Teori Konsentris Struktur Ruang Perkotaan

Teori Konsentris Struktur Ruang Perkotaan – Jika kita melihat maps, mungkin sebagian orang akan sadar bahwa setiap wilayah memiliki struktur atau pola perkotaan yang berbagai macam. Ada wilayah yang didominasi oleh bangunan tinggi pusat ekonomi dan perkotaan, ada wilayah yang didominasi oleh permukiman, ada juga wilayah yang didominasi oleh bangunan industri besar. Pola dan struktur ruang perkotaan tersebut akan memberikan ciri dan fungsi perkotaan. Terdapat beberapa jenis struktur ruang kota, salah satunya Teori Konsentris. 

Teori Konsentris dikemukakan oleh seorang sosiolog Ernest W. Burgess pada tahun 1923. Burgess sebelumnya telah melakukan penelitian struktur ruang Kota Chicago pada 1920. Menurut penelitiannya, struktur ruang kota Chicago telah berkembang hingga zona pinggiran perkotaan yang membentuk pola. Jika digambar dalam sebuah garis, pola perkotaan tersebut membentuk susunan lingkaran, dimana bagian tengahnya merupakan pusat kota. 

Teori Burgess ini menggambarkan struktur kota bagaikan lingkaran konsentris dengan beberapa zona yang memiliki karakteristik berbeda. Burgess membagi struktur ruang kota konsentris menjadi beberapa zona, yaitu:

  • Zona pusat kegiatan atau central business district (CBD)

Zona ini merupakan jantung kota yang dipenuhi dengan kegiatan ekonomi bisnis, perkantoran, politik, hingga sosial. Sehingga pada zona ini banyak ditemui bangunan pencakar langit dan jumlah penduduk yang cenderung lebih tinggi pada siang hari dibandingkan malam hari. 

  • Zona peralihan atau transisi 

Yaitu zona di luar pusat kota (CBD), mayoritas berupa jalan besar dan jalan tol. Penggunaan lahannya berupa campuran antara pusat kegiatan dan permukiman serta menjadi penghubung dengan kawasan luar inti kota. 

  • Zona permukiman pekerja

Yaitu kawasan yang didominasi oleh permukiman kelas pekerja. Mayoritas pekerja akan memilih rumah dengan harga yang cenderung rendah namun tidak jauh dari lingkungan kerja mereka. 

  • Zona permukiman kelas elit

Kawasan ini didominasi oleh masyarakat yang cenderung memiliki kemampuan finansial yang lebih baik dari penduduk kawasan lain. Kawasan permukiman di zona ini jauh dari keraiaman pusat kota dan lebih tertata dengan baik. 

  • Zona penglaju (commuter zone)

Yaitu kawasan pinggiran yang biasanya berupa daerah perbatasan dengan wilayah administrasi lain. Dapat juga berupa tepi pantai, pelabuhan, atau daerah batas peralihan seperti Tangerang dan Depok. 

Baca juga : Memadukan Inovasi dengan Keanggunan dalam Arsitektur Rumah Modern

Meskipun tidak sempurna, Teori Konsentris tetap menjadi kerangka kerja yang berguna untuk memahami struktur ruang kota. Memahami teorinya membantu para perencana kota, arsitek, dan pembuat kebijakan dalam merancang kota yang lebih efisien, adil, dan berkelanjutan.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *