Permainan Tradisional Di Desa Giripurwo

Permainan Tradisional Di Desa Giripurwo – Permainan tradisional adalah suatu hasil budaya masyarakat yang telah tumbuh dan hidup hingga sekarang, permainan peninggalan nenek moyang yang dilakukan dengan suka rela dimana permainnan tersebut dimainkan menggunakan bahasa maupun ciri khas dari daerah tertentu yang harus dilestarikan guna memperkokoh jati diri bangsa. Permainan tradisional menjadikan orang bersifat terampil, ulet, cekatan, tangkas, dan lain sebagainya serta memiliki manfaat bagi anak.

Sebagian besar permainan tradisional dan olahraga merupakan ekspresi budaya asli dan cara hidup yang memberikan kontribusi terhadap identitas umum kemanusiaan telang menghilang dan yang masih bertahan juga terancam hilang atau punah karena pengaruh globalisasi dan harmonisasi keragaman warisan olahraga dunia. 

Pada dasarnya permainan tradisional merupakan warisan budaya bangsa dan warisan dari nenek moyang yang keberadaannya harus dilestarikan. Sebagai anak bangsa sudah menjadi kewajiban untuk mempertahankan eksistensi dari permainan tradisional tersebut. Permainan tradisional bukan semata-mata permainan saja, akan tetapi terdapat nilai dan unsur budaya yang melekat didalamnya. Di seluruh penjuru Indoesia, setiap daerah memiliki permainan tradisional yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut. Oleh karena itu, sosialisasi permainan tradisional harus sering dilakukan secara berkelanjutan. Dengan kata lain harus ada konservasi terhadap permainan tradisional itu sendiri. Hal tersebut dilakukan untuk mengatisipasi hilangnya atau punahnya permainan tradisional yang ada di Indonesia.

Salah satu yang menjadikan Kalurahan Giripurwo sebagai desa budaya adalah adanya aneka ragam permainan tradisional yang masih dimainkan anak-anak didesa ini. Bentuk permainan tradisional yang biasa dimainkan anak-anak di desa Giripurwo dan masih dapat di temu sampai saat ini diantaranya sebagai berikut.

Tabel 4. 6 Permainan Tradisional Jawa

Nama permainan Keterangan
Gobag sodor semakin tersingkirkan. Masyarakat masih mengenal namun sudah tidak lagi mengaplikasikan dalam bermain. Hanya pada even-even tertentu. Untuk membangkitkan kembali permainan tradisional pada pendampingan tahun ini diprogramkan pelatihan tembang dolanan dan permainan tradisional. Permainan yang menggunakan tembang.
Benthik Benthik adalah salah satu permainan yang menggunakan media stik dari bahan kayu maupun bambu. Permainan tradisional anak-anak ini menggunakan alat bantu dari kayu pohon, ranting kayu, atau bambu dengan diameter kurang lebih 1,5 cm sebanyak dua buah, dan satu dengan panjang kurang lebih 5-10 cm. Sementara yang satu lagi dengan panjang kurang lebih 20-30 cm. Permainan ini lazimnya terdiri dari dua regu. Masing-masing regu minimal satu anak dan bertempat di bidang tanah yang cukup luas.
Jelungan Salah satu permainan tradisional ciptaan Sunan Giri ialah Jelungan. Di Madura disebut Tengbantengan. Ini adalah permainan buru-memburu. Cara bermainnya, ada yang jadi pemburu dan ada yang jadi obyek buruan. Agar selamat dari buruan, pemain yang berperan sebagai obyek buruan harus secepat mungkin berpegang pada tongkat atau batang pohon yang ditentukan. Buruan yang terkejar dan tersentuh pemburu maka ganti menjadi pemburu berikutnya. Maknanya, pemburu adalah lambang iblis atau setan sementara bocah-bocah yang jadi obyek buruan adalah manusia. Intinya, bila ingin selamat dari godaan setan, berpegang teguhlah pada Islam. Saat bermain, para pemain bersama-sama melagukan nyanyian ciptaan Sunan Giri, Padang Bulan.
Boi boinan Permainan boi-boian merupakan permainan tradisional yang dimainkan dengan cara melemparkan bola kecil pada tumpukan pecahan genteng atau batu yang pipih. Permainan ini merupakan permainan sederhana namun sarat makna untuk mengajarkan anak-anak arti kerjasama dengan kelompoknya. Boi-boian dimainkan oleh dua kelompok kecil, yaitu kelompok yang bermain dan kelompok yang berjaga. Masing-masing kelompok terdiri dari minimal 2 orang, karena membutuhkan kerjasama antara pemain dalam satu kelompok.
Egrang Engrang merupakan permainan tradisional dengan memanfaatkan dua pasang tongkat bambu panjang yang diberi tempat pijakan kaki. Cara memainkan engrang pada dasarnya cukup sederhana, yakni dengan cara menaiki tongkat bambu tersebut kemudian pemainnya diminta untuk berjalan dengan menggunakan kaki egrang. Namun hal tersebut tentu tidak mudah untuk dilakukan sebab para pemainnya harus memiliki kesimbangan yang baik.
cublak cublak suweng Biasanya, permainan ini melibatkan tiga atau lima orang. Cara bermainnya diawali dengan gambreng dan yang kalah menjadi Pak Empo. Bocah yang berperan sebagai Pak Empo kemudian berbaring telungkup. Peserta lainnya mengelilingi sambil meletakkan tangan menghadap ke atas di punggung Pak Empo. Salah satu peserta memegang kerikil atau biji-bijian dan ditaruh bergantian di telapak tangan peserta, dengan kecepatan seirama dengan lagu Cublak-Cublak Suweng yang dinyanyikan bersama. Kerikil berhenti di telapak tangan salah satu peserta ketika syair nyanyian sudah habis. Saat itulah semua peserta menutup telapak tangan mereka. Pak Empo kemudian diminta menebak di tangan siapa kerikil dipegang. Bila tertebak, peserta yang menggenggam kerikil ganti jadi Pak Empo.
Egklek  ngklek dapat dimainkan sendiri atau bersama-sama. Jika dilakukan bersama-sama, pengundian urutan pemain dapat dilakukan dengan hompimpa atau suit. Permainan ini menggunakan alat bernama gaco, yaitu berupa potongan genteng atau batu yang pipih. Gaco dilempar pada kotak pertama. Setelahnya, pemain mulai melompat-lompat dengan satu kaki dari satu kotak ke kotak lain secara berurutan, kecuali kotak tempat gaco
jamuran Permainan ini juga disebut buah kreasi Sunan Giri. Dahulu, permainan ini diikuti banyak orang atau bocah, tak dibatasi jumlah, sehingga terkesan seru dan ramai. Jamuran biasanya dimainkan oleh bocah-bocah saat terang bulan di malam hari. Permainan dimulai dengan hompimpa dan yang kalah jadi penjaga dan harus duduk atau berdiri di tengah lingkaran. Sementara peserta yang lain kemudian membentuk lingkaran lebih besar dengan cara bergandengan tangan. Mereka berputar sambil menyanyikan lagu Jamuran, juga gubahan Sunan Giri. Begitu nyanyian selesai, penjaga kemudian menyerukan permintaan, misalnya, “Aku njaluk jamur kendi borot.” Spontan para pemain di lingkaran besar harus bersikap jadi jamur seperti diminta penjaga. Bila ada peserta yang tidak mengikuti permintaan, maka dia ganti menjadi penjaga di tengah lingkaran.

 

Baca juga : Objek Wisata Budaya dan Sejarah Keindahan Wisata Kota di Yogyakarta

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di(0812-3299-9470).

Tags:

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + nineteen =

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.