Bleisure tourism, kombinasi dari “business” dan “leisure”, menjadi tren baru dalam dunia pariwisata modern. Fenomena ini merujuk pada perjalanan bisnis yang diselingi dengan aktivitas wisata atau rekreasi. Dalam era digital dan Society 5.0, batas antara pekerjaan dan waktu luang semakin kabur, mendorong para profesional memanfaatkan perjalanan bisnis untuk juga bersantai dan menikmati destinasi wisata.
Perkembangan Bleisure Tourism
Perkembangan bleisure tourism dipicu oleh kemajuan teknologi dan perubahan gaya kerja. Fleksibilitas bekerja dari jarak jauh memungkinkan pekerja menambah waktu liburan setelah tugas bisnis selesai. Menurut laporan Global Business Travel Association (GBTA), 60% pelancong bisnis mengakui memperpanjang perjalanan mereka untuk keperluan wisata. Tren ini semakin kuat seiring meningkatnya kesadaran akan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Manfaat Bleisure Tourism bagi Destinasi
Bleisure tourism memberikan dampak positif pada sektor pariwisata. Kota-kota yang menjadi tujuan bisnis seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, kini mempromosikan destinasi wisata lokal untuk menarik pelancong bleisure. Strategi ini meningkatkan lama tinggal wisatawan serta memperluas pengeluaran mereka, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan pendapatan lokal.
Tantangan dan Solusi dalam Pengembangan Bleisure Tourism
Meski bleisure tourism menawarkan peluang besar, tantangan seperti infrastruktur dan penyesuaian fasilitas perlu diperhatikan. Penyedia akomodasi dan agen perjalanan harus menyediakan layanan yang mendukung kebutuhan baik untuk bisnis maupun rekreasi. Pemerintah juga perlu berkolaborasi dengan sektor swasta untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bleisure tourism, seperti meningkatkan aksesibilitas dan promosi pariwisata.
Kesimpulan
Bleisure tourism merupakan wujud dari perkembangan wisata era modern yang memadukan pekerjaan dan rekreasi. Dengan terus berkembangnya tren ini, destinasi wisata perlu berinovasi agar tetap relevan dan menarik bagi pelancong bisnis yang mencari keseimbangan antara produktivitas dan relaksasi.
Baca juga : Sumber Nilai Tambah Ekonomi Kreatif di Kabupaten Gunung Kidul
Sumber Gambar : trasformativa.com
Referensi:
- Global Business Travel Association (GBTA) Report. (2023). “The Rise of Bleisure Travel”.
- Smith, A. (2022). “How Bleisure Travel is Shaping Modern Tourism.” Journal of Tourism Management.
- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2023). “Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia.”
Untuk informasi lainnya hubungi admin kami di:
Whatsapp: (0812-3299-9470)
Instagram: @jttc_jogja

No responses yet