Serat Panji Sekar

Manuskrip merupakan koleksi langka yang dipunyai oleh setiap bangsa di belahan dunia. Masyarakat bisa mempelajari perjalanan hidup leluhurnya melalui naskah lama yang telah dianggit leluhurnya. Manuskrip sangat penting utuk dikaji dan dijaga kelestariannya karena ini merupakan jejeak sejarah yang sangat penting. Ini juga merupakan warisan masa lampau yang memuat pengetahuan yang berkaitan dengan realitas atau kondisi sosiokultural yang berlainan dengan kondisi sekarang.

Manuskrip juga mengandung informasi yang tak sembarangan dari bidang sastra, agama, hukum, adat istiadat, dan lannya. Informasi yang berada di manuskrip dapat membantu atau menjadi panduan bagi penekun sejarah maupun peneliti di bidang humaniora tatkala mempelajari topik yang dikajinya.  Contohnya adalah Serat Panji Sekar.

Serat Panji Sekar ini sudah dilaporkan oleh Yatini Wahyuningsih, SE, M.Si pada tanggal 28 Juni 2021 di Surakarta. Serat Panji Sekar ini dikarang oleh R.M. Panji Partakusuma. Serat ini dibuat pada akhir abad XIX dengan tebal halaman sebanyak 504 halaman, dan dipublikasikan tidak hanya di Surakarta, melainkan juga di Yogyakarta.

Naskah ini merupakan kumpulan syair berdasarkan pertunjukksn wayang gedhog karya I.S.K.S. Pakubuwana IV (1788-1820) dan disusun pada 1732 tahun Jawa (1805/1806 M). Serat Panji Sekar mengisahkan tentang petualangan Raden Ina Kertapati alias Panji yang menaklukkan pasukan Prabu Bramakurama. Ada juga kisah mengenai Dewi Galuh, istri Panji yang sempat dikira telah mati, sehingga membuat Panji setengah gila. Rupanya, Dewi Galuh tidak mati, melainkan berubah menjadi siput dan diangkat anak oleh seorang janda. Kemudian kisah Panji Dhadap, yakni R. Panji bertemu kembali dengan istrinya yang dikira mati, Dewi Galuh. Setelah kembali ke Daha, Panji pergi ke Jambi (secara magis), dimana, setelah beberapa rintangan, beliau diangkat menjadi raja dengan gelar Prabu Dhadap-wasesa.

Teks ini ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa sastra yang indah dengan menggunakan metrum macapat ini memuat nilai etika keselarasan sosial dan etika kebijaksanaan yang sangat padat. Nilai etika keselarasan sosial ini membahas tentang etika yang hubungannya dengan sikap, tingkah laku, dalam hal interaksi atau hubungan sosial dalam masyarakat. Nilai etika keselarasan sosial yang terdapat dalam cerita Panji Sekar ada tujuh indikator yang ditemukan dari tembang dhandanggula, kinanthi, mijil, gambuh, sinom, dan duduk wuluh. Kajian utama dalam etika kebijaksanaan diantaranya pitutur luhur, pesan ajaran hidup yang berpedoman pada pergaulan dalam masyarakat.

Sedangkan unsur-unsur estetika dalam cerita Panji Sekar karya Sunan Pakubuwono IV meliputi: basa peprenesan, basa rinenggo, bebasan, dasanama, kosok balen, paribasan, pepindhan, purwakanthi, tembung entar, tembung plutan, tembung saroja, ukara sesumbar, dan yogyaswara.

            Sampai sekarang serat ini masih bertahan dengan upaya pelestariannya dengan cara promosi secara langsung dan promosi secara lesan, atau dari mulut ke mulut. Adapun dokumentasinya berupa naskah, mikrofilm, dan foto digital.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *