Terjadinya Gunung Merapi

Terjadinya Gunung Merapi – Gunung Merapi, yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia, merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia dan telah menyimpan catatan letusan yang cukup signifikan dalam sejarah. Terjadinya Gunung Merapi dapat dijelaskan sebagai hasil dari aktivitas subduksi lempeng tektonik di wilayah tersebut. Gunung Merapi terletak di Jalur Vulkanik Sunda, yang merupakan batas antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Proses subduksi ini menyebabkan terjadinya tekanan dan gesekan di bawah permukaan bumi, yang pada gilirannya memicu pelelehan batuan di kedalaman bumi. Magma yang terbentuk dari pelelehan ini kemudian naik ke permukaan melalui saluran kawah gunung, dan ketika tekanan mencapai tingkat tertentu, letusan gunung berapi pun terjadi.

Letusan Gunung Merapi dapat bervariasi dari letusan efusif yang menghasilkan lava cair hingga letusan eksplosif yang melibatkan aliran piroklastik, abu vulkanik, dan awan panas. Letusan-letusan ini tidak hanya memberikan dampak langsung pada wilayah sekitarnya, tetapi juga dapat memengaruhi iklim dan lingkungan di skala yang lebih luas. Walaupun letusan Gunung Merapi sering kali menimbulkan ancaman dan kerugian, gunung ini juga dihargai oleh masyarakat setempat sebagai bagian penting dari kebudayaan dan identitas Jawa, di mana mitos-mitos dan kepercayaan spiritual mengelilingi keberadaannya.

Sebelum adanya Gunung Merapi, Pulau Jawa memiliki suatu gunung yang dinamakan Gunung Jamurdipo atau Jamurdwipa. Ada yang mengatakan letak Gunung Jamurdipo berada di ujung Barat Pulau Jawa, tetapi ada juga yang mengatakan letaknya di Laut Selatan Jawa. Bagaimanapun, letaknya yang berada di pinggir telah menjadikan Pulau Jawa tidak stabil. Melihat hal tersebut, para dewata di khayangan yang dipimpin oleh Batara Guru bermaksud memindahkan Gunung Jamurdipo ke tengah-tengah Pulau Jawa. Ada juga sumber yang menyebutkan bahwa dewa yang ingin memindahkan gunung tersebut bernama Dewa Krincing Wesi (Schlehe, 1996, p. 394).

Masalah timbul ketika dua orang pandai besi yang bernama Empu Rama dan Empu Permadi tinggal di tempat yang direncanakan untuk pemindahan Gunung Jamurdipo. Ketika diminta untuk pindah, kedua pandai besi itu menolak karena sedang membuat keris pusaka Tanah Jawa. Ada yang mengatakan bahwa itu merupakan keinginan mereka sendiri, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa Batara Guru sendiri yang meminta Empu Rama dan Empu Permadi untuk membuat keris tersebut. Bagaimanapun, penolakan mereka menyebabkan konflik dengan para dewa. Karena para dewa tidak sanggup mengalahkan kedua pandai besi tersebut, akhirnya Batara Guru marah besar dan melemparkan sebagian Gunung Jamurdipo ke atas Empu Rama dan Empu Permadi. (Triyoga, 2010, p. 53) menemukan bahwa orang-orang Kinahrejo percaya bahwa Batara Guru melakukannya dengan meminta Batara Bayu (dewa angin) untuk meniup Gunung Jamurdipo.

Baca juga : Memburu Pesona Tradisi dan Keindahan Alam di Desa Wisata Conto Wonogiri

Pecahan Gunung Jamurdipo yang menimpa kedua pandai besi tersebut akhirnya disebut sebagai Gunung Merapi, dari kata meru yang berarti gunung dan kata api yang melambangkan perapian tempat pandai besi bekerja. Karena Pulau Jawa masih belum seimbang, Batara Guru kembali melempar pecahan-pecahan Gunung Jamurdipo yang lain sehingga membentuk Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, dan gunung-gunung lainnya. Meski begitu, Empu Rama dan Empu Permadi hanya terkubur di bawah gunung yang pertama saja, yakni Merapi. Troll et al. (2021, p. 103) menemukan bahwa nama Merapi juga dapat diartikan sebagai ‘api Rama dan Permadi’, karena sejak saat itu kedua sosok tersebut dipercaya sebagai penjaga dan penguasa Gunung Merapi.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di+62812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *