Pada Rabu, 20 November 2024, Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-29 (COP29) berlangsung di Baku, Azerbaijan. Acara ini mempertemukan hampir 200 negara untuk mempercepat aksi kolektif menghadapi perubahan iklim. Kebijakan yang dihasilkan di COP29 akan berdampak signifikan pada masa depan keberlanjutan berbagai sektor, termasuk industri pariwisata yang sangat bergantung pada stabilitas iklim dan kelestarian lanskap alam.
Dukungan Keuangan untuk Destinasi Berkembang
Negara berkembang, meskipun kontribusinya terhadap emisi global minimal, menghadapi dampak perubahan iklim yang tidak proporsional. Bagi banyak ekonomi yang bergantung pada pariwisata, perubahan iklim mengancam infrastruktur penting dan mata pencaharian.
Sebagai contoh, pada tahun 2019, sektor pariwisata menyumbang 14% PDB dan 15% lapangan kerja di Karibia. Namun, ancaman seperti badai, banjir, dan pemutihan terumbu karang sangat merusak aset pariwisata ini.
Dalam COP29, diskusi difokuskan pada target pendanaan iklim baru untuk menutupi kekurangan janji $100 miliar per tahun pada 2009, yang jauh dari kebutuhan triliunan dolar hingga 2030. Dana Kehilangan dan Kerusakan yang diinisiasi pada COP27 telah mendapatkan janji $700 juta, tetapi masih kekurangan dana yang memadai.
Simon Stiell, Kepala Iklim PBB, menegaskan, “Pendanaan iklim adalah investasi bersama dalam stabilitas global,” menekankan pentingnya langkah ini untuk ketahanan global.
Pasar Karbon dan Aksi Iklim Kolaboratif di Pariwisata
Sektor-sektor seperti penerbangan menghadapi tantangan besar dalam mengurangi emisi. Pariwisata, yang sangat bergantung pada transportasi udara, perlu mendukung dekarbonisasi sambil tetap menjaga aksesibilitas perjalanan untuk negara berkembang.
Persetujuan kerangka pasar karbon pada Pasal 6 dalam COP29 menjadi pencapaian penting. Hal ini memungkinkan perusahaan pariwisata membeli kredit karbon untuk mengimbangi emisi. Proyek-proyek kredit karbon, seperti inisiatif energi terbarukan dan restorasi hutan, tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga mendukung pembangunan komunitas lokal.
Inisiatif ini selaras dengan tujuan dekarbonisasi pariwisata sekaligus memperkuat infrastruktur lokal dan mendorong ekowisata.
Pariwisata Jadi Sorotan di COP29
Untuk pertama kalinya, COP29 menghadirkan hari tematik khusus bertajuk “Aksi Iklim dalam Pariwisata”. Langkah ini menyoroti peran sektor pariwisata dalam mitigasi iklim dan peningkatan ketahanan.
Deklarasi Baku tentang Aksi Iklim yang Ditingkatkan dalam Pariwisata menyerukan integrasi sektor pariwisata ke dalam strategi iklim nasional, menekankan potensi industri ini untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.
Paloma Zapata, CEO Sustainable Travel International, memimpin diskusi tentang pembangunan kapasitas dan keberlanjutan di destinasi dengan sumber daya terbatas. Dalam sesi bertajuk Destinations for Tomorrow: Capacity Building and Sustainability in the Tourism Industry, ia menawarkan solusi praktis untuk menciptakan pekerjaan hijau, pengembangan keterampilan lokal, dan peningkatan kesadaran iklim.
Baca Juga : Peran Industri Kecil Menengah dalam Menggerakkan Ekonomi Pariwisata Lokal
Langkah ke Depan
COP29 menyoroti urgensi aksi iklim, mendorong pelaku usaha pariwisata dan pengelola destinasi untuk mengevaluasi strategi keberlanjutan mereka. Alat seperti Corporate Climate Action Checklist dapat menjadi titik awal untuk menyelaraskan langkah dengan tujuan iklim industri.
Ikuti terus informasi terkini tentang perjalanan bertanggung jawab dan pembaruan iklim untuk berkontribusi dalam membentuk masa depan pariwisata yang tangguh terhadap iklim.

No responses yet