Gentrifikasi pariwisata merupakan fenomena yang juga terjadi di Indonesia. Sebagai akibat dari nvestasi dan perkembangan industri, pariwisata mentransformasi kawasan. Yaitu kawasan yang sebelumnya dihuni oleh penduduk lokal dengan karakteristik sosial-ekonomi tertentu. Oleh karena itu, proses ini sering kali menyebabkan perubahan signifikan dalam struktur sosial, ekonomi, dan fisik suatu wilayah, yang dapat berdampak negatif bagi komunitas lokal.
Kasus Gentrifikasi Pariwisata di Indonesia
- Bali: Sebagai destinasi wisata internasional, Bali telah mengalami gentrifikasi pariwisata yang signifikan. Pembangunan hotel, vila, dan resor mewah telah menyebabkan peningkatan nilai sewa lahan dan properti, serta perubahan penggunaan lahan dari pertanian menjadi fasilitas pariwisata. Akibatnya terjadi hilangnya lahan pertanian, degradasi ekosistem, dan kesulitan bagi penduduk lokal untuk mendapatkan perumahan yang terjangkau.
- Yogyakarta: Di Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta, gentrifikasi pariwisata telah menyebabkan perubahan ruang fisik dan sosial-ekonomi. Selain itu, pembangunan fasilitas wisata mendorong peningkatan nilai properti, yang mengakibatkan penduduk lokal terdesak dan memicu konflik sosial.
- Desa Wisata Karangsalam, Baturraden, Jawa Tengah: Penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi di desa wisata ini menyebabkan perubahan dalam struktur sosial dan ekonomi masyarakat lokal, dengan masuknya investor luar yang mendominasi sektor pariwisata.
Baca Juga: Fenomena Gentrifikasi Akibat Pariwisata
Solusi untuk Mengatasi Gentrifikasi Pariwisata
- Pariwisata Berkelanjutan. Menerapkan praktik pariwisata yang mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta melibatkan komunitas lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
- Regulasi Pemerintah. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan yang melindungi hak-hak penduduk lokal, seperti regulasi penggunaan lahan, kontrol terhadap pembangunan fasilitas pariwisata, dan penyediaan perumahan terjangkau.
- Pemberdayaan Komunitas Lokal. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata meningkatkan kapasitas dan keterampilan penduduk lokal agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam industri pariwisata dan merasakan manfaat ekonominya secara langsung.
- Pelestarian Budaya dan Lingkungan. Menjaga dan mempromosikan kearifan lokal serta kelestarian lingkungan sebagai daya tarik wisata yang autentik, sehingga pariwisata tidak hanya berfokus pada aspek komersial semata.
Dengan menerapkan solusi-solusi di atas, kita mengharapkan dampak negatif gentrifikasi pariwisata dapat minimal. Sehingga pariwisata di Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan dengan tetap menghormati hak dan kesejahteraan penduduk lokal.
Sumber:
- Pusat Studi Pariwisata. (2022). Mengatasi Dampak Gentrifikasi Pariwisata: Solusi untuk Komunitas Lokal. Diakses dari https://mpar.upi.edu/mengatasi-gentrifikasi-berbasis-pariwisata-solusi-untuk-mempertahankan-kearifan-lokal
- Aulia, F., & Pratama, G. (2020). Gentrifikasi Pariwisata di Bali: Dampak Sosial dan Ekonomi terhadap Penduduk Lokal. ScholarHub Universitas Indonesia. Diakses dari https://scholarhub.ui.ac.id/mjs/vol26/iss2/3
- Indrayanti, N. (2021). Perubahan Sosial-Ekonomi akibat Pariwisata di Gedongtengen, Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Diakses dari https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/162888
- Rahardjo, E., & Santosa, D. (2023). Dinamika Sosial Ekonomi Masyarakat Lokal di Desa Wisata Karangsalam. Jurnal Pariwisata UNS. Diakses dari https://jurnal.uns.ac.id/jas/article/view/69821
- Nugroho, I., & Rini, S. (2018). Model Pariwisata Berkelanjutan: Pemberdayaan Komunitas Lokal. Jurnal Pengelolaan Pariwisata Indonesia.
Untuk informasi lainnya hubungi admin kami di:
Whatsapp: (0812-3299-9470)
Instagram: @jttc_jogja

Comments are closed