mostbet az casinolackyjetmostbet casinopin up azerbaycanpin up casino game

Unsur Budaya Benda Masyarakat Suku Kore

Kore merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima Provinsi NTB. Suku  Kore memiliki tinggalan budaya benda dan tak benda serta aspek kewilayahan yang menyatu dengan panorama savanna Gunung Tambora. Beberapa unsur budaya berupa benda-benda dalam kondisi baik, namun masih terdapat juga situs-situs yang kondisinya tidak terawat karen atidak digunakan lagi, berupa peninggalan arkeologis. Ada beberapa mitos dan kepercayaan yang melatarbelakangi peninggalan arkeologis ini. karena kepercayaan yang kemudian mulai berkurang akan mengakibatkan tidak terpeliharanya situs-situs tersebut. Adapun unsur-unsur Budaya Benda dari Suku Kore adalah sebagai berikut:

Unsur budaya benda Suku Kore adalah Uma Raja atau rumah kerajaan pasca meletusnya Gunung Tambora, mata air, makam kuno, sisa benteng, pusaka dan bendera kerajaan Sanggar. Uma raja ini masih ada hingga sekarang, berupa rumah panggung yang menjadi kediaman turunan Kerajaan Sanggar. Terdapat tiga mata air yang disebut “Punti Moro” di Desa Kore, dua dari tiga mata air dalam kondisi buruk, ada serasah daun dan tidak ada atap. Ketiga mata air ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit, namun jumlah orang yang percaya pada mitos ini telah berkurang. Terdapat beberapa makam di ruang belajar seperti makam yang disebut Kampung Lama Boro, penduduk setempat percaya bahwa yang dimakamkan disana adalah Abdullah, Raja Kore yang merupakan penerus Raja Sanggar. Sebagian masyarakat masih melakukan ritual di makam tersebut dengan mempersembahkan sesajen berupa uang, rokok dan bawang putih dengan menawarkan penawaran merekan yakin akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan.

Selanjutnya di desa Boro terdapat beberapa peninggalan purbakala yang diduga merupakan sisa-sisa reruntuhan benteng. Posisi benteng sebagian besar berada di puncak bukit yang dalam bahasa setempat disebut “doro”. Benteng-benteng tersebut antara lain Benteng La Inomos, Benteng La Matagara, Benteng Wawo Kabune dan Benteng Lawang Koneng. Di Benteng La Matagara, beberap warga masih melakukan ritual sebelum bertani. Di doro ini banyak lubang yang digali leh warga. Konon, warga mendapat ide itu melalui mimpi menggali di titik tertentu di perbukitan. Barang-barang kuno seperti pot keramik, rantai kuda dan mangkuk keramik telah ditemukan. Beberapa barang kuno ini diperdagangkan.

Di bukit Doro Fare ini terdapat batu dengan jejak kaki yang oleh penduduk setempat disebut Wadu Kopa atau Batu Kaki. Wadu kopa terkait dengan kisah Putri Raja Sanggar bernama DaeMinga. Dae Minga diasingkan dan dikirim oleh tentara ke kawah Gunung Tambora. Dalam perjalannya Putri Dae Minga melewati bukit ini dan telapak kakinya dianggap sebagai kaki Putri Dae Minga.

Selain itu, disini juga terdapat gendang kuno dan periuk keramik yang telah dilestarikan secara turun-temurun oleh kelluarga Haji A. Bakar M. Sahid. Gendang ini dimainkan saaat diadakan upacara dewa. Dalam mangkok keramik ini terdapat air yang dipercaya tidak akan pernah habis dan digunakan untuk obat-obatan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.