Turonggo Agung Kalasan

Turonggo Agung Kalasan –

  1. Alat Yang Dimainkan

Group Turonggo Agung Kalasan memang cukup unik dari segi alat karena sebagai kesenian jathilan lancur mereka tidak memiliki angklung sebagai ciri lancurnya. Ketika ditanyakan kepada Mas Dimas sebagai penata gending, ia menyatakan bahwa “memang sejak awal, kami tidak menggunakan angklung, kami hanya diwarisi alat-alat ini oleh orang-orang tua kami”, begitu ungkapnya. Memang menurut Mas Dimas, bahwa jathilan klasik di lingkungan sekitar tidak ada yang memakai angklung. Beberapa alat musik yang mereka miliki adalah sebagai berikut : (Masing-masing diberi gambar gamelan Turonggo Agung)

  1. Bende 5 buah
  2. Gong Kempul 5 buah
  3. Kendang

Gamelan yang digunakan oleh Turonggo Agung berlaras pelog. Kondisi alat musik cukup terawat, namun masih perlu beberapa alat yang harus di tuning ulang seperti bende dan saron. Kendang yang mereka miliki juga sudah kendur, perlu untuk di tuning ulang. Ketika saya tanyakan mereka hanya bisa merawat alat dengan cara dibersihkan, mereka tidak bisa untuk tuning ulang alat-alat yang mereka miliki. Disini menjadi penting mungkin harus diadakan pelatihan untuk bagaimana merawat dan mengelola alat musik, karena sesungguhnya hampir seluruh group atau sanggar seni kerakyatan tidak bisa merawat alat musik yang mereka miliki.

Group ini tidak memiliki sound sistem sendiri, biasanya mereka hanya menyewa sound sistem yang sudah biasa “ngesound” jathilan. Selain itu mereka juga tidak memiliki orang yang ahli dalam tata suara, sehingga tata suara diserahkan kepada orang lain dan mereka tidak memiliki ciri khas dalam mengelola suara yang keluar. Selain itu dari segi tata cahaya juga mereka hanya menggunakan penerangan seadanya. Menggunakan lampu LED untuk menerangi arena tari dan lampu neon biasa untuk menerangi penari. Efek dramatis menjadi tidak hadir dalam pertunjukan, sedangkan jathilan selalu menggunakan tegangan melalui “ndadi” agar pertunjukannya menjadi gayeng.

Melihat hal tersebut kita dapat melihat banyak kasus matinya seni-seni  tradisi kerakyatan kita seperti ketoprak, wayang wong dll, mereka para seniman pelakunya tidak berhasil dalam mengupdate dan mengelola teknologi terkini sebagai media pendukung pertunjukannya. Update teknologi menjadi keharusan jika seni tradisi kita tidak ingin mati atau dikalahkan oleh seni-seni populer.

Baca juga : Tokoh dan Peristiwa Yogyakarta

2. Musik Iringan dan Jenis Tembang

Ketika penari sudah bersiap, memanjang dua baris diarena, suara seorang sinden bernama Mak Siti melengking melantunkan mocopat dhangdang gulo dengan laras pelog. Lantunan mocopat semakin melambat dan disambut oleh ketukan kendang tanda pembuka musik. Tiga buah bende berlaras pelog dimainkan bergantian, mengalun monoton dan diakhiri gong pada setiap kalimat musik. Mereka memainkan gending ganjuran lambat sebagai pembuka tarian jathilan.

Gending Ganjuran dimainkan semakin cepat tanda dimana tempo tarian semakin cepat, Mak Siti sesekali berhenti memainkan lagu-lagu. Beberapa lagu yang dilantunkan Mak Siti berkisar pada mocopatan, lagu-lagu karawitan jawa seperti slendang biru, sholawatan hingga lagu-lagu nasional seperti tanah air, ibu pertiwi melantun. Mereka hanya mempercepat gending ganjuran diawal tadi, yang kemudian mereka namai dengan Ganjuran Cepat.

Satu persatu penari “ndadi”, gending kemudian silih berganti antara pongjir, ganjuran dan ganjuran cepat. Ketika suasana pemain ndadi cukup tenang maka, gendingpun beralih melambat, mereka memainkan gending ganjuran. Dalam gending pongjir tidak ada nyanyian yang terlantun dan Mak Situ ini. Mak Siti hanya bernyanyi saat gending ganjuran saja. Pergantian gending menyesuaikan gerak-gerak para penari yang “ndadi”. Jembatan satu gending dengan gending lainnya menggunakan pola “walikan”, yaitu kode dari kendang yang digunakan untuk memperlambat dan mempercepat tempo.

Ketika penari semakin belingsatan, beberapa penari melakukan gerakan sigrak maka tempo gending pongjir pun beralih pada menjadi lebih cepat. Untuk mengakhiri sebuah pertunjukan mereka harus memastikan semua penari sudah sembuh dari “trance” (kesurupan). Tidak ada gending dan lagu khusus untuk menutup pertunjukan mereka biasanya menggunakan gending ganjuran dan lantunan nyayian Mak Siti.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di 0812-3299-9470.

Tags:

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.