Maestro tari tingkat internasional, Sardono W Kusumo, selepas menjelajahi buwana, akhirnya pulang ke kampung halamannya. Tak salah jika ia di masa senja mengembangkan studio seni ke Kemlayan, sebuah ruang hunian di Kota Solo yang bersejarah. Kemlayan merupakan “sarang” maestro di masa silam. Gesang Martohartono, seniman keroncong ternama, juga dari Kemlayan.
Tempo doeloe, Kampung Kemlayan dan kesenian bak dua gambar dalam sekeping mata uang logam yang nyaris tak bisa diceraikan. Posisi kampung ini berada di perempatan Secoyudan ke utara hingga perempatan Nonongan, lalu ke barat sampai perempatan Singosaren. Dulu dihuni oleh para “mlaya”, sebutan abdi dalem karawitan Keraton Kasunanan. Takkala Paku Buwono X menduduki singgasana, para empu karawitan diganjar gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) plus hadiah rumah joglo sebagai tempat singgah, sedangkan niyaga juga memperoleh gelar Kyai Lurah.
Menurut pengakuan Mientardjo HS (2008), kegiatan berkesenian di Kemlayan sangat lengkap dan bertambah semarak lantaran ditunjang aneka fasilitas publik. Misalnya, gedung Sonoharsono (bioskop UP) tempat pertunjukan wayang orang, gedung Srikaton (Bank Panin) dipakai pentas kethoprak, gedung Sunan (Dhady) untuk tampilnya sandiwara yang pemainnya berasal dari perkumpulan kesenian Darma Soeka, dan Ndalem Habipraya (Matahari/Monza) digunakan untuk pertemuan aristokrat dan berlatih tari.
Kala itu, warga Kemlayan banyak yang memiliki gamelan sendiri, bahkan sampai ada ungkapan: bocah Kemlayan yen ora bisa nabuh gamelan utawa njoged, dudu bocah Kemlayan (orang Kemlayan kalau tidak bisa memainkan gamelan atau menari, berarti bukan orang Kemlayan). Ungkapan yang lainnya, mereka tidur terasa kurang nyenyak bila tidak mendengarkan alunan gamelan. Selanjutnya, manakala ada perayaan yang disertai tontonan, masyarakat setempat tak pernah bolong mengisi acara, entah di Habipraya, Sonoharsono, Srikaton, Bioskop Sriwedari, Sasanamulya, maupun Kepatihan. Para pecinta seni angkat topi atas penampilan muda-mudi Kemlayan dalam pagelaran wayang orang gagrak enggal dengan teknik modern ”bale segala-gala” di Sonoharsono. Teknisi panggung dan lampu yang bernama Poerwomartono berasal dari Kemlayan pula.
Namun, sulit disangkal bahwa perubahan zaman yang begitu cepat dan perubahan pemikiran masyarakat ternyata berpartisipasi menggilas bermacam nilai tradisi yang hidup di kampung tradisional Kemlayan. Di kampung kuno ini sudah tiada lagi bermunculan nama Mlaya atau ahli seni yang handal karena tidak sedikit warganya ”melarikan diri” dari kegiatan berkesenian secara total. Sungguh mungkin anggapan mereka ialah kesenian tak terlalu menjanjikan masa depan yang manis.
Lembaran sejarah indah Kampung Kemlayan tergores berbagai nama tokoh lokal yang menggetarkan jagad internasional. Sebut saja, Ki Mloyo Widodo, Gesang, S. Ngaliman, Klana (Mlaya Darsono), Sembung Langu (Gitapangrawit), Lurah Trunomulyo, Ngabehi Purwopangrawit, Penthul (Wirjo Soemarto), Tembem (Tirto Pangrawit), Bancak (Redi Leksono), Doyok (Kromomulyo), dan Regol (Redi Pangrawit), serta Gunungsari (Tisno Pangrawit). Keempuan mereka yang tercipta di kampung ini merupakan produk dari budaya tradisional Jawa yang meletakkan kesenian sebagai bagian yang erat melekat pada kehidupan. Kesenian di Kampung Kemlayan adalah nafas perjuangan manusia Jawa dalam menciptakan keselarasan atau harmoni hidup yang mengandung estetika dan etika. Jejak sejarah Kemlayan patut untuk dikabarkan ke publik.

No responses yet