,  yang menggambarkan Raden Panji sedang memangku istrinya. Di dekat Gunung Pananggungan pula pernah ditemukan arca bentuk kepala kesatria dengan hiasan rambut di kepala menyerupai helm yang merupakan ciri khas pada tokoh-tokoh Panji (Claire Holt, 2000/1967: antara 114-115, foto no.70 dan 71).

Bentuk hiasan rambut seperti helm pada tokoh-tokoh dalam cerita Panji itulah yang kemudian disebut tekes.  Pada periode Majapahit antara tahun 1350 sampai dengan tahun 1519, sebagai tahun berakhirnya kerajaan Majapahit, dapat diduga bahwa cerita Panji juga sudah dikenal luas sebagaimana epos Mahabarata dan Ramayana. Cerita Panji, Ramayana, dan Mahabarata pun tetap dikenal seiring dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak (1500-1550) (Abimanyu S, 2013:295).

Pada periode Demak inilah lahir berbagai repertoar seni pertunjukan dengan merujuk pada cerita Mahabarata, Ramayana, dan Panji. Repertoar-repertoar seni pertunjukan tersebut di ataslah dapat dianggap sebagai rintisan atau pembentukan repertoar-repertoar seni pertunjukan gaya Jawa Tengah. Sehubungan dengan hal tersebut H.J. De Graaf dan Th. Pigeaud menjelaskan, bahwa bagian-bagian penting dari perkembangan peradaban Jawa Islam sejak abad 17, seperti wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang maca pat, dan pembuatan keris, dalam sumber- sumber sejarah tradisional dianggap sebagai penemuan para wali yang hidup seiring dengan periode kerajaan Demak. Pada awal masa itu disebut sebagai permulaan awal perkembangan kesenian Jawa ‘modern’ (De Graaf, 2003: 80). (Sumaryono, 2014: 77).

Kisah Panji berasal dari sekitar abad ke-13 dan menandai perkembangan sastra kebudayaan Jawa yang sebelumnya dipengaruhi oleh kebudayaan India. Kisah Panji berlatar kerajaan Jawa, yaitu  Kuripan,  dan  Daha.  Di dalamnya  terdapat  kisah pencarian  Panji  terhadap  kekasihnya,  Candra  Kirana.  Kisah ini  berisi  selingan berbagai petualangan Panji dalam melakukan penyamaran dengan menggunakan berbagai nama yang berbeda sampai akhirnya Panji dan Candra Kirana bersatu kembali.

Pada masa kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14 hingga ke-15, kisah Panji sangat terkenal. Sosoknya terukir di relief candi. Di relief tersebut, Panji memakai topi khas Jawa. Dongeng Panji bahkan menjadi pertunjukan  yang selalu dinanti- nantikan dalam acara “Wayang Gedog”.

Kisah Panji juga terdapat dalam manuskrip Jawa. British Library bahkan menyimpan delapan manuskrip Jawa tentang kisah Panji dan manuskrip itu tercantum dalam katalog Ricklefs & Voorhoeve, di antaranya “Panji Kuda Waneng Pati” (Add. 12319), “Serat Panji Kuda Narawongsa” (Add.12333), “Serat Panji Murdaningkung” (Add. 12345), “Panji Angreni” (MSS Jav 17) dan “Panji Jaya Kusuma” (MSS Jav 68).

Kisah Panji tidak hanya terdapat dalam sastra Jawa, tetapi juga sastra Bali, Melayu, dan daratan Asia Tenggara, yakni versi Thailand, Laos, Khmer, dan Burma. Dalam cerita versi di luar Nusantara tersebut, nama Panji adalah Inao. Nama itu, dalam bahasa Jawa, disebut sebagai Raden Inu Kartapati.

Kisah Panji pada awal abad ke-15 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu sehingga pengaruhnya terlihat dalam teks “Sejarah Melayu” dan “Hikayat Hang Tuah”. Kisah Panji pun terdapat dalam banyak manuskrip yang berbahasa Melayu yang  berasal  dari  negara  bagian  Kelantan  dan  Kedah  di  Semenanjung  Utara, Malaysia. Di tempat tersebut pertunjukan wayang kulit sangat terkenal dan kisah yang dibawakan sebagian besar adalah kisah Panji.

Sketsa Panji dengan ciri khasnya, yakni mengenakan topi bundar, ditemukan dalam naskah Melayu “Hikayat Dewa Mandu” yang disalin di Semarang, 1785. Naskah itu tersimpan di British Library dengan nomor panggil Add. 12376, f. 219r. Perpustakaan tersebut menyimpan sepuluh manuskrip Melayu yang berisi kisah Panji atau dongeng yang berkaitan dengan kisah tersebut dan telah didigitalisasi (https://blogs.bl.uk/asian-and-african/2015/06/panji-stories-in-malay.html).

Manuskrip dongeng yang berbahasa Melayu tersebut adalah “Hikayat Cekel Waneng Pati” dengan nomor panggil MSS Bahasa Melayu C 1.

Dalam kisah “Cekel Waneng Pati” dikisahkan bahwa Panji menjalani banyak cobaan untuk mendapatkan kembali cinta Raden Galuh Candra Kirana. Dikisahkan bahwa Panji menangkap rusa yang bertanduk emas, memecahkan teka-teki, menyembuhkan penyakit Candra Kirana, dan mengalahkan penjahat yang berjanggut hitam. Dikisahkan pula bahwa Panji mengalami sakit dan kemudian disembuhkan oleh putranya, Mesa Tandraman, yang memperoleh sekuntum bunga darah surgawi dari dada bidadari. Panji juga memenangi berbagai pertempuran hingga akhirnya hidup bahagia selamanya.

Tidak dapat dipungkiri   cerita Panji yang berasal dari masa kerajaan Kadiri abad 11 dan kemudian digubah pada jaman kejayaan Majapahit awal abad ke 15 terbukti   telah   tersebar   di   berbagai   wilayah   Indonesia:   Jawa,   bali,   Lombok, Palembang, Banjarmasin, bahkan sampai ke Malaka, Kamboja, dan Thailand (Murgiyanto, 2014: 224).

Sri Sultan Hamengku Buwana I merupakan seorang raja yang mumpuni. Beliau menguasai bidang politik, militer dan kebudayaan, termasuk kesenian. Pada jaman beliau   bertahta,   beliau   juga   menciptakan   beberapa   tarian,   khususnya   yang disebut Beksan  Sekawanan.  Tarian  ini  dibawakan  oleh  4  (empat)  penari  putra, sehingga disebut sekawanan yang asal katanya adalah sekawan yang berarti empat. Tari  yang  dibawakan  oleh  4  penari  putri  disebut  Srimpi.  Cerita  dalam Beksan Sekawanan diambil dari cerita Panji. Meskipun Beksan    Sekawanan ada    yang    berupa    tarian gagah ada    yang tarian alus, namun struktur pementasannya sama. Secara umum strukturnya adalah dimulai     dengan sembahan di     belakang     pinggir, tayungan ke     tengah     lalu maju, ndhadhap,  sila,  jèngkèng. Sembahan dimulai  dengan seduwa  dhengkul  kiwa, sabetan,  nyembah.  Untuk  alusan,  di  antara  gerakan sembahan dan nyembah ada gerakan miwir kedua tangannya. Setelah sembahan lalu jogèdan di tengah, kemudian berhadap-hadapan dan mundur ke pinggir. Dari pinggir penari akan tayungan maju ke tengah.     Di     tengah capeng, ènjèran,     perang,     menari, tayungan ke pinggir, menari, jèngkèng dan selesai.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *