Pariwisata MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions) menjadi salah satu sektor yang berkembang dalam industri pariwisata berbasis bisnis. Sektor ini membawa dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi serta menciptakan peluang kerja dan investasi di berbagai destinasi. Indonesia saat ini berupaya mengembangkan potensi MICE di beberapa kota utama, seperti Bali, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Namun, untuk menjadi pemain utama di pasar MICE internasional, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT untuk mengidentifikasi keunggulan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan industri MICE di Indonesia.
Indonesia memiliki banyak keunggulan dalam sektor MICE, terutama dari segi daya tarik wisata yang beragam dengan infrastruktur yang mulai berkembang seta pengalaman dalam menyelenggarakan berbagai acara internasional. Lima kota utama di Indonesia telah ditetapkan sebagai destinasi unggulan MICE karena memiliki fasilitas pendukung yang relatif memadai. Namun, ada beberapa tantangan yang masih perlu dihadapi, seperti keterbatasan sumber daya manusia yang profesional dalam industri ini, kurangnya strategi promosi yang efektif, serta belum adanya target yang jelas bagi beberapa daerah dalam menarik pasar MICE global. Situasi politik dan regulasi yang sering berubah juga menjadi faktor yang mempengaruhi stabilitas industri ini.
Pengembangan sektor MICE di Indonesia mendapatkan tantangan dengan penerbitan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 menghadirkan tantangan baru bagi industri ini. Inpres tersebut mengatur kebijakan baru terkait pelaksanaan kegiatan pemerintahan, termasuk pengurangan belanja perjalanan dinas dan acara pemerintahan di hotel atau venue komersial. Terbitnya Inpres ini membawa dampak langsung terhadap sektor MICE, mengingat salah satu sumber utama pendapatan industri ini berasal dari penyelenggaraan acara yang melibatkan instansi pemerintah. Dengan kebijakan tersebut, berbagai pemangku kepentingan di industri MICE perlu beradaptassi dengan strategi baru untuk tetap mempertahankan daya saing dan keberlanjutan bisnis mereka.
Baca Juga : Apa Dampak Penghematan Anggaran Besar-Besaran terhadap Perekonomian?
Peran dari pemangku kepentingan utama, seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Indonesia Convention and Exhibition Bureau (INACEB) diperlukan untuk mengembangkan strategi inovatif untuk menarik lebih banyak acara internasional dan meningkatkan kolaborasi dengan sektor swasta. Kota-kota yang menjadi destinasi utama MICE juga harus mempercepat pengembangan infrastruktur dan meningkatkan kesadaran pemerintah daerah akan pentingnya industri ini bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Selain itu, diperlukan kolaborasi antara berbagai pelaku industri, termasuk hotel, event organizer, dan asosiasi MICE untuk menciptakan ekosistem yang lebih kuat dan kompetitif.
Meskipun Indonesia memiliki potensi besar dalam industri MICE, masih terdapat berbagai tantangan yang harus diatasi, terutama dengan adanya kebijakan baru yang dapat mengurangi aktivitas MICE domestik. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah untuk menjaga daya saing Indonesia di pasar MICE internasional, baik secara peningkatan kualitas layanan, promosi yang lebih efektif, maupun kolaborasi dengan mitra global. Strategi yang tepat sangat dibutuhkan agar Indonesia memiliki peluang menjadi destinasi MICE unggulan di kawasan Asia Tenggara dan dunia.
Sumber Referensi :
Allen, J., Harris, R., McDonnell, I., & O’Toole, W. (2011). Festival & special event management (5th ed.).
Crompton, J. L., & McKay, S. L. (1994). Measuring the economic impact of festivals and events: Some myths, misapplications, and ethical dilemmas. Journal of Travel Research, 33(2), 33–40. https://doi.org/10.1177/004728759403300207
Damanik, J., Cemporaningsih, E., Marpaung, F., Raharjana, D. T., Rindrasih, E., Brahmantya, H., & Wijaya. (2018). Membangun pariwisata dari bawah. UGM Press. https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=C6hcDwAAQBAJ
Delamere, T. A. (2001). Development of a scale to measure resident attitudes toward the social impacts of community festivals. Event Management, 7(1), 11–24.
Economic Significance of Meetings to the US Economy Events Industry Council. (2018). Economic significance of meetings to the US economy.
Event Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Tahun 2015–2019. (2019).
Ford, R. C. (2008). Chasing MICE and fellow travelers: A history of the convention and visitor bureau industry. Journal of Management History, 14(2), 128–143. https://doi.org/10.1108/17511340810860258
Fredline, E. (2005). Host and guest relations and sport tourism. Sport in Society, 8(2), 263–279. https://doi.org/10.1080/17430430500087328
Fyall, A., Garrod, B., & Wang, Y. (2012). Destination collaboration: A critical review of theoretical approaches to a multi-dimensional phenomenon. Journal of Destination Marketing & Management, 1(1–2), 10–26. https://doi.org/10.1016/j.jdmm.2012.10.002
Getz, D. (2008). Event tourism: Definition, evolution, and research. Tourism Management, 29(3), 403–428. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2007.07.017
Hary, P., Erlangga, H., & Hamzah, B. F. (2018). Pengantar manajemen hospitality.
International Congress and Convention Association. (2019). ICCA statistics report: Country & city rankings 2018. www.iccaworld.org
Kim, W., Jun, H. M., Walker, M., & Drane, D. (2015). Evaluating the perceived social impacts of hosting large-scale sport tourism events: SCALE development and validation. Tourism Management, 48, 21–32. https://doi.org/10.1016/j.tourman.2014.10.015
Li, Y., Yang, L., Shen, H., & Wu, Z. (2019). Modeling intra-destination travel behavior of tourists through spatio-temporal analysis. Journal of Destination Marketing & Management, 11, 260–269. https://doi.org/10.1016/j.jdmm.2018.05.002
Ma, L., & Lew, A. A. (2012). Historical and geographical context in festival tourism development. Journal of Heritage Tourism, 7(1), 13–31. https://doi.org/10.1080/1743873X.2011.611595
McCartney, G. (2008). The CAT (Casino Tourism) and the MICE (Meetings, Incentives, Conventions, Exhibitions): Key development considerations for the convention and exhibition industry in Macao. Journal of Convention & Event Tourism, 9(4), 293–308. https://doi.org/10.1080/15470140802493380
Oklobdzija, S. (2015). The role of events in tourism development. Bizinfo Blace, 6(2), 83–97. https://doi.org/10.5937/bizinfo1502083o
Ollivaud, P., & Haxton, P. (2019). Making the most of tourism in Indonesia to promote sustainable regional development. https://doi.org/10.1787/c73325d9-en
Purbasari, N., Asnawi, D., & Wilayah, P. (2014). Keberhasilan community-based tourism di desa wisata Kembangarum, Pentingsari, dan Nglanggeran. Jurnal Teknik PWK, 3(3). http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/pwk
Rowe, D. (2011). Global media sport: Flows, forms and futures.
Sunarto, H. (2020). Strategi branding pengembangan industri pariwisata 4.0 melalui kompetitif multimedia di era digital. Journal of Tourism & Creativity, 4(1).
Supriadi, B., & Roedjinandari, N. (2017). Perencanaan dan pengembangan destinasi pariwisata. Universitas Negeri Malang.
Widyatama, U. (2019). Identifikasi potensi event venue dalam mendukung kegiatan MICE di Kota Bandung. Jurnal Pariwisata Indonesia, 17(2).

Comments are closed