Peran Budaya Lokal dalam Pengembangan Destinasi Pariwisata

Peran Budaya Lokal dalam Pengembangan Destinasi Pariwisata : Kasus Pariwisata Budaya di Yogyakarta – Kearifan lokal merupakan pengetahuan dan nilai-nilai yang dimiliki oleh suatu masyarakat yang diwariskan turun-temurun dan menjadi pedoman dalam kehidupan mereka. Kearifan lokal dapat menjadi sumber daya yang berharga dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya lokal. udaya lokal merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang terikat oleh ruang dan waktu tertentu. Budaya lokal merupakan elemen penting dalam pengembangan destinasi wisata. Keberadaannya tidak hanya memberikan daya tarik unik bagi wisatawan, tetapi juga dapat mendorong partisipasi masyarakat lokal dan menciptakan pariwisata yang berkelanjutan. 

Budaya lokal menawarkan pengalaman yang otentik dan berbeda bagi wisatawan. Hal ini dapat berupa tradisi, seni, kuliner, kerajinan tangan, dan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Keunikan budaya lokal inilah yang menjadi pembeda dan daya tarik utama bagi wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi wisata. Beberapa kajian telah mengkaji peran budaya lokal dalam pengembangan destinasi pariwisata. Kajian oleh Choirunnisa dkk (2021) merumuskan beberapa indikator yang digunakan dalam menyusun strategi pengembangan pariwisata budaya diantaranya strategi pengembangan (meliputi strength, weakness, opportunity, threat), pariwisata (meliputi attraction amenities, ancilliary, accessibility), dan budaya (agama/kepercayaan, bangunan, kesenian, dan keramahtamahan penduduk). 

Yogyakarta, dikenal sebagai salah satu daerah istimewa di Indonesia, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Keberagaman budaya ini menjadi daya tarik utama bagi wisatawan untuk mengunjungi Yogyakarta. Desa wisata di Yogyakarta menjadi contoh bagaimana budaya lokal dapat berperan penting dalam pengembangan destinasi wisata. Salah satunya Desa Nglanggeran tepatnya Kampung Pitu, Gunungkidul yang memiliki potensi alam dan potensi budaya berupa seni tradisi tingalan, tayub (ledhek), rasulan, kenduri (ngabekten), mong-mong, dan wiwitan. Kajian oleh Pratiwi (2017) menyebutkan bahwa budaya lokal masyarakat setempat menjadi minat utama wisatawan mancanegara untuk berkunjung dan berwisata, terutama pada pelaksanaan tradisi kirab grebeg maulid. 

Selain itu, kawasan Kotagede merupakan kawasan yang terkenal akan peninggalan sejarahnya, seperti makam leluhur kerajaan, Masjid Kotagede, rumah tradisional arsitektural Jawa, topografi kampung sistem kota kuno, dan reruntuhan benteng. Pariwisata budaya Kotagede tak hanya sebatas adanya peninggalan bersejarah, namun keterlibatan masyarakat lokal terhadap warisan budaya. Kajian oleh Rosilawati (2021) menyebutkan bahwa masyarakat Kotagede peduli terhadap pelestarian warisan budaya, dibuktikan dengan penyelenggaraan Jejak Pusaka Kotagede, yaitu tur ke beberapa destinasi budaya di Kotagede. 

Demikian artikel ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

Budaya lokal memiliki peran penting dalam pengembangan destinasi wisata di desa wisata Yogyakarta. Budaya lokal memberikan daya tarik unik, mendorong partisipasi masyarakat, dan membantu dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan.
Baca juga : Etnomatematika Mengurai Relasi Antara Matematik dan Budaya

Sumber:

Choirunnisa, I. C., & Karmilah, M. (2022). Strategi pengembangan pariwisata budaya. Jurnal Kajian Ruang2(1), 89-109.

Pratiwi, B. D. (2017). Pariwisata dan budaya (Studi peran serta masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata di Kampung Pitu, Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul). E-Societas, 6(8).

Rosilawati, Y., & Mulawarman, K. (2021). Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Pariwisata Berbasis Budaya Di Yogyakarta (Studi Kasus Di Kotagede, Yogyakarta). INTERCODE, 1(2).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *