Seni Kriya Tradisional dalam Tradisi Budaya Pandhalungan Kabupaten Jember

Kebudayaan Pandhalungan ialah salah satu kebudayaan Indonesia. Kebudayaan pandhalungan (Pandhalungan) mengarah pada wilayah di Provinsi Jawa Timur tepatnya pantai utara yang penduduknya rata-rata memiliki konotasi kebudayaan Madura. Masyarakat pandhalungan dinamakan hibrida, yaitu masyarakat yang mempunyai budaya baru sebab adanya perpaduan dua budaya menonjol. Orang Pandhalungan diketahui tidak suka berbasa-basi, apabila sadar tidak menyukainya, maka akan mengatakannya. Sebaliknya, dan apabila ada perasaan senang, maka akan segera mengungkapkannya. Orang Pandhalungan juga sering menerangkan perkataan kasar atau makian, baik dalam mengutarakan kekesalannya atau emosionalnya maupun untuk memberi kataselamat atauperasaansenang. Sikap sosial,sepertitata krama atau budipekerti orang Pandhalungan berpedoman pada nilai yang dijunjung berdasarkan dua kebudayaan yang menyelimutinya, yaitu kebudayaan Jawa dan Madura. Berdasarkan kebudayaan Jawa dan Madura terciptalah sebuah kesenian yang diberi nama kesenian patrol.

Kesenian musik alat Patrol ciri khas lantunan nada yang tidak mempunyai musik pop saat ini, sebab alat musik ini yang diciptakan berbahan dasar Bambusa sp, karena suara yang diperoleh bisa serasi dengan pendengar dan semesta. Patrol juga memiliki makna filosofis natural pada setiap detonasi bunyi yang di hasilkan. Apabila dipikirkansecara detail dan keseluruhan, musik tradisional tersebut berjuang membangunkan jiwa manusia dan alam semesta ialah satu kesatuan yang berkarakter saling menguntungkan. Keduanya mempunyai frasa yang sangat selaras. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti mempunyai daya tarik untuk menelitian terkait pengimplementasian seni kriya tradisional dalam tradisi budaya pandhalungan di daerah Jember.

Kesenian patrol secara transparan terbagi menjadi dua, yaitu seni kriya patrol dan batik. Seni kriya atau seni kerajinan ialah jalan seni rupa yang dilirik terutama dalam keahlian tangan daripada wujud ekspresi. seni kriya dapat terwujud dalam berbagai macam bentu, seperti patung, batik, kerajinan topeng dan lain-lain. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, seni kriya yang semula dibuat dengan tangan manusia, dalam perkembangannya sudah digantikan dengan alat maupun mesin.

Pelestarian kesenian patrol memiliki tujuan tidak hanya untuk melestarikan budaya saja, akan tetapi juga menjaga dan mengenalkan budaya Indonesia yang lebih luas lagi. Adapun faktor pendukung pelestarian budaya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan ekternal.

  1. Faktor internal, terdiri dari
    Keinginan seniman
    Keinginan pengrajin
    Sumber pendapatan daerah
    Identitas daerah
  2. Faktor eksternal
    Dorongan dari pemerintah setempat
    Intensitas masyarakat dalam menanggapi peruntukkan
    Partisipasi masyarakat setempat

Penerapan kesenian patrol salah satunya adalah perwujudan karya seni kriya dalam seni pertunjukan budaya pandhalungan. Sebagaimana hasil wawancara dengan seniman patrol, bahwa implementasinya salah satunya adalah kolaborasi pertunjukan musik. Penggunaan alat-alat musik patrol untuk mengiringi pertunjukan. Implementasi kesenian patrol dalam bentuk alat musik seperti gamelan, tiktok, remo, kleter dan kontra di gunakan pada saat pertunjukan. Seni musik patrol ini di pakai untuk mengringi tarian yang dimana pesan yang disampaikan dapat di pahami. Dengan penari yang menggunakan kostum khusus yang telah ditentukan. Untuk pemain yang menggunakan kostum berwarna hitam atau gelap adalah laki-laki, sedangkan untuk perempuan menggunakan sewek atau kain batik dan hiasan sanggul atau mahkota kepala. Penggunaan sewek juga menggunakan motif khusus dengan corak pandhalungan.

Implementasi seni tradisional budaya pandhalungan sebelumnya ada pada penelitian yang dilakukan oleh Dian Ekasari yang membahas tentang penggunaan musik patrol pada budaya mapaaci. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa seni pertunjukan patrol diimplementasikan dan dikombinasikan dengan budaya budaya pandhalungan lain. Sehingga pada penelitian yang dilakukan sekarang, peneliti menguraikan bagaimana penerapan kesenian patrol dalam budaya pandhalungan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *