SERAT PARAMASASTRA JAWI

Manuskrip merupakan koleksi langka yang dipunyai oleh setiap bangsa di belahan dunia. Masyarakat bisa mempelajari perjalanan hidup leluhurnya melalui naskah lama yang telah dianggit leluhurnya. Manuskrip sangat penting utuk dikaji dan dijaga kelestariannya karena ini merupakan jejeak sejarah yang sangat penting. Ini juga merupakan warisan masa lampau yang memuat pengetahuan yang berkaitan dengan realitas atau kondisi sosiokultural yang berlainan dengan kondisi sekarang.

Manuskrip juga mengandung informasi yang tak sembarangan dari bidang sastra, agama, hukum, adat istiadat, dan lannya. Informasi yang berada di manuskrip dapat membantu atau menjadi panduan bagi penekun sejarah maupun peneliti di bidang humaniora tatkala mempelajari topik yang dikajinya.  Contohnya adalah serat paramasastra jawi.

Serat paramasastra jawi ini telah didaftarkan oleh Yatini Wahyuningsih, SE M.Si pada tanggal 28 Juni 2021 di Surakarta. Serat ini ditulis pada tahun 1802-1873 di Surakarta dan berisi mengenai tata penggunaan bahasa jawa, khususnya fonetik dan makna setiap aksara. Serat ini dibuat pada sat masa pemerintahan Paku Buwana IV yang menunjukkan kepedulian keraton terhadap penggunaan bahasa Jawa, sekaligus dapat dimaknai sebagai upaya untuk melestarikan bahasa.

Menurut Nancy Florida, naskah ini merupakan tulisan Keraton Surakarta Kadipaten, gaya yang biasa ditemukan era pemerintahan Pakubuwana X (1893-1939). Kertasnya berwarna coklat. Manuskrip ini mengulas mengenai

  • Condraning Warni, yakni kumpulan metafora dan simile yang menggambarkan kecantikan wanita. Serat ini juga memuat contoh karya sastra jawa;
  • Condrasangkala: Sekar Kusumawicitra yang merupakan syair pengelompokan istilah kronogram Jawa dengan persamaan nomornya:
  • Codraning Kalihwelas menjelaskan 12 mangsa pada sistem kalender jawa;
  • Cangkriman ialah kumpulan teka-teki;
  • Rurabasa berisi kumpulan kumpulan ungkapan idiom dlam bahasa jawa;
  • Triwarna mengenai daftar kata jawa dalam 3 tingkatan bahasa seperti ngoko, krama, dan krama inggil;
  • Sanepa mengenai idiom dan alusio;
  • Saroja ialah gabungan dari 2 kata dengan makna yang sama;
  • Silihan mengenai penggunaan kata metafora;
  • Saloka berisi peribahasa dan perumpamaan Jawa;
  • Gadhenging Basa: Purwa, Madya, Wasana; Namaning Pujongga Namaning serat-serat Karanganipun perihal daftar pujangga jawa dan karyanya;
  • Layang:Namaning Serat Kawi Jarwa Karanganipunn Para Pujongga ing Jaman Kina sarta Ringkesaning Cariyosipun Satunggiling Serat Wau membeberkan karya sastra Jawa menurut abjad dengan catatan tentang pengarang dan isinya;
  • kawruh Dakon mengulas strategi bermain dakon;
  • Basa Walaka mengenai catatan tentang ilmu kalimat Jawa serta maknanya;
  • Buddha serat Rama Keling menceritakan perjalanan Rama menyeberang bersama pasukan monyet ke Ngalengka.

Sampai saat ini, serat ini masih bertahan dengan upaya pelestarian berupa promosi langsung dan promosi lesan atau dari mulut ke mulut. Untuk dokumentasi manuskrip ini berupa naskah, mikrofilm, dan foto digital.

Sampai sekarang serat ini masih bertahan dengan upaya pelestariannya dengan cara promosi secara langsung dan promosi secara lesan, atau dari mulut ke mulut. Adapun dokumentasinya berupa naskah, mikrofilm, dan foto digital.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *