SERAT PRIMBON

Manuskrip merupakan koleksi langka yang dipunyai oleh setiap bangsa di belahan dunia. Masyarakat bisa mempelajari perjalanan hidup leluhurnya melalui naskah lama yang telah dianggit leluhurnya. Manuskrip sangat penting utuk dikaji dan dijaga kelestariannya karena ini merupakan jejeak sejarah yang sangat penting. Ini juga merupakan warisan masa lampau yang memuat pengetahuan yang berkaitan dengan realitas atau kondisi sosiokultural yang berlainan dengan kondisi sekarang.

Manuskrip juga mengandung informasi yang tak sembarangan dari bidang sastra, agama, hukum, adat istiadat, dan lannya. Informasi yang berada di manuskrip dapat membantu atau menjadi panduan bagi penekun sejarah maupun peneliti di bidang humaniora tatkala mempelajari topik yang dikajinya.  Contohnya adalah serat parimbon.

Serat primbon ini mempunyai nama lain, yaitu Primbon Mangkuprajan yang mana sudah didaftarkan oleh Yatini Wahyuningsih, SE, M.Si pada tanggal 28 Juni 2021 di Surakarta. Manuskrip ini ditulis di Surakarta pada tahun 1785-1851 dan 1847 yang ditulis oleh K.R.A. Mangkupraja, seorang patih di era pemerintahan Paku Buwana IV. Mangkupraja menulis serat primbon ini dalam dua aksara, yakni jawa dan pegon. Kedua aksara tersebut menunjukkan kedekatan Jawa dengan Islam pada periode itu. Di dalamnya termuat 28 bagian yang mengisahkan mengenai keraton Kasunanan, sifat Allah, ajaran Tasawuf islam, hingga berbagai doa dan mantra pengobatan/pengasihan. Terdapat juga silsilah Sunan Kalijaga yang dirunut dari Nabi Adam. Dan si penulis juga menuliska kisah hidupnya yang diasingkan ke Banyumas. Tahun 1815 ia dijatuhi hukuman mati atas perintah Pakubuwana IV. Namun dalam naskah tersebut tidak disebutkan secara rinci kenapa dirinya bisa sampai dibuang hingga dijatuhi hukuman mati. setelah KRA Mangkupraja meninggal, posisi patihnya digantikan putranya bernama kra Sasradiningrat II, yang menjabat posisi patih sejak era Pakubuwana IV hinga Pakubuwana VII.

Nancy Florida dalam catatannya menyinggung, isi manuskrip ini antara lain;

  • Cathetan warna-warni tumrap ing karaton Surakarta, mengenai catatan lain-lain yang berkaitan dengan Karaton Surakarta, 1683-1740 th jawa (1757-1813 M)
  • Suluk sifat Kalihdasa, tentang 20 sifat Ilahi.
  • Azimat tuwin Donga, mengenai guna-guna, doa, dan mantra untuk tujuan memiliki kekuatan dan perlindungan tertentu, juga kebanyakan guna-guna dalam hal seksualitas (pengasih). Ditulis dalam pegon, dengan gambar rajah.
  • Ngelmu kang Girawamunga, tentang masalah tasawuf Islam-Jawa, terutama menyangkut penciptaan alam semesta dan dasar spiritual tubuh maanusia, termasuk diskusi tentang sinar, dunia, dan samudra yang meliputi bagian tubuh manusia.

Sampai saat ini, manuskrip ini masih bertahan dengan upaya pelestariannya berupa promosi langsung dan juga promosi melalui mulut ke mulut (promosei lesan). Kini dokumentasi itu berupa naskah, mikrofilm, dan foto digital.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *