Serat Sangkala Kadhaton

manuskrip

Manuskrip merupakan koleksi langka yang dipunyai oleh setiap bangsa di belahan dunia. Masyarakat bisa mempelajari perjalanan hidup leluhurnya melalui naskah lama yang telah dianggit leluhurnya. Manuskrip sangat penting utuk dikaji dan dijaga kelestariannya karena ini merupakan jejeak sejarah yang sangat penting. Ini juga merupakan warisan masa lampau yang memuat pengetahuan yang berkaitan dengan realitas atau kondisi sosiokultural yang berlainan dengan kondisi sekarang.

Manuskrip juga mengandung informasi yang tak sembarangan dari bidang sastra, agama, hukum, adat istiadat, dan lannya. Informasi yang berada di manuskrip dapat membantu atau menjadi panduan bagi penekun sejarah maupun peneliti di bidang humaniora tatkala mempelajari topik yang dikajinya.  Contohnya adalah serat sangkala kadhaton.

Serat sangkala kadhaton ini juga biasa disebut dengan Babad Sangkala. Ini telah dilaporkan oleh Yatini Wahyuningsih, SE, M.Si pada tanggal 28 Juni 2021 di Surakarta. Serat Sangkala Kadhaton ini menjelaskan tentang sejarah panjang Kerajaan Jawa. Tidak diketahui siapa pengarang serat ini, tetapi diperkirakan bahwa serat ini disusun di Surakarta pada permulaan abad ke XIX. Disebutkan oleh Nancy  K,Florida, seorang filolog jawa asal Cornell University bahwa serat sangkala kadhaton ini mengisahkan jatuhnya Majapahit hingga jatuhnya Mataram ke tangan Trunojoyo. Maka dapat disimpulkan bahwa konteks waktu dalam serat tersebut berkisar pada abad XV hinggs XVII.

Merujuk keterangan Nancy Florida, naskah ini memuat sejarah singkat Jawa denga kronogram 1400-1600 tahun Jawa. Teks ini juga berisi tentang keterangan candrasengkala serta hitungan hari yangbaik/buruk berikut perwatakan masing-masing hari berdasarkan kitab Iladuni. Manuskrip ini secara garis besar menyajikan informasi sejarah Jawa hingga pertengahan abad XVIII. Didalamnya terdapat sebuah keterangan berbunyi: “sangkala reke manira ngawi, sun angetang babading nagara, nusa jawa sengkalane.” Kemudian tertulis pula maksud dari tujuan kepenulisan teks tersebut: “sabarang tindak kang patut dan serati.” Dari secarik kertas ini, diketahui maksud penulisan babad ini sebagai semacam catatan/ensiklopedi sejarah.

Sampai saat ini, serat sangkala kadhatan ini masih bertahan dengan upaya pelestarian dengan promosi secara langsung dan dari mulut ke mulut.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *