Teori Inti Ganda dalam Tata Ruang Kota

Teori Inti Ganda dalam Tata Ruang Kota – Kota merupakan sebuah sistem yang kompleks dengan berbagai aktivitas dan fungsi yang saling terkait. Tata ruang kota menjadi aspek penting dalam mengatur dan mengelola berbagai aktivitas tersebut. Salah satu teori yang digunakan untuk memahami struktur tata ruang kota adalah Teori Inti Ganda.

Teori inti ganda atau multiple nuceli dikemukakan oleh C.D Harris dan F.L. Ullman pada tahun 1945. Teori ini mengemukakan bahwa struktur kota tidak hanya memiliki satu pusat kegiatan (atau central business district (CBD), tetapi bisa memiliki dua atau lebih pusat kegiatan. Pusat-pusat kegiatan ini disebut sebagai inti ganda (multiple nuclei). Beberapa karakteristik teori inti ganda dalam struktur perkotaan yaitu sebagai berikut. 

  • Lebih dari satu pusat kegiatan, dimana kota bisa memiliki dua atau lebih pusat kegiatan dengan konsentrasi yang berbeda-beda, seperti pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan bisnis, pusat pendidikan, dan sebagainya. 
  • Pola distribusi kegiatan yang kompleks, karena aktivitas ekonomi perkotaan tidak terpusat pada satu lokasi, bisa tersebar pada beberapa pusat wilayah.
  • Transportasi memiliki peran penting, karena berperan dalam menghubungkan kegiatan antar pusat kota, 
  • Struktur kota dengan inti ganda bersifat dinamis dan dapat mengalami perkembangan seiring waktu. 

Baca juga : Teori Konsentris Struktur Ruang Perkotaan

Menurut teori inti ganda Harris & Ullman, kota terdiri atas beberapa bagian, yaitu 1) pusat kota atau central business district (CBD); 2) kawasan ekonomi dan industri; 3) kawasan permukiman kelas rendah; 4) kawasan permukiman kelas menengah; 5) kawasan permukiman kelas tinggi; 6) kawasan manufaktur; 7) kawasan luar pusat kota; 8) kawasan permukiman sub urban; 8) kawasan daerah industri sub urban. 

Teori inti ganda membagi wilayah berdasarkan dua zona utama, yaitu pusat kota (CBD) dan zona permukiman yang terbagi ke dalam beberapa sub zona berdasarkan tingkatan sosial penduduk. Permukiman kelas rendah cenderung berada pada lokasi yang tidak ideal, seperti dekat pabrik, rel kereta api, dan sebagainya. Sementara permukiman kelas tinggi terletak jauh dari pusat kota dan industri namun memiliki akses yang mudah ke pusat kegiatan. Penerapan inti ganda dapat dilihat pada beberapa kota di Indonesia bahkan dunia. Contohnya adalah pusat kegiatan (CBD) Sudirman – Thamrin.  

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *