mostbet az casinolackyjetmostbet casinopin up azerbaycanpin up casino game

Tradisi Nyakan Diwang di Desa Banjar, Buleleng

Tradisi nyakan diwang merupakan rangkaian dari hari raya nyepi yang tidak terpisah dengan panca yajna yang termasuk dalam bhuta yajna yang merupakan korban suci untuk pembersihan dari keletehan pekarangan rumah. Masyarakat Desa Banjar mepercayai tradisi ini akan dapat membersihkan bhuwana agung dan bhuwana alit, oleh karenanya masyarakat memiliki kesadaran tinggi untuk melaksanakan tradisi ini agar terbebas dari keletehan.

Secara histori, belum ditemukan secara pasti dalam bentuk teks bahkan lontar. Namun masih diyakini dan dijalankan serangkaian hari raya nyepi tepatnya pada saat ngembak geni sebagai pembersihan atau  keletehan terhadap bhuwana agung dan bhuwana alit. Istilah nyakan diwang berasal dari bahasa Bali, yaitu dari kata jakan yang artinya tanak (memasak), nyakan yang artinya memasak makanan pokok.

Tradisi ini dilaksanakan dengan beberapa tahap, yaitu:

  1. Tahap persiapan tradisi nyakan diwang satu hari sebelum hari raya nyepi

Sebelum melaksanakan nyakan diwang, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, yaitu sehari sebelum nyepi yang dimana persiapan yang dipersiapkan akan beruntun dengan nyakan diwang pertama dimulai dengtan pengerupukan di masing-masing rumah masyarakat Desa Banjar. Nyakan diwang merupakan prosesi akhir dalam sebuah prosesi pembersiahan secara sekala dan niskala.

  1. Tahap persiapan tradisi nyakan diwang setelah melaksanakan tawus kasanga tingkat desa

Setelah tawur kesanga, dilanjutkan dengan pembuatan tungku api (pawon) yang dibuat di depan gerbang rumah, setelah selesai dibuat diperciki tirta agar dapat menyucikan sarana yang akan digunakan pada saat nyakan diwang. Selanjutnya, kaum laki-laki bertugas untuk menyiapkan tungku api yang terbuat dari batu bata merah dan kayu bakar digunakan sebagai penyalaan api untuk memasak. Lalu kaum wanita mempersiapkan alat masak dan bahan masakan yang akan dibuat selama tradisi nyakan diwang berlangsung.

  1. Tahap pelaksanaan tradisi nyakan diwang di Desa Banjar

Dalam tahap ini, diawali dengan bunyi kul-kul (kentongan) masyarakat. Awal pelaksanaan tradisi nyakan diwang ini pada pukul 05.00 pagi, setelah kentongan pertama selesai di bunyikan sebanyak tiga kali. Kaum laki-laki bertugas membuat/mempersiapkan tungku dan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak, sementara ibu-ibu mempersiapkan alat dan bahan masakan yang akan di masaknya. Proses masak berlangsung masih menggunakan barang-barang tradisional, yakni menggunakan kompor yang terbuat dari bata merah dan kayu bakar, masayarakat percaya bahwa peralatan ini sudah ada sejak zaman nenek moyanng. Tradisi ini merupakan bentuk menghargai peninggalan nenek moyang dan merasakan susahnya zaman dulu.

Pada saat melaksanakan tradisi ini, seluruh keluarga duduk-duduk dan membentangkan tikar di tempat pelaksanaan tradisi nyakan diwang, disela-sela pelaksanaan tradisi nyakan diwang ini dimanfaatkan untuk bersilakrama dengan masyarakat lain untuk dapat mempererat tali persaudaraan antar masyarakat Desa Banjar.

Prosesi ini sebenarnya tidak wajib dan tidak ada unsur paksaan untuk ikut. Tetapi prajuru adat akan memberi peringatan pada masyarakat yang tidak berpartisipasi dalam melestarikan tradisi nyakan diwang ini, maka prajuru adat akan memberikan sanksi dengan dedosan atau denda kepada masyarakat yang tidak ikut dengan nominal yang telah disepakati pada saat paruman.

  1. Tahap akhir pelaksanaan tradisi nyakan diwang di Desa Banjar

Tahap ini merupakan berakhirnya nyakan diwang, setelah melalui beberap atahapan rangkaian kegiatan. Berakhirnya kegiatan memasak adalah pukul 07.00 Wita dengan menghidangkan masakan yang telah dibuat oleh masing-masing keluarga sampai selesai menyantapnya bersama. Setelah itu, sekitar pukul 09.00 Wita setelah ada bunyi kul-kul masyarakat boleh melaksanakan aktivitas lain dan membersihkan peralatan yang digunakan pada saat memasak serta bersih-bersih diarea tempat yang dipergunakan agar jalanan kembali terlihat bersih, namun Desa Banjar belum diperbolehkan untuk keluar dari wilayah desa untuk menghidupkan kendaraan.

            Setelah bunyi kul-kul yang kedua atau yang disebut ngembak kul-kul pada pukul 10.00 wita artinya jalan di Desa Banjar sudah boleh dibuka. Dan masyarakat sudah boleh beraktifitas masing-masing seperti biasanya.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.