WISATA BENCANA DAN RESPON EKONOMI: SIASAT MASYARAKAT DALAM MENGELOLA RUMAH BEKAS ERUPSI

Bagi daerah terdampak, khususnya Desa Umbulharjo dan Kepuharjo di Sleman, letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 menimbulkan perubahan yang cukup signifikan bagi kehidupan masyarakat Merapi. Mereka yang dulunya bertumpu pada sektor tani dan ternak, kini sebagian besar sudah beralih ke sektor pariwisata. Lava tour sebagai sebuah produk wisata kelam dinilai mampu menjadi usaha yang membantu masyarakat Merapi dalam melakukan pemulihan ekonomi pascabencana. Lava tour menawarkan konsep paket wisata yang dikemas secara kreatif. Wisatawan diajak berkeliling desa menggunakan Jeep, kemudian berhenti di beberapa objek wisata yang ditawarkan secara opsional. Museum Sisa Hartaku, Galeri Omahku Memoriku, dan Museum Mini & Petilasan Mbah Maridjan menjadi objek wisata paling wajib dikunjungi. Di objek wisata tersebut, wisatawan akan mendapat cerita mengenai erupsi Merapi 2010 sekaligus melihat barang-barang sisa erupsi seperti perabotan rumah tangga, motor, kerangka sapi, gelas meleleh, batu dan abu, hingga foto-foto saat Merapi erupsi. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab bagaimana siasat masyarakat dalam mengelola objek wisata berbasis rumah bekas erupsi serta melihat respon ekonomi mereka melalui sudut pandang ekonomi moral dan rasional. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam dengan pengelola objek wisata, observasi lapangan, dan studi pustaka.

Objek wisata berbasis rumah bekas erupsi merupakan sebuah bentuk komodifikasi kematian yang dilakukan masyarakat sebagai respon ekonomi dari adanya gelombang wisata. Dalam mensiasati pengelolaan objek wisata, masyarakat melakukan bagi-bagi rejeki untuk meraih keuntungan dengan mempertimbangkan nilai-nilai komunal yang mereka miliki. Siasat kelola yang dimunculkan masyarakat yakni dengan; (a) mereproduksi sejarah, (b) mengutamakan kerabat dalam pengerahan tenaga kerja, (c) membuka lahan parkir, (d) membuka dan menyewakan warung dan (e) membentuk jejaring sosial.

Bersamaan dengan munculnya lava tour, masyarakat Merapi mulai mencari penghidupan baru melalui sektor pariwisata. Beberapa di antaranya terdapat masyarakat yang berperan dalam mengelola objek wisata berbasis rumah bekas erupsi. Baik Museum Sisa Hartaku, Galeri Omahku Memoriku, danMuseum Mini & Petilasan Mbah Maridjan, ketiganya dikemas menjadi produk wisata bencana yang telah menarik perhatian berbagai kalangan wisatawan. Fenomena tersebut menandakan bahwa kegiatan pariwisata dapat tumbuh di tengah-tengah berbagai macam masyarakat. Sebagai sebuah fenomena yang terstruktur, kemunculan pariwisata tergantung berbagai macam faktor material. Oleh karena itu, dalam meneliti persoalan pariwisata berbasis masyarakat, perlu dilihat bagaimana kondisi sosial-politik dan lingkungan masyarakat sehingga muncul sebuah pariwisata di tempat itu. Masuknya gelombang wisata pasca erupsi Merapi 2010 menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dalam merespon hal itu, ada nilai-nilai komunal yang mendasari pandangan hidup masyarakat ketika mengambil keputusan. Mereka juga melakukan rasionalisasi untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Berbagai macam tindakan ekonomi masyarakat Merapi dalam mensiasati pengelolaan objek wisata dimunculkan dengan melakukan komodifikasi, mereproduksi sejarah, membuka warung, hingga memperkuat modal sosial. Kini tanpa disadari, simbol-simbol atau identitas kelompok hingga barang-barang dan koleksi yang berkaitan dengan lava tour telah merepresentasikan kemandirian dan kejayaan masyarakat Merapi.

Bagaimana masyarakat terlibat dalam sebuah kegiatan pariwisata. Pertama-tama, perlunya memperhatikan pelaku wisata. Tidak semua pelaku di sebuah “host destination‟ berpartisipasi secara sama rata dan memiliki motif yang sama. Di antaranya ada yang terlibat secara langsung—berinteraksi dengan wisatawan, maupun bekerja dibalik layar sebagai pendukung aktivitas wisata. Sebagai wisata bencana yang digerakkan oleh masyarakat desa, lava tour terus mengalami pengembangan yang akhirnya menciptakan pemaknaan baru bagi praktik wisata kelam. Aktivitas yang lebih sering ditujukan sebagai tempat peringatan (memoriam), edukasi, proses berkontemplasi, ternyata dapat bergeser dan bercampur-aduk menjadi aktivitas wisata yang lebih menyenangkan dan penuh petualangan bagi wisatawan. Dengan berbagai siasat yang dimunculkan masyarakat dalam mengelola objek wisata, studi ini juga memperlihatkan bagaimana wisata bencana dapat menjadi pariwisata alternatif yang profitable karena mampu menjadi penopang hidup bagi hajat orang banyak.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *