SENI JATHILAN LANCUR : IDENTIFIKASI, BENTUK, FUNGSI, DAN PERKEMBANGANNYA

SENI JATHILAN LANCUR – Jathilan adalah salah satu dari sekian banyak jenis kesenian tradisional yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam penampilannya kesenian jathilan menggunakan properti kuda képang. Pertunjukan jathilan ditampilkan dengan mengambil cerita roman Panji. Namun dalam perkembangannya, kini jathilan tidak hanya bertumpu pada cerita roman Panji, tetapi dapat pula mengambil setting cerita wayang (Mahabarata atau Ramayana) dan legenda rakyat setempat. Kesenian jathilan banyak tumbuh dan berkembang di pelosok desa yang sering dikaitkan atau dihubungkan dengan kepercayaan animistik. Hal ini dapat dilihat dari pementasan jathilan yang secara umum, pada bagian akhir pertunjukannya menghadirkan adegan trance (ndadi). Konsep trance ini sebenarnya merupakan bagian dari sebuah acara ritual, yang dalam pandangan Daniel L. Pals merupakan rangkaian upacara ritual pada klen tertentu. Keterkaitan upacara ritual dengan komunitas itu menghasilkan pola-pola tradisi yang sudah ada dan hidup di masyarakat dengan ciri kesederhanaan, seperti yang dimiliki kesenian jathilan. (Th. Pigeaud, Javaanse Volksvertoningen. Batavia: Volkslectuur,1938 : 316). Dijelaskan di sini bahwa cerita Panji berasal dari wayang Gedhog, yang kemudian dikaitkan dengan tari topeng yang pada mulanya berdiri sendiri. Namun bagian dari cerita Panji itu kemudian digunakan untuk pertunjukan Barongan dan Jaran Kepang.

Secara fungsional kesenian jathilan memiliki peran yang penting dalam kehidupan masyarakat, sebagai bagian dari kegiatan sosial, yang lebih dikenal sebagai sarana upacara, seperti merti désa atau bersih desa. Keberadaan jathilan dalam acara merti désa memberikan efek sosial bagi masyarakat pendukungnya sebagai sarana gotong royong. Nilai-nilai gotong royong di balik kesenian jathilan ini tercermin dalam upaya untuk saling memberi dan melengkapi kekurangan kebutuhan artistik, misalnya pengadaan instrumen, tempat latihan, hingga pengadaan kostum.5 Dampak dari interaksi antar-individu tersebut maka terbentuk sistem nilai, pola pikir, sikap, perilaku kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga, dan lapisan atau stratifikasi sosial. Perkembangan seni jathilan di Jawa seperti diungkap Pigeaud, pada awalnya merupakan sarana upacara (ritual). Fungsi tari tradisional ketika itu untuk kepentingan dan sekaligus merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang diadakan demi keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat.

 

 

JATHILAN LANCUR

Di Daerah Istimewa Yogyakata, kesenian Jathilan banyak variannya. Salah satu jenis jathilan adalah Jathilan Lancur.   Kesenian ini memasuiki  generasi ke- 4 yang berada di dusun Ngemplak Rt.01/Rw.15 Sendangmulyo Minggir Sleman.  Sejak  tahun 1966 atau generasi pertama Paguyuban Kesenian Jathilan telah dirintis oleh para pecinta kesenian jathilan diantaranya; Bpk Mentoikromo, Bpk Pawiro Gino, Bpk Paijo, Bpk Muh, Bpk Pawiro Utomo dan Bpk Wito Harjono,  kemudian dilanjutkan oleh generasi ke-2 pada tahun 1970-an diantaranya; Bpk.Purwodiyanto, Bpk.Noto Harjono, Bpk Gisan, Bpk Tokol, Bpk.Gudik dan Bpk.Mardi,  sedangkan generasi ke-3 pada tahun1979-an diantaranya ; Bpk.Sugi Purwanto, Bpk.Sukidi, Bpk.Kasdi, Bpk.Badri, Bpk.Sukimin dan Bpk. Mujimin. Karena rasa kerinduan akan budaya jawa adiluhung yang semakin menghilang dari dunia hiburan yaitu kesenian jathilan lancur . Istilah Lancur diambil dari asesories yang dipakai   dibagian tutup kepala (udheng) yang terbuat  dari  bulu panjang ayam jantan. Saat ini  generasi ke-4 mengangkat kembali kesenian jathilan Lancur yang diresmikan pada tanggal 25 Agustus 2013 dengan nama “TURONGGO LANCUR JATI”.

Baca juga : Profil Desa Wisata Sumberbulu Kabupaten Karanganyar

Kesenian jathilan Lancur merupakan kesenian jathilan yang pertama kali (jathilan tradisional/klasik) atau cikal bakal kesenian jathilan yang sekarang ada dan sudah berkembang dengan istilah jathilan kreasi. Dengan kostum/pakaian sederhana (baju putih, celana tari, jarik, sampur, stagen,kamus ) dilengkapi kuluk dengan hiasan bulu ayam atau lancur dan alat peraga lainnya seperti kuda kepang, barong,topeng wewe merupakan ciri khas dari jathilan lancur. Sedangkan iringan atau gamelan yang digunakan adalah gendang, bende, angklung dan bem. Sampai saat ini paguyuban kesenian jathilan TURONGGO LANCUR JATI beranggotakan 69 orang yang berasalkan dari warga Ngemplak dan sekitarnya.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelatihan kami, anda dapat menghubungi admin (0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *