Masjid Agung Surakarta Warisan Cagar Budaya Surakarta

Masjid Agung Surakarta Warisan Cagar Budaya Surakarta – Kerajaan Mataram merupakan pemilik Masjid Agung Surakarta. Masjid Agung Surakarta memenuhi beberapa syarat sebagai bagian dari tempat peribadatan bagi warga keraton, seperti halnya beberapa masjid kerajaan-kerajaan lain di daerah lain. Salah satunya adalah terletak dekat Keraton, yang merupakan pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja, alun-alun berfungsi sebagai pusat aktivitas masyarakat, dan pasar berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi. Sedangkan masjid ini berfungsi sebagai tempat untuk beribadah khususnya bagi warga keratorn maupun masyarakat pada umumnya.

Masjid  Agung Surakarta ini dibangun pada masa Paku Buwono III dan terinspirasi oleh gaya arsitektur Jawa Kuno dan Belanda. Hal itu tampak bahwa banyak bagian masjid terbuat dari kayu. Bangunan Masjid Agung Surakarta ini berbentuk seperti tajug dengan atap tumpang tiga dan mustaka (kubah) di puncak. Iman, Islam, dan ihsan adalah prinsip-prinsip dasar Islam, yang merupakan makna dari tajug bertumpang tiga tersebut.

Baca juga : Apa itu situs ?

Bukti nyata akulturasi berbagai budaya, Masjid Agung Surakarta ini berhasil memadukan ajaran Islam yang di akulturasikan dengan budaya-budaya yang ada di Jawa, Eropa, dan Timur Tengah. Element-elemen masjid yang berasal dari Keraton Kasunanan ini menunjukkan bukti akulturasi dikarenakan merupakan perpaduan budaya luar dan lokal (Indonesia). Selain itu, masjid ini berfungsi sebagai simbol kekuasaan pemimpin kerajaan, yang berdampak pada gaya arsitektur yang digunakan di dalamnya 

Sebagai masjid kerajaan, Masjid Agung Surakarta memiliki simbol kasunanan yang dapat dijumpai pada gerbang depan masjid dan bangunan utama yang diberi warna biru, warna khas Kasunanan Surakarta. Gerbang depan masjid yang bergaya Arab merupakan batas area profan dan area sakral. Oleh karenanya Masjid Agung Surakarta ini kemudian dinobatkan menjadi warisan cagar budaya Kota Surakarta. Kemudian di era sekarang Masjid Agung Surakarta ini difungsikan sebagai rumah ibadah umat muslim dan sejaligus sebagai wisata religi bagi masyarakat muslim dan non muslim.

Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di (0812-3299-9470).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *