Representasi Budaya Indonesia dalam Film “Raya and the Last Dragon”

Dalam produksi film hollywood kebanyakan film barat melatar belakangi suasana, budaya dan tempat diantara dua benua yaitu Erop dan Amerika. Namun dalam film “Raya and the Last Dragon” ini melatarbelakangi berbagai macam visual budaya dari berbagai macam visual budaya dari negara-negara di Asia Tenggara. Beberapa visual yang disajikan antara lain: (1) senjata yang selalu digunakan Raya yaitu pedang berbentuk keris yang berasal dari Indonesia. (2) topi yang selalu digunakan Raya (salakot) yang berasal dari Filipina. (3) pakaian yang dipakai Raya berasal dari berbgai macam negara di Asia Tenggara.(4) makanan sup Tom Yam yang berasal dari Thailand.

Banyak artefak budaya Indonesia yang terlihat dalam film Raya and the Last Dragon ini, dapat dilihat di awal film terdapat scene yang menunjukkan wayang, tujuan dari scene ini adalah untuk memperkenalkan awal mula dari kisah yang terjadi dalam film. Wayang tersebut merupakan wayang Bali. Selain itu senjata yang dipakai Raya adalah keris. Keris yang dipakai pun menyerupai keris Bali. Selain wayang dan keris, ada juga batik yang terlihat di awal film, batik yang terlihat pada awal film lengkap dengan canting dan peralatan batik lainnya yang merupakan artefak budaya indonesia.

Dalam film ini ditunjukkan bula karakter dari orang Indonesia. Dengan adanya celebrating uniqueness nnilai-nilai dan karakter orang Indonesia seperti kerukunan dan kebersamaan juga ditonjolkan dalam film ini. karakter yang dimana sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri, yang di mana orang Indonesia cenderung bertetangga atau berkelompok. Kerukuna dan kebersamaan dalam film ini digambarkan dan diibaratkan oleh Dr. Juliana Wijaya seperti perayaan ogoh-ogoh dalam budaya Bali, dimana ogoh-ogoh ini meerupakan spirit yang menyerap aura negatif dari lingkungan dan alam sekitar lalu dimusnahkan dengan cara dibakar, sehingga lingkungan dan alam sekitar menjadi bersih kembali dari energi negatif dan kembali membawa kedamaian dalam hidup, maka ogoh-ogoh diibaratkan membawa kedamaian dunia.

Terdapat juga kuliner Indonesia yang diperlhatkan hanya dengan visualnya saja, dan tidak dijelaskan secara cerita atau dialog yang menunjukkan bahwa kuliner tersebut berasal dari Indonesia. Adapun kuliner tersebut adalah: buah durian, buah manggis, sate ayam, gorengan dan lalapan.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *