Melihat sedikit Warisan Budaya di Kota Yogyakarta

Selain dijuluki sebagai Kota Seni Budaya, Yogyakarta juga dijuluki dengan istilah “Jogja Istimewa”, mencerminkan keistimewaan Yogyakarta yang progresif, berintegritas, dan memiliki diferensiasi yang kuat dibandingkan dengan daerah lain. Dengan begitu terlihat jelas bagaimana masyarakat luar menilai Kota Yogyakarta sebagai tujuan wisata yang memberikan kesan liburan luar biasa di saat para wisatawan berkunjung. Para wisatawan asing sering kita jumpai di Yogyakarta dikarenakan perbedaan budaya yang mereka rasakan dengan  budaya di negara mereka sangat berbeda jauh. Yogyakarta menjadi tujuan wisata favorit dikarenakan keanekaragaman obyek wisatanya dan keramahtamahan masyarakatnya. Selain itu beberapa faktor penyebab kunjungan wisata mereka di Yogyakarta adalah lingkungan dengan keamanan dan kenyamanan yang kondusif, biaya hidup dan harga cinderamata yang murah serta lingkungan budaya lokal yang masih kental dan mengakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari di daerah tersebut.

Baca Juga : Pariwisata Indonesia

Kota Yogyakarta memiliki beragam warisan yang bersifat benda maupun tak benda. Warisan tersebut secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Pengaruhnya dapat ditengarai dengan pola tindakan masyarakat yang selalu merujuk pada berbagai warisan yang ada. Misal; penduduk Kota Yogyakarta akan menggunakan bangunan-bangunan bersejarah kota sebagai rujukan untuk menentukan arah atau tempat. Bersamaan dengan hal-hal yang bersifat kebendaan tersebut, muncul pula serangkaian sistem nilai sebagai penyerta. Kepercayaan tersebut muncul secara turun temurun dan ditransmisikan secara lisan, dibantu benda-benda di sekitarnya sebagai pembantu pengingat. Dalam hal ini, masyarakat juga lebih akrab dengan istilah mitos. Mitos diartikan sebagai suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran dan makna terhadap kejadian asal-usul semesta alam, manusia dan bangsa. Oleh karena itu, mitos erat kaitannya dengan sejarah peradaban budaya dan manusia itu sendiri.

Seperti halnya keberadaan dua buah beringin kurung di Alun-alun Kraton Yogyakarta diikuti dengan kepercayaan masangin. Masangin adalah kepercayaan pada usaha untuk melewati celah antara dua pohon tersebut dengan mata tertutup. Apabila dapat melakukannya, ada anggapan bahwa hati si pelaku dalam keadaan bersih. Masangin merupakan warisan tak benda. Warisan tak benda, biasanya berupa kepercayaan atau wewaler, sering kali tetap saja melibatkan hal-hal yang bersifat benda untuk menegaskannya. Cerita rakyat sering kali dipertegas dengan adanya warisan yang dianggap berhubungan dengan cerita tersebut. Selain itu, pola-pola penceritaannya juga khas dan sering kali dibantu dengan tarian dan nyanyian. Kisah Raden Rangga dipertegas dengan keberadaan watu gatheng di  seputar makamnya. Adapun dolanan anak semisal Jamuran, memiliki rangkaian lagu (tembang) sebagai pengingat gerakannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *