Motivasi Nande-nande Perengge-rengge dan Upaya Kesetaraan Gender

picture 5
Nande-nande Perengge-rengge sebagai pekerja tentunya memiliki motivasi menjadi pedagang sayur-mayur di pasar MMTC. Sepuluh informan menyatakan motivasi mereka menjadi Nande- nande Perengge-rengge pertama dari motif ekonomi yakni: 1) Kehidupan ekonomi yang semakin sulit memaksa mereka menjadi pencari nafkah, 2) Adanya kemauan wanita untuk mandiri dalam bidang ekonomi, tidak mau berpangku tangan pada laki-laki atau tidak bergantung dengan suami.3) Adanya kebutuhan untuk menambah penghasilan keluarga terutama menambah penghasilan dari suami karena biaya hidup semakin banyak. 4) Mengisi waktu luang dan 5) Mencari pengalaman baru. Pada dasarnya Nande-nande Perengge-rengge beralih menjadi pedagang disebabkan karena menjadi pedagang tidak memerlukan keahlian khusus, modal yang beragam ada dari modal dari pendapatan sendiri, ada juga pinjaman dari keluarga dan ada juga dari modal kepercayaan dari orang lain. Namun menjadi pedagang tidak segampang yang dilihat, posisi ini membutuhkan banyak waktu dan kekuatan tenaga dan pikiran. Mereka bekerja dari malam ke siang, 12 jam di pasar, mereka harus memindahkan kol, kentang, wartel, tomat, cabe dan lain sebagainya bergoni-goni atau banyak keranjang. Motivasi Nande-nande Perengge-rengge  – Nande-nande Perengge-rengge dalam penelitian ini merupakan pendatang dari tanah Karo, berpendidikan SMP, SMA dan Sarjana. Mereka merantau ke medan untuk mencari penghidupan yang layak (motif ekonomi), terbukti saat ini Nande-nande Perengge-rengge memiliki penghidupan yang layak, yang dulunya hidup susah sekarang Berjaya bahkan mereka bisa menjadi solusi pekerjaan (lowongan baru) untuk bekerja di lapaknya. Meminjam pemikiran Baiduri (2017) ternyata Nande-nande Perengge-rengge juga dalam melakukan aktivitas ekonominya memiliki modal ekonomi, modal budaya dan modal sosial. 1) Modal ekonomi dalam pekerjaan ini cukup beragam mulai dari Rp.600.000-15 juta, bahkan ada yang tidak memiliki modal awal hanya mengandalakan modal sosial seperti Bik Untung, keuntungan kotor yang mereka peroleh bervariasi antara Rp. 10 juta-Rp. 60 juta. 2) Modal budaya yang dimiliki Nande-nande Perengge-rengge adalah bersumber dari nilai budaya dan cita-cita budaya perempuan Karo yakni pekerja keras. Baca juga : Nande-nande Perengge-rengge: Pencari Nafkah, Kesetaraan Gender dan Role Model di Ruang Publik Kota Medan Meskipun kebanyakan Nande-nande Perengge-rengge mendapatkan keuntungan dari hasil dagangannya akan tetapi tujuan utama dalam berdagang adalah menjadi alat untuk perempuan Karo tetap bertahan dan tetap eksis dalam budaya Karo yang patrineal. Pekerjaan Nande-nande Perengge-rengge menjadi misi budaya atau cita-cita budaya perempuan Karo dalam kesetaraan gender. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kajian kami, anda dapat menghubungi Admin kami di nomor (0812-3299-9470) Top of Form .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *