Kauman yang Hilang

Periode kerajaan Mataram Islam, warga kampung tersebut ditunjuk raja sebagai salah satu penyangga megaproyek Islamisasi yang dikerjakan sejak istana Demak berdiri. Maka, maklum jika di sekitar Keraton Pleret (1569), Kartasura (1677), Kasunanan (1743), Kasultanan (1755), Mangkunegaran (1757), dan Paku Alaman (1813) ditemukan jejak toponimi Kauman. Hampir bisa dipastikan, lokasi kampung jaraknya hanya sepelemparan batu dari masjid besar keraton. Pasalnya, warga Kauman yang menjadi abdi dalem pamethakan itu juga disampiri tugas merawat tempat sembahyang.

Kemudian, yang menjadi “kepala suku” di tanah pemberian raja ini disebut penghulu. Permukiman yang dipenuhi lorong sempit itu diisi oleh para pembantu penghulu. Antara lain, (1) ketib/khotib: pengkhotbah shalat Jum’at dan sebagai imam dalam sholat rowatib; (2) modin: pemukul bedhug atau kenthongan jelang sholat tiba sekaligus yang mengumandangkan adzan. Tapi, di kehidupan sehari-hari ia bertugas mengurusi soal perkawinan-kematian, memberikan doa dalam acara selamatan, memandikan jenasah pula; (3) qoyyim: pembantu modin; (4) merbot: juru bersih dan mengelola fisik masjid. Teladannya, menyediakan air, tikar serta perkakas masjid.

Sepenggal kisah menggelitik bahwa berbagai peristiwa konflik baik perorangan atau kelompok banyak yang diselesaikan oleh ulama di masjid yang jaraknya sepelemparan batu dari area Kauman. Banyak kasus yang tidak berhasil diselesaikan di tempat resmi di luar masjid, dan bahkan meski akhirnya berhasil banyak kesepakatan yang kemudian dilanggar. Tetapi, manakala kesepakatan itu dari hasil yang diikrarkan di masjid, amat jarang dari mereka yang bersengketa berani melanggarnya. Inilah bukti keagungan masjid tua serta kedigdayaan para penghuni Kauman. Hal itu terjadi antara lain karena setiap janji atau sumpah yang diucapkan seseorang disaksikan oleh ulama di masjid umumnya berlangsung dengan didasari kesadaran erat bahwa kedudukan masjid dan wibawa ulama Kauman di hati kaum muslimin begitu tinggi.

Ternyata, gerak sejarah Mataram Islam dinamis dan acap diwarnai pertikaian kekuasaan, sampai pada akhirnya terpilah menjadi empat kerajaan. Dari empat kerajaan tersebut, Kauman yang hilang adalah milik Mangkunegaran, Surakarta. Jejak toponiminya memang masih, namun kegiatan keagamaan masyarakat dan nuansa Islami sulit dikenali. Terlampau jomplang kalau coba dibandingkan dengan Kauman milik Kasunanan, Kasultanan dan Paku Alaman yang aktivitas warganya begitu kentara di bulan Ramadan dan terus berdetak hingga hari ini. Terlebih lagi Masjid Al-Wusta yang semula berada di utara pura dan berhimpitan dengan Kauman, pada permulaan abad XX dipindah (dijauhkan) oleh penguasa Mangkunegaran di sebelah barat. Karena dianggap mengubah tatanan konsep kota Jawa, proses pembangunan dan perpindahan masjid tua ini diberitakan oleh juru warta koran Darmokondo kala itu.

Mengapa ia dapat “hilang”? Analisanya adalah agama Islam dan kampung kuno tersebut tempo doeloe kurang memperoleh perhatian dari Gusti Mangkunegara. Petinggi Mangkunegaran lebih dikenal menekuni bidang bisnis perkebunan ketimbang pengembangan agama Islam di wilayah kekuasaannya. Tujuan duniawi berhasil diraihnya, hingga mampu menjadikan kerajaannya menduduki urutan paling kaya di telatah Jawa. Mangkunegaran merupakan satu-satunya kerajaan yang melahirkan penguasa pribumi moncer di sektor wirausaha dan dijuluki “raja gula”. Inilah yang kemudian hari menginspirasi Presiden Soeharto untuk memacu sektor ekonomi, selain faktor Ibu Tien masih terhitung sebagai trah Mangkunegaran dan Soeharto kecil pernah tinggal di Wonogiri, area kekuasaan Mangkunegaran.

Dari kilas balik ini, kita berharap Kauman yang berdenyut jangan sampai dibiarkan hilang. Sebab, di sanalah sebetulnya letak museum hidup Islam Jawa yang menjunjung semangat toleransi serta mengajari kita berdakwah tanpa harus membawa pentungan. Kauman yang masih hidup tersebut juga merawat ingatan sejarah kita tentang kejayaan kerajaan Mataram Islam dan alim ulama dalam syiar Islam di masa silam. Sekaligus penanda satu-satunya pemukiman kecil yang sangat populer dan kental dalam arus peradaban kota di Jawa (Heri Priyatmoko, 2019).

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − 17 =

Latest Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.