Fungsi dan Nilai  Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan

Fungsi dan Nilai  Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan – Naskah BGDGI memuat kronik sejarah Keraton Yogyakarta yang dimulai dari peperangan Mangkubumi, Perjanjian Giyanti (1755), berdirinya Keraton Yogyakarta hingga pengangkatan Sultan Hamengku Buwono III oleh pemerintah Inggris. Kronik sejarah ini ditulis dengan bahasa yang indah dalam tembang macapat. Tembang macapat sendiri memiliki kekhasan yang muncul di setiap akhir pupuh/bait yang disebut dengan sasmita tembang. Di dalam https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sasmita, kata sasmita diartikan sebagai gerakan tubuh yang memiliki isyarat tertentu. Dalam konteks tembang macapat, sasmita tembang adalah isyarat nama tembang yang biasanya terletak pada akhir pupuh tembang sebelumnya. Sebagai contoh bisa dilihat pada kutipan berikut.

Ingkang anata prawira, Tumĕnggung Sumadiningrat, parentah tataning gajah, Raden Riya Sindurĕja, igih anata ing wadya, abaris ngapit marga, rakite sampun atata, sri mĕnganti pamĕgatnya. (Girisa, 180: 9)

Wus tinata sarupane baris sagung, kang abaris sri mĕnganti, prajurit jagakaryeku, asisih ingkang prajurit, suryagama kĕng punang wong. (Megatruh, 181:1)

Pada pupuh 180 tembang girisa, di pupuh terakhir terdapat kata pamĕgatnya yang menjadi sasmita/isyarat bahwa tembang berikutnya adalah megatruh. Dalam naskah BGDGI, sasmita tembang hampir selalu muncul di akhir pupuh. Selain sasmita tembang, tembang macapat memiliki ciri khas lain, yakni watak tembang. Tiap-tiap tembang macapat melambangkan kehidupan sejak manusia lahir hingga meninggal dunia. Setiap jenis tembang memiliki ciri-ciri atau watak tersendiri, seperti gembira, sedih, bijaksana, dan jenaka (Zahra, 2018: 3). Dalam penggunaannya pada penulisan sebuah babad atau tradisi tulis lain, biasanya, sebuah nama tembang akan mencerminkan isi/cerita dalam pupuh tersebut. Sebagai contoh pada pupuh 126, tembang megatruh dipilih sebagai tembang yang melagukan suasana sedih dan kalut dari Sunan Paku Buwono II saat menghadapi kemelut di Keraton Surakarta. Mengenai permintaan dari pihak Kompeni untuk menghukum 7 orang punggawa Keraton Surakarta yang dianggap memberontak. Bila Sunan tidak menyerahkan ketujuh orang itu, maka Keraton Surakarta akan diserang. Hal ini menjadi konflik batin bagi Sunan. Sunan hampir menyerah sebagai raja ‘paman kawula sayěkti, botěn sagěd dados Katong’ ‘paman, aku sungguh-sungguh tidak bisa menjadi raja’. Isi cerita pada pupuh ini sesuai dengan watak tembang megatruh yang biasanya digunakan untuk menggambarkan rasa penyesalan, duka cita, atau kesedihan (Ibid, 56). Selain dari segi penggunaan tembang macapat dalam penulisannya, keindahan literer teks BGDGI tampak pada penggunaan perumpamaan ataupun peribahasa dalam bahasa Jawa.

Fungsi dan Nilai  Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan – Pada pupuh Pangkur (62:18) terdapat perumpamaan agulasah kadya babadan pacing ‘berserakan seperti tebasan tanaman pacing (Costus speciosus)’. Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan para prajurit yang mati dalam peperangan antara Keraton Yogyakarta melawan pemberontakan Pangeran Anom. Masih di pupuh yang sama, pada bait 23 terdapat perumpamaan lir dhandhang anucuk gĕndhis. ‘bagaikan burung gagak (corvus) yang mematuk gula’. Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan para prajurit Yogyakarta yang merampas harta benda milik pasukan Pangeran Anom, usai mereka dikalahkan. Perumpamaan lain terdapat pada pupuh Pangkur (134: 34) lir prabata běntar kokapnya ngěndhanu ‘bagaikan bumi terbelah, asapnya mengepul pekat’ perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan gemuruh suara serta kepulan asap dari salvo yang ditembakkan oleh prajurit estri Langenkusuma saat tampil di hadapan Daendels. Gemuruh suara salvo diibaratkan seperti bumi yang terbelah. Penggunaan perumpamaan menunjukkan tradisi kebahasaan yang tinggi.

Naskah BGDGI juga menunjukkan keunggulannya saat menyajikan kejadian-kejadian maupun kegiatan-kegiatan besar yang terjadi di keraton. Sebagai contoh bisa dilihat pada saat penceritaan pilunya penyerangan Inggris dalam peristiwa Geger Sepehi. Bagaimana pasukan gabungan Inggris, Benggala, dan Prangwedana itu menyerang dan merampas hingga ke kancing baju para penghuni istana Yogyakarta. Pasukan Benggala juga tidak segan menggeledah para putri untuk memastikan mereka tidak menyimpan berlian dibalik lipatan kainnya.

ing plataran Puyĕngan pra Putri, akehi wong pra samya pra lena, duk sĕmana pan wus samyeng, krampas dandananipun, kulawarga myang para Putri, kablonjodan sĕdaya, kinekrek kancingpun, sing kulambi mungsuh rowang, sanak wus tan kaesthi myang para Putri, Jĕng Ratu pisah Nata. (Dhandhanggula 240, 34)

Terjemahan:

Di pelataran, berlarian kesana-kemari para putri, banyak orang yang mati. Kala itu, saat sudah saling terampas riasan keluarga dan juga para putri. Digeledah semua, dicopoti kancingnya, bajunya musuh masing-masing, saudara sudah tidak dihiraukan oleh para putri, Kanjeng Ratu berpisah dengan Raja.

 

Babad juga menarasikan dengan rinci apa saja yang dirampas dari keraton pada saat pecah perang tersebut. Kutipan berikut menarasikan berbagai benda perak, keris pusaka, dan uang dijarah habis-habisan kemudian diusung ke loji.

kang rumĕksa kĕdhaton pra sami, wadya Igris man lawan bĕnggala, regol Sri Mĕnganti gene, kĕlawan regol kidul, kang neng pura pan Sikrĕtaris, yeku ingkang minongka, wakil jendral wau, tan suwe sakehipun, ngusung malih sĕdaya marang ing loji, warni arta kĕncana// warni perak lan wĕsi aji, kina reta pĕdhati kĕlawan, kang cinikar lawan leser, braneng pura wus kĕbut, sakehing wong trining myang santri, donyane sampun tĕlas, rinayah wus gĕmpung….(Dhandhanggula, 240, 64-65)

Terjemahan:

Yang menjaga keraton semuanya, pasukan Inggris dan Benggala. Di Regol Sri Manganti tempatnya dan regol selatan, yang di istana (adalah) Sekretaris, yaitu yang menjadi wakil jenderal tadi. Tidak lama seluruhnya mengangkut lagi semuanya ke loji, berupa uang, emas, segala macam perak, keris (dibawa dengan) kereta dan pedati (juga) cikar, dan dibawa semuanya yang di istana sudah tidak bersisa, seluruh orangnya dan para santri harta bendanya sudah habis dirayah, telah rusak.

Di samping keindahan literernya, teks juga menyajikan kronik yang lengkap disertai tanggal-tanggal penting yang bisa di cek silang dengan data dari sumber Belanda. Seperti halnya pada kutipan yang menyatakan terjadinya geger Sepehi.

pan kajagi astha wadya Igris, duk sĕmana bĕdhahing Ngayogya, Sĕptu Lĕgi ing tanggale, kaping songa jam walu, wulanipun Jumadilakir, Alip angkaning warsa, sinĕngkalan iku, Binuka Putra Pandhita, Tunggal lawan “1729” wong Igris lawan Dipati, ing talu sun mring pura.  (Dhandhanggula, 240: 67)

Terjemahan:

yang dijaga delapan prajurit Inggris. Kala itu perampasan Ngayogya, Sabtu Legi tanggal sembilan jam delapan, bulannya Jumadilakir, angka tahunnya Alip, sengkalannya itu, Binuka Putra Pandhita Tunggal (diawali putra pendeta tunggal) dan “1729” orang Inggris dengan Adipati, tiga di pura.

Keterangan tanggal kejadian lain yang dinarasikan dalam teks babad adalah meninggalnya Kanjeng Ratu Ageng Tegalreja Sĕmana jĕng ratu surud, Slasa Pon siyang jam kalih, wulan Rĕjĕp tanggal dyinya, Jimakir den sĕngkalani, Putri Saptaning Tunggal, 1730 ‘Kala itu Jeng Ratu wafat pada Selasa Pon, siang pukul dua, bulan Rajab, tanggal 2, tahun Jimakir dengan sengkalan Putri Saptaning Tunggal. 

Menariknya, semua tanggal penting dalam teks BGDGI dilengkapi dengan kronogram yang disebut dengan sengkalan. Sengkalan merupakan cara unik menyembunyikan angka tahun dibalik sebuah ungkapan. Kronogram Jawa dibuat dengan cara menyembunyikan angka-angka di balik kata-kata dan disusun terbalik (Sudadi, 2018:2).

Selain memuat kronogram, teks babad juga merekam adat kebiasaan pada masa babad itu ditulis maupun masa sebelumnya. John (1964) dalam artikelnya “The Role of Structural Organisation and Myth in Javanese Historiography” memandangnya sebagai cerminan diri masyarakat pencipta babad. Dalam kaitannya dengan teks BGDGI, kita juga bisa melihat mengenai adat kebiasaan pada masa itu. Bagaimana cara Sultan menjamu tamunya. Seperti dinarasikan pada saat kedatangan Gubernur Jenderal, van Overstraten di Keraton Yogyakarta dalam acara pengangkatan permaisuri Sultan Hamengku Buwono II. Kedatangan pejabat kolonial itu disambut dengan jamuan minum sebagai tanda keselamatan. Sultan menyuguh tamunya dengan hidangan air teh, kopi, dan susu.

Uprup pra upěsir sagung, wus kata aglar neng keri, putra sěntona bupatya, sumiweng ngarsa Nrěpati, gya majěng ingkang inuman, kurmat wilujěngan wěradin// Myang kěng er the kopi susu, sasampunira dumugi, Něrpa ingaturan dhahar, tědhak sing pitrun Sangaji, lan Idler saupěsirnya, tata neng meja ngiděri.

Terjemahan:

Uprup para upěsir semuanya sudah menata duduknya di sebelah kiri. Putra sentana bupati bersila di hadapan raja. Segera keluar minuman tanda hormat keselamatan dengan merata, juga air teh, kopi, dan susu. Setelahnya tiba raja dipersilakan makan. Turun dari kursi sang raja, dan Idler beserta upesirnya. Makanan ditata di atas meja mengelilingi. (Kinanthi, 133: 34-35)

Kutipan di atas mencerminkan bahwa minum teh disertai susu adalah kebudayan di masa itu. Usai acara resmi di Bangsal Kencono, Sultan menjamu para edeel heer itu dengan tontonan adu macan.

Pratandhaning tyas susugun, Narendra marang Ratpni, upa rěgani sugata, tatingalan sakarsaji, Iděler marwata suta, tumimbang tanduk ngěrpasih// Sang Nata ngandikarum, anjangi Raden timbali, Sětratěn saupěsirnya, badhe siněgah ningali, kělangěnan ngaběn sima, Iděler rumojong karsi. (Kinanthi, 133: 61-62)

Terjemahan:

Sebagai tandha hati yang bersungguh-sungguh dari raja kepada para Raad van india. Makanan enak disuguhkan terlihat semua kesenangan raja (dan) Iděler di tata bagaikan gunung anakan. Saling bergantian menambah makan sang raja. Sang Nata berkata harum agar Raden Adipati dipanggil. Sětratěn dan para upesirnya hendak disuguh melihat kegemaran raja mengadu macan. Iděler setuju dengan keinginan raja.

Selain jamuan berupa makanan dan minuman, pertunjukan adu macan dan juga latihan olah senjata yang dilakukan oleh prajurit wanita rupanya menjadi suguhan yang menawan bagi para tamu kolonial di masa itu. Pertunjukan yang kini tidak bisa lagi kita temui di masa kini.

Fungsi dan Nilai  Babad Giyanti Dumugi Geger Inggrisan – Meski kemudian ada banyak narasi cerita dalam babad ini yang tidak ada dalam sumber-sumber kolonial, namun hal ini justru menjadi keunggulan naskah BGDGI. Sebab catatan kolonial tidak merekam semua peristiwa di dalam tembok keraton. Babad ini kemudian menjadi relasi antara sastra dan sejarah sebagaimana dikatakan oleh Teeuw (1974) dalam artikelnya yang berjudul Some Remarks on The Study of So-Called Historical Text in Indonesian Language kedua bidang ini terpisah tetapi bisa saling mengisi.

Baca juga : Gereja Ibaraki Kasugaoka Tadao Ando

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *