SRIMPI DHEMPEL

Penelitian Pariwisata – Sebagai salah satu karya budaya Keraton Yogyakarta, Srimpi Dhempel sudah ada sejak masa Hamengku Buwono VI. Namun demikian Srimpi Dhempel dengan cerita Menak baru diciptakan pada masa Hamengku Buwono VIII (1921-1939). Sejarah terkait Srimpi Dhempel ini dapat dilacak melalui naskah-naskah koleksi perpustakaan Kridha Mardawa Keraton Yogyakarta. Srimpi Dhempel hadir sebagai bentuk sarana penyampaian naratif cerita Menak, karena serimpi ini lahir tanpa peristiwa yang melatar belakanginya. Fokus cerita pada Srimpi Dhempel mengambil episode pertarungan antara Dewi Joharinsiyah melawan Dewi Resmikin.

Termasuk dalam tari bergenre serimpi, Srimpi Dhempel dipentaskan oleh empat penari dengan menggunakan properti pistol. Kehadiran properti berupa pistol merupakan salah satu bukti hadirnya pengaruh budaya barat pada tari klasik gaya Yogyakarta. Riwayat pementasan Srimpi Dhempel tercatat setelah masa Hamengku Buwono VIII pernah dipentaskan pada tahun 1986, dan dipentaskan kembali oleh Keraton Yogyakarta pada tanggal 15 Agustus 2022 dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung.

Baca Juga : BUKU PANDUAN WISATA KULINER SURAKARTA TAHUN 2018

Pementasan tersebut merupakan salah satu upaya pelestarian karya-karya tari yang sudah ada sejak dahulu agar dapat dinikmati secara umum. Hal ini mengingat Srimpi Dhempel merupakan salah satu dari sekian banyak khazanah tari klasik gaya Yogyakarta yang perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak hanya sekedar tarian, Srimpi Dhempel merupakan bukti kearifan lokal masyarakat Keraton Yogyakarta dalam menerima pengaruh budaya asing. Selain itu tari Serimpi memiliki beragam nilai dan makna yang ada di dalamnya. Pemahaman akan nilai dan makna tersebut sangat perlu diwariskan agar pewarisan tidak hanya berhenti pada wujud suatu karya, namun juga esensi nilai dan makna yang membangun rasa suatu karya budaya. Langkah-langkah pelestarian tersebut alangkah baiknya berjalan bersama dengan inventarisasi dan penggalian informasi yang ada pada masa lampau yang salah satunya dapat diakses melalui naskah-naskah kuno. Melalui pijakan masa lampau yang kuat, Srimpi Dhempel dan karya budaya lainnya dapat selalu hidup dan membangun identitas Keraton Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *