Slametan dan Ritual Lainnya di Gunung Merapi

Slametan dan Ritual Lainnya di Gunung Merapi – Slametan adalah upacara yang dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan menjaga keseimbangan manusia dengan makhluk-makhluk lain yang ada di alam sekitarnya. Dalam slametan, manusia dan makhluk halus berdamai dan menyelaraskan siklus kehidupannya (Triyoga, 2010, pp. 105–106). Dalam slametan, manusia berdoa kepada Sang Pencipta dan bernegosiasi dengan makhluk halus penghuni alam melalui sesaji. Harapannya, masyarakat yang melakukan slametan akan terhindar dari gangguan dan bencana (Suaka, 2020, p. 312).

Banyak jenis slametan yang dikenal dalam masyarakat lereng Merapi, baik yang sifatnya rutin maupun insidental. Beberapa slametan yang bersifat rutin adalah Sedekah Gunung yang dilakukan setiap bulan Rejeb, slametan ternak yang dilakukan setiap bulan Pasa, dan slametan Malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, sementara yang bersifat insidental biasanya dilakukan saat mencari orang yang hilang diculik lelembut, mengatasi orang yang kesurupan lelembut, mendoakan pemulihan orang yang kecelakaan saat mendaki (yang disebut slametan sekul bali), mengambil jenazah yang meninggal di Gunung Merapi, dan untuk menghadapi ancaman bencana Gunung Merapi (Triyoga, 2010, pp. 109–116). Selain itu, ada juga slametan yang dilakukan sebagai upaya pembersihan alam seperti merti dusun yang artinya membersihkan desa (Hudayana, 2021, p. 239) dan memetri kali atau dandan kali yang artinya memelihara sungai (Wirasanti, 2009, p. 579). Biasanya, merti dusun dan memetri kali dilakukan setahun sekali atau setelah terjadi bencana. Artinya, keduanya dapat bersifat rutin sekaligus insidental.

Salah satu penelitian terbaru (Tyas, 2022, pp. 26–27) menjelaskan lebih lanjut mengenai tradisi memetri kali atau dandan kali atau yang disebut juga sebagai becekan. Kegiatan ini biasanya dilakukan di musim kemarau untuk memohon berkat hujan pada hari Jumat Kliwon di mongso kapat atau mongso kalimo yang dianggap sakral. Mengikuti tradisi kurban Idul Adha dalam ajaran Islam, tradisi becekan dilakukan dengan cara memotong kambing dan memasaknya menjadi gulai berwarna sebagai simbol lumpur yang becek akibat hujan. Gulai tersebut kemudian disajikan di tempat yang disebut takir dan disertai dengan ubo rampe berupa nasi tumpeng dan jajanan pasar seperti jadah, pisang, dan jenang.  Seorang modin desa memimpin para laki-laki untuk melaksanakan tradisi ini, sementara perempuan tidak boleh ikut serta. Bahkan, kambing yang dikurbankan pun harus pejantan. Selain tradisi becekan, Tyas (2022, pp. 20–23) juga menemukan tradisi wiwitan yang dilakukan untuk memohon berkat dan mengucap syukur kepada Mbok Sri atau Dewi Sri atas ladang yang akan ditanami atau yang telah dipanen, serta tradisi dawetan sapi yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kelahiran ternak. Seperti namanya, tradisi ini dilakukan dengan menyediakan hidangan dawet beserta dengan nasi tumpeng dan jajanan pasar.

Berbagai ritual yang dijabarkan di atas merupakan tradisi-tradisi masyarakat desa yang dimiliki dan dilakukan oleh masyarakat lereng Merapi secara mandiri. Oleh karena itu, Juru Kunci Merapi yang merupakan perpanjangan tangan istana tidak mengambil peran di dalam pelaksanaannya, terutama bila tradisi-tradisi tersebut dilakukan di desa-desa selain Kinahrejo. Seperti yang telah dijabarkan di awal tulisan ini, Juru Kunci Merapi memiliki peran tersendiri dalam pelaksanaan ritual labuhan yang diadakan oleh Kraton Yogyakarta. Ritual labuhan dilakukan setiap tahun  di bulan Rajab dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai daerah di bawah arahan Juru Kunci Merapi yang menyampaikan ubo rampe dari utusan Kraton Yogyakarta kepada para penguasa Kraton Merapi. Meski begitu, beberapa penelitian menemukan bahwa ada ritual lain yang juga digerakkan oleh Juru Kunci Merapi, yakni lampah bisu. Ritual yang diprakarsai Mbah Maridjan ini dilakukan oleh masyarakat Kinahrejo untuk memohon perlindungan dari Yang Mahakuasa setiap ada tanda-tanda erupsi dari Gunung Merapi. Di kediaman Juru Kunci, masyarakat mulai membaca doa sesuai ajaran Islam sebelum mulai berjalan. Dua benda pusaka yang dimiliki oleh Juru Kunci Merapi ikut dibawa dalam prosesi tersebut, yakni sebuah keris berselimut kain putih dan sebuah tombak berselimut kain merah. Tombak tersebut dipercaya sebagai potongan lidah ular naga bernama Kyai Baruklinthing yang melingkari Gunung Merapi dan didapatkan Mbah Maridjan saat sedang bertugas di Paseban Srimanganti dekat puncak Merapi. Selama lampah bisu, masyarakat berjalan sejauh 15 kilometer dengan cara mengitari Dusun Kinahrejo sebanyak tiga kali tanpa berbicara, makan, minum, maupun merokok (Permana et al., 2022, pp. 420–421).

Baca juga : Tindakan Masyarakat yang Didorong oleh Mitos Gunung Merapi

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *