Urap Hidangan Sakral Sejak Abad 10 Masehi

Urap Hidangan Sakral Sejak Abad 10 Masehi – Urap merupakan hidangan tradisional yang sarat akan makna dan sejarah. Urap telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Jawa sejak abad ke-10 Masehi. Lebih dari sekadar hidangan pendamping, urap memiliki nilai spiritual dan tradisi yang tertanam kuat dalam masyarakat Jawa.

Asal mula urap dapat ditelusuri kembali ke era kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Dibuktikan dari Prasasti Linggasuntan dari Kerajaan Medang yang bertanggal 929 Masehi. Dalam prasasti ini tercantum kata “wrak-wrak” yang artinya sebagai urap-urap, hidangan yang terdiri dari campuran kelapa. Hal ini menunjukkan bahwa urap telah lama dikaitkan dengan kesakralan dan tradisi keagamaan. Urap sering disajikan dalam berbagai acara adat dan ritual keagamaan di Jawa. Hidangan ini melambangkan rasa syukur, doa, dan harapan untuk kehidupan yang baik. Urap juga menjadi simbol kebersamaan dan persatuan dalam masyarakat Jawa. Dalam adat Jawa, urap biasa menjadi hidangan wajib pada upacara sepasaran, yaitu tradisi yang diadakan ketika bayi berumur lima hari. Hidangan urap disebut dengan tumpeng gudangan. 

Menurut KBBI, urap merujuk pada “kelapa parut yang dibumbui untuk campuran sayuran rebus, ubi ketan, dan sebagainya. Urap menawarkan rasa yang segar dan lezat dengan perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas. Tekstur renyah dari sayuran dan bumbu kacang yang creamy memberikan sensasi rasa yang unik dan tak terlupakan.

Urap bukan sekadar kumpulan sayuran segar yang disiram bumbu kacang. Setiap bahan dalam urap memiliki makna simbolis yang mendalam. Sayuran hijau melambangkan kesuburan dan kehidupan, bumbu kacang melambangkan kesatuan dan kebersamaan, dan kelapa parut melambangkan kesucian dan keberkahan. Sayuran kangkung dalam urap melambangkan adaptabilitas, sayuran bayam melambangkan kehidupan yang damai, tauge melambangkan kreativitas tinggi, dan kacang panjang melambangkan pemikiran dan umur panjang.
Baca juga : Keindahan Arsitektur di Gunung Es

Meskipun zaman telah berubah, urap tetap menjadi hidangan yang digemari masyarakat Jawa. Urap dapat dinikmati sebagai hidangan pendamping nasi putih, lauk pauk, atau sebagai hidangan utama. Urap juga telah dimodifikasi dengan berbagai variasi bahan dan bumbu, sesuai dengan selera dan kreasi masing-masing. Urap adalah hidangan yang tak hanya lezat, tetapi juga sarat makna dan nilai budaya. Urap merupakan warisan budaya yang berharga dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Jawa.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470.

Sumber: 

https://www.idntimes.com/food/recipe/reksita-galuh-wardani/fakta-urap-vegetarian-indonesia-c1c2?page=all

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *