Tradisi Upacara Siraman Gong Kyai Pradah

Tradisi Upacara Siraman Gong Kyai Pradah – Gong Kyai Pradah merupakan salah satu benda pusaka yang ada di Kabupaten Blitar. Gong adalah canang besar (kadang-kadang dipukul sebagai tanda pembukaan upacara dan sebagainya). Mbah Pradah atau biasa disebut Kyai Pradah merupakan sebutan untuk sebuah gong (salah satu instrume gamelan yang mempunyai lebar diameter 0,6 meter) dengan bahan dasar besi yang bagus, yakni perunggu dan dibungkus kain putih (kain kafan) atau istilah Jawa biasa disebut dengan “kain mori” yang dikeramatkan masyarakat Lodoyo sebagai benda pusaka. Gong ini dikeramatkan dan dipercaya sebagai sumber keberkahan bagi siapaun yang mempercayainya. Pada dasarnya, benda-benda yang sacral sebenarnya secara lahiriah tidak berbeda dengan benda-benda biasa yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga keramat atau sakral mempunyai makna sebagai sesuatu yang harus dihormati. Hal ini menjelaskan bahwa sesuatu yang bersifat sakral itu sulit dipahami dengan akal sehat yang bersifat empiris (dilihat dari pengalaman seseorang) untuk memperoleh kebutuhan praktis.

Sebagaimana benda yang disakralkan lainnya, Gong Kyai Pradah juga tidak boleh  disentuh kecuali pada saat-saat tertentu oleh orang-orang tertentu atau yang telah diberikan otoritas secara khusus, yakni seorang juru kunci. Dalam Na’fiah (2020) dijelaskan bahwa juru kunci adalah orang yang menjaga sekaligus merawat pusaka Gong Kyai Pradah dan selama ini telah mengalami enam kali pergantian. Pergantian juru kunci dilakukan dengan pemilihan langsung oleh juru kunci sebelumnya dengan mengadakan beberapa tes. Tidak ada syarat khusus dalam pemilihan juru kunci, siapapun dari agama apapun dan bebas dari daerah mana, semua yang berminat dapat mengikuti tes ini. Dari keenam orang yang juru kunci yang pernah menjabat, hanya empat yang diketahui identitasnya karena memang tidak ada penulisan sejarahnya. Beliau bernama Zainal Mustofa (juru kunci ketiga), Imam Bukhori (juru kunci keempat), Supalil (juru kunci kelima), dan sejak tahun 2016 orang yang dipercaya menjadi juru kunci keenam pusaka bernama Bapak As’adi. Beliau ini merupakan cucuu menantu dari juru kunci kelima, yaitu Bapak Supalil.

Baca juga : Tradisi Malam Satu Suro

Tradisi Upacara Siraman Gong Kyai Pradah – Sebuah kepercayaan kepada sesuatu yang dikeramatkan atau sakral menuntut untuk diperlakukan secara khusus, misalnya melalui upacara. Upacara dan perlakuan khusus ini tidak dapat dipahami secara rasional, akan tetapi dilakukan dari dahulu, sekarang, dan di masa yang akan datang (Agus, 2007). Setelah adanya upacara, masyarakat akan menginterpretasikan adanya hubungan langsung antara manusia dengan dengan roh-roh ghaib untuk meminta bantuan kepentingan duniawi dan rohani mereka. Hubungan dengan roh dan daya gaib dilakukan dengan berbagai ritual yang berupa sesajen, pembacaan mantra-mantra, dan melibatkan juru kunci (Simuh, 2003).

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pelatihan kami, anda dapat menghubungi Admin kami di nomor (0812-3299-9470) Top of Form

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *