Upacara Kirab 1 Syura di Loka Muksa Sri Aji Joyoboyo

Tradisi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sejak lama yang berulang dan menjadi kebiasaan bagi masyarakat. Hampir seluruh daerah memiliki tradisi, tak lain denga Kediri.  Kediri sendiri berada di Jawa Timur. Dahulu kota ini adalah sebuah kerajaan, yaitu kerajaan Kediri. Tapipada akhrnya dipilah menjadi dua kerajaan, yaitu kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Raja Keduru yang terkenaladalah Sri Aji Joyoboyo, yang terkenal dengan karyanya beruoa ramalan-ramalan yang akan tejadi pada negeri ini kelak.

Sri Aji Joyoboyo adalah raja yang terkenal dan banyak mengundang kekaguman. Menurutr cerita, dulu pada tahun 1860, Warsodikromo bermimpi bahwa dalam sebuah areal gundukan tanah bertahta seornag Raja Kediri.yang kemudian cerota itu menyebar melalui telinga ke telinga. Akhirnya dengan bantuan ahli metafisik, tempat tersebut berhasil di temukan, yaitu petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Petilasan ini sampai saat ini ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun luar daerah Kabupaten Kediri. Ada yang hanya berziarah, ada juga yang melakukan ritual-ritual tertentu, namun untuk ritual tersebut didampingi oleh juru kunci (kuncen)karena untuk melakukannya harus di tempat sakral dan suci.

Upacara Kirab 1 Syura dilakukan di petilasan Sri Aji Joyoboyo yang merupakan tradisi budaya yang diwariskan dari para leluhur masyarakat di wilayah kerajaan Kediri hingga saat ini. upacara Kirab 1 Syura merupakan ritual yang baru diadakan sekitar tahun 1976 setelah adanya pemugaran. Masyarakat menyelenggarakan upacara ini setiao tanggal 1 Muharram atau 1 Syura.

Tujuan dari pelaksanaan upacara adat ini adalah untuk memperkuat iman dan rasa syukur kepada Tuhan YME karena telah memberikan keselamatan pada tahun sebelumnya, dan sebagai wujud persembahan dan penghormatan kepada maharaja Sri Aji Joyoboyo yang pernah memerintah di Kerajaan Kediri serta sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Selain itu, upacara ini juga dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan Syura.

Menurut cerita, petilasan Sang Prabu ini dulunya hanya seonggok tanah bernisan, bersemak belukar dan banyak batu berserakan dibawah pohon kemuningan yang sangat besar dan rindang. Selain itu terdapat beberapa batu bata merah, baik dalam keadaan bertumpuk ataupun berserakan, atau terjajar rapi mengelilingionggokan tanah tadi sehingga sangat menyerupai makam, tapi itu bukan makam.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa dulu ada beberapa pihak yang berusaha memugarnya, namun tidak berkelanjutan atau bisa dikatakan gagal. Pada sekitar tahun 1973 Raden Shaidi bermimpi mendapat pesan penting, lalu beliau melakukan misi mengambil benda pusaka yang ada di pohon kesambi berdasarkan mimpinya. Pohon kesambi itu posisinya tepat tumbuh di tengah-tengah komplek petilasan. Pengambilan benda pustaka itu disaksikan oleh Juru Kunci petilasan ssaat itu, yaitu Bapak Amat Redjo dan beberapa anggota keluarganya. Apabila berhasil mengambil pustaka tersebut, maka itu adalah isyarat bahwa sang Prabu berkenan wilayahnya dipugar. Ternyat abenda pusaka itu berhasil di ambil tepat jam 10.00 WIB. Setelah itu Raden Shaidi berinisiatif membentuk panitia pemugaran dan hal-hal mengenai pemugaran mulai direncanakan.

Lalu pada tahun 1975, petilasan di pugar dan berubah menjadi sebuah monumen spiritual yang sangat megah, yaitu:

  1. Loka Moka, terdiri dari bangunan Lingga dan Yoni yang memiliki arti bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan makhluknya terdiri dari laku-laki dan perempuan. Lingga dan yoni ini menyatu, dengan sebuah batu manik (batu bulat berwarna hitam ditengahnya seperti mata)berlubang tembus pandang siatasnya. Batu ini berbentuk seperti mata yang merupakan pengabdian keluhuran Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Manik atau mata merupakan pemikiran, sedangkan berlubang tembus berarti mampu melihat jauh ke depan.
  2. Loka Busana, dilambangkan sebagai busana (pakaian) yang diletakkan sebelum moksa. Loka busana ini berada disamping kanan Lokat Moksa.
  3. Loka Mahkota, dilambangkan sebagai tempat mahkota yang diletakkan sebelum Loka Moksa. Bangunan ini diletakkan di luar pagar, melambangkan bahwa zaman kerajaan sudah berakhir.

Selain ketiga bangunan diatas, terdapat Sendang Tirta Kamandanu yaitu sebuah sumur kuno yang dipercaya sebagai tempat dimana Raja Kediri Prabu Sri Aji Joyoboyo mensucikan diri sebelum mukso.sendang ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari petilasan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo dengan lokasi yang berjarak 500 meter ke arah timur laut dari petilasan.

Sendang tirto ini adalah air suci yang berada di tengah hutan lepas. Tirto kamandanu digunakan untuk pengelukatan atau pembersihan diri sebelum beribadah, umumnya tirta ini diambil dari pantai selatan. Masyarakat percata bahwa tirta ini juga bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit dan pembersihan organ dalam tubuh manusia. Selain itu, mereka percaya air tersebut mempunyai keistimewaan, yaitu dapat menambahi kekuatan lahir dan batin, dan juga dikatakan sebagai air sakti, yang dipercaya sebagai air soma atau air minuman dewa.

Lokasi sendang tirta kamandanu ini berjarak sekitar 1 km dari Pamuksan Joyoboyo dan merupakan sebuah kompleks luas yang proses pamugarannya tampak telah berhenti dalam jangka waktu yang lama. Jalan menuju tirta ini terdapat sebuah lapangan luas dipinggirnya yang ada pohon rindang yang membentu melindungi pengunjung dari sengatan matahari. Pengunjung dapat memilih masuk ke area Sendang melalui gapura atau melalui sisi sebelah kanan yang teduh.

  1. Bangunan utama, adalah sendang berupa kolam pemandian yang airnya selalu mengalir 3 tingkatan. Kolam ini dilengkapi dengan:
  • Patung Shiwa Harihara dan Patung Ganesha
  • Gapura
  • Tempat mengambil air
  1. Bangunan pelengkap, terdiri dari:
  • Bangunan pendopo dan gapura candi bentar
  • Tempat sembahyang

Pada awal tahun baru Hijriah atau 1 Muharram, komplek moksa Joyoboyo ini ramai dikunjungi orang. Masyarakat datang dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Pada malam sebelum pelaksanaan upacara, masyarakat mengadakan selametan dan dilanjutkan dengan tirakatan  atau disebut juga lek-lekan yaitu kegiatan tidak tidur semalaman namun berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

Di komplek petilasan setiap tanggal 1 Syura diadakan ritual napak tilas. Upacara ini dimulai dari balai desa Menang yang diawali sambutan dan acara pembukaan. Setelah itu, rombongan dan para pelaku berjalan beriringan yang dibuka dengan barisan cucuk lampahberjumlah 5 orang putri yang menggunakan kebaya merah, yang melambangkan simbol keberanian masyarakat kediri pada zaman dahulu dan pemimpinnya. Rombongan ini melakukan kirab menuju petilasan. Dalam barisan kirab terdapat banyak rombongan yang terdiri atas para sesepuh, pembawa payung pusaka, pembawa ubarampe, dan masyarakat sekitar. Rombongan pembawa ubarampe didominasi oleh gadis yang masih perawan dan para jejaka. Setelah memasuki area petilasan, hanya sesepuh dan pembawa uba rampe yang diperbolehkan masuk. Namun setelah upacara selesai, rombongan lain baru diperboleh kan masuk.

Di area petilasan digelar beberapa upacara, antara lain prosesi tabur bunga yang dilakukan oleh para perawan, yaitu caos dhahar, yaitu menyiapkan makanan. Ini merupakan sesaji yang berupa berbagai macam bunga-bunga yang ditaburkan di tiga tempat secara bersamaan (loka moksa, loka busana dan loka mahkota). Pada saat prosesi ini, bunga yang di tabur akan di rebutkan karena dipercaya membawa berkah. Selanjutnya prosesi penyemayaman pusaka joyoboyo di lokasi petilasan, yang mana pusaka ini telah disucikan di Pantai Parangtritis oleh Keraton Yogyakarta. Peletakan tongkat pusaka ini bermaksud supaya kesaktian yang memancar akan memberi pengaruh baik. Setelah itupembacaan doa yang isinya adalah memanjatkan syukur terhadap Tuhan.

Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan melaksanakan munjuk lengser yang dilakukan dengan menghadap ke Loka Moksa serta menghaturkan para pelaku ritual untuk mengundurkan diri dari Loka Moksa. Kemudian dilanjutkan pengambilan tongat pustaka yang diserahkan kepada pimpinan yang diterima dengan posisi jongkok lalu diikuti oleh pembawa payung susun tiga.

Setelah prosesi selesai, rombongan berbaris lagi san menuju Sendang Tirta Kamandanu untuk melakukan hening cipta. Setelah itu,dilanjutkan dengan acara penutup. Seluruh rangkaian ritual upacara yang telah dilakukan tersebut akan diakhiri di Sendang Torto Kamandanu. Hal ini dilakukan untuk membuang sial dan pengaruh jahat yang bisa mengganggu para peserta, kemudian rombongan meninggalkan tempat ritual dengan khidmat.

Terdapat 3 nilai dari upacara ini:

  1. Nilai kebersamaan
  2. Nilai gotong royong
  3. Nilai adat istiadat

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *