Menjaga Budaya menggunakan nilai Pancasila Kelurahan Wirobrajan

Menjaga Budaya menggunakan nilai Pancasila Kelurahan Wirobrajan – Nama Wirobrajan berasal dari kata Wira yang berarti berani dan Braja berarti tajam. Dapat diartikan suatu prajurit yang sangat berani dalam melawan musuh dan tajam panca inderanya. Prajurit Wirabraja ini sangat khas dengan seragam merah-merahnya, sehingga sering disebut Prajurit Lombok Abang.

Letak wilayah Kecamatan Wirobrajan berada di tepi barat Kota Yogyakarta. Luas wilayah Kecamatan Wirobrajan sebesar 1,76 km². Kecamatan Wirobrajan terletak di antara aliran sungai perkotaan. Pada sisi timur terdapat Sungai Winongo yang mengalir dari utara ke selatan dan pada sebelah barat terdapat Sungai Widuri. Kedua sungai tersebut sekaligus merupakan batas wilayah dari Kecamatan Wirobrajan. Sisi utara kecamatan ini merupakan area permukiman padat dan terdapat beberapa hotel seperti Agung Mas dan Top Malioboro selain itu pula terdapat SMP 7 Yogyakarta dan Rumah Sakit Ludira Husada. Kemantren Wirobrajan merupakan satu dari 14 Kemantren di Wilayah Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama Wirobrajan berasal dari nama sebuah kesatuan prajurit kraton yang bertempat tinggal di kampung yang berada di Kemantren tersebut, yaitu Prajurit Wirabraja. Prajurit ini sangat terkenal karena topinya yang berbentuk seperti cabai atau yang dikenal dengan istilah lombok abang.

Potensi kerajinan, kuliner dan pembuatan obat tradisional di Kelurahan Wirobrajan ada beberapa sentra industri mikro, kecil dan menengah:

  1. Sentra jajanan pasar
  2. Sentra tahu
  3. Sentra longsong
  4. Sentra kerajinan tas batik dan kulit
  5. Sentra kerajinan tali

Adat dan tradisi yang ada di Kelurahan Wirobrajan antara lain apeman (ruwahan) dan lampah ratri setiap malam jumat kliwon. 

Apeman (Ruwahan) warga RW 09 13/03/2022

Baca juga : Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Daerah Melalui Industri Pariwisata

Lampah Ratri warga RW 07 setiap malam jum’at kliwon

Kemudian dari kesenian dan permainan tradisional terdapat Plinthengan Mataraman, Gamelan, Musik Javakustik, dan Karawitan Raras Kawedar (Paguyuban Seni Karawitan Tuna Netra). Untuk kerajinan, kuliner dan pengobatan tradisional terdapat Jamu Tradisional Jawa “Jamu Ibu Tari”, kerajinan ukir kayu dan joglo “Wisma Seni” serta kerajinan tali dan souvenir.

Demikian artikel ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *