SRIMPI GAMBIR SAWIT

Penelitian Pariwisata – Sebagai salah satu warisan budaya Jawa, tari srimpi dapat didefinisikan sebagai sebuah sajian tari klasik bergaya Surakarta dan Yogyakarta (Suprihano, 1994:1). Oleh karena berwujud tari klasik, maka masuk akal jika tari ini disebut sebagai ekspresi budaya para bangsawan Jawa yang hidup di lingkungan istana Yogyakarta dan istana Surakarta. Cukup banyak yang dapat dipetik dari Beksan Srimpi Gambir Sawit Pura Pakualaman. Secara keseluruhan catatan ini telah membahas mengenai eksistensi tari Srimpi Gambir Sawit sebagai salah satu jenis tari klasik Pura Pakualaman Yogyakarta yang telah ada sejak masa pemerintahan Paku Alam VII hingga perkembangannya sampai saat ini.

Tari yang berasal dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini diberikan oleh Sri Sunan Paku Buwono X kepada Paku Alam VII sebagai hadiah pernikahannya (1909) dengan putri PB X, GBRAy Retno Puwoso. Sejak ditarikan di Pura Pakualaman, Srimpi Gambir Sawit mengalami berbagai perkembangan dan perubahan yang semula memiliki ciri khas tari tradisi Surakarta kemudian memiliki karakter gaya Yogyakarta. Kedua karakter yang berjalan bersamaan dan saling mempengaruhi satu sama lain ini menjadi sebuah ciri khas Pura Pakualaman sekaligus daya tarik yang tidak ditemukan pada tari tradisi lain. Srimpi Gambir Sawit dikenal sebagai tari srimpi yang cukup mudah dan cocok ditarikan oleh penari yang sifatnya masih pemula. Makna Beksan Srimpi Gambir Sawit Pura Pakualaman dipercaya sebagai suatu ajaran akan dua hal yang berlawanan sebagai suatu kesatuan dan keseimbangan, dalam hal ini hubungannya dengan relasi ketuhanan dan proses pendewasaan para gadis yang masih muda belia.

Baca Juga : WISATA MINAT KHUSUS BUDAYA ALAM PANTAI GIRIPURWO

Saat ini, fungsi Beksan Srimpi Gambir Sawit masih sama, yaitu ditampilkan dalam acara dan kepentingan Pura Pakualaman, juga turut dipentaskan untuk acara-acara yang berhubungan dengan pendokumentasian dan gelar budaya bersama Kraton Yogyakarta. Tari Srimpi Gambir Sawit yang disajikan oleh Pura Pakualaman selain sebagai tontonan dan hiburan juga menunjukkan prestise pemiliknya. Sebagai pusat kesenian, Pura Pakualaman masih tercermin dalam tarian yang disajikan.

Sebagai bentuk warisan budaya tak benda, pelestarian Beksan Srimpi Gambir Sawit Pura Pakualaman menjadi suatu keharusan dalam rangka mempertahankan identitas budaya Pura Pakualaman, terlebih Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mempertahankan eksistensi tarian ini, yaitu melalui pendokumentasian baik secara foto, video, maupun audio. Pada tahun 2010 Penyelamatan Karya Seni terhadap Srimpi Gambir Sawit sudah dilakukan dan berhasil memperkenalkan kembali tari tersebut tapi sayangnya setelah pementasannya yang terakhir pada 2017, tari ini kembali tertidur. Kini, tari Srimpi Gambir Sawit hanya perlu dihidupkan dan diperkenalkan kembali di tengah masyarakat. Untuk itu, terdapat beberapa saran dan rekomendasi pelestarian terhadap Beksan Srimpi Gambir Sawit Pura Pakualaman, yaitu peran aktif dari berbagai pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterlibatan ini dalam arti menarikan, melatih, memberi sarana pelatihan, menyediakan wadah untu pementasan, menginventarisasi, menelaah, dan mensosialisasikan nilai-nilai dan penyajian tari ini dalam bentuk buku atau dokumentasi lainnya.

Masih banyak yang sebenarnya dapat ditelaah mengenai Beksan Srimpi Gambir Sawit Pura Pakualaman. Oleh karena merupakan hasil kajian awal, pembahasan mengenai tari ini diharapkan dapat diteruskan pada kesempatan lain untuk pencapaian maksimal pada aspek-aspek pokok yang lebih fokus dan mendalam. Demikian pencatatan ini diharapkan dapat membuka wawasan bagi para pemerhati kebudayaan, terlebih dapat digunakan sebagai acuan untuk kajian-kajian berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *