Fenomena wisata di lokasi yang menjadi viral, seperti rumah korban pembunuhan, telah menjadi sorotan di Indonesia. Kasus terbaru melibatkan rumah dan makam Nia Kurnia Sari, seorang gadis penjual gorengan yang menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan di Padang Kabau, Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Lokasi ini mendadak menjadi tujuan wisata dadakan, menarik banyak pengunjung yang ingin melihat langsung tempat kejadian tragis tersebut.
Para peziarah kini memenuhi makam Nia dengan tumpukan bunga dan dedaunan, hingga tingginya hampir mencapai satu meter. Selain itu, publik juga ramai mengunjungi rumah tempat tinggal Nia yang sedang direnovasi. Banyak pengunjung sibuk mengambil foto di sekitar lokasi, bahkan beberapa masuk ke dalam rumah tersebut. Fenomena ini dimanfaatkan oleh pedagang makanan di sekitar area rumah, yang kini ramai melayani pembeli.
Baca Juga: Strategi dan Upaya Branding Pariwisata melalui Aplikasi TikTok
Sosiolog Musni Umar menilai bahwa menjadikan lokasi tragedi sebagai objek wisata tidak pantas. Karena masyarakat umum dapat menganggap ‘wisatawan’ tersebut tidak menghormati korban dan keluarganya melalui tindakan tersebut.
Fenomena overtourism, di mana suatu destinasi wisata menjadi terlalu padat oleh pengunjung, dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kerusakan lingkungan, peningkatan polusi, dan gangguan terhadap norma serta budaya lokal. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk mengelola destinasi wisata dengan baik, termasuk mempertimbangkan aspek etika dan dampak sosial dari kunjungan ke lokasi-lokasi yang sensitif.
Pengelola destinasi wisata perlu memastikan pengelolaan yang baik dan etis untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam mengedukasi publik tentang pentingnya menghormati privasi dan perasaan keluarga korban, serta menjaga norma dan nilai sosial yang ada.
Untuk informasi lainnya hubungi admin kami di:
Whatsapp: (0812-3299-9470)
Instagram: @jttc_jogja

Comments are closed