Daya tarik kuliner di Pariwisata Ziarah di Kudus

Kuliner merupakan segala macam hasil olahan yang berupa masakan, baik berupa lauk-pauk, makanan maupun minuman. Setiap daerha memiliki ciri khas dengan kulinernya sendiri, sekaligus juga menjadi ciri khas dan daya tarik daerah tersebut.  adapun kuliner yang ada di kudus adalah sebagai berikut:

  1. Bubur asyuro sunan kudus, bubur ini disajikan pada sehari sebelum puncak buka luwur , yaitu upacara penggantian kelambu pada makan Sunan Kudus. Upacara ini dilakukan pada tanggal 9 Muharram. Bahan yang dipersiapkan untuk bubur ini ada 8, yaitu: beras, jagung, kedelai, ketela, tolo, pisang, kacang hijau dan kacang tanah. Delapan bahan tersebut konon, sesuai denan bubur Asyura Nabi Nuh yang terbuat dari 8 bahan makanan. Selain dari bahan tersebut, bubur ini juga ditaburi dengan beberapa snack lainnya, seperti pentul, cabe merah, tahu goreng, tempe goreng, teri goreng, udang dan sebagainya.
  2. Nasi daging kerbau-kambing, ini merupakan hidangan pada prosesi bulak  luwur . upacara ini digunakan untuk mengirim doa dan mendapatkan barokah dari Sunan Muria. Upacara ini diadakan pada tanggal 14/15 Sura. Dalam acara ini, disediakan uba rampe yang berupa nasi, daging kerbau atau kambing yang dibungkus dengan daun jati. Potongan kain kelambu yang lama dimasukan dalam bungkusan tersebut, untuk menghindari adanya suasana ricuh karena memperebutkannya. Masyarakat meyakini bahwa dengan melakukan upacara ini maka akan mendapatkan barokah dari Sunan Muria, sedangkan nasi dan daging kerbau atau kambing diyakini masyarakat dapat menyembuhkan orang sakit serta dapat memberikan hal-hal positif lain yang diinginkan. Nasi tersebut ditabur di sawah dengan harapan agar panen tahun mendatang lebih baik dari pada penen tahun ini, dan seterusnya. Adapun kain klambu tersebut digunakan sebgai jimat tolak bala.
  3. Nasi berkat, sego rosulan, kue apem dan bancakan nazar kyai Telingsing.
    Kyai telingsing oleh masyarakat kudus, dianggap memiliki kekuatan yang dapat memberikan solusi bagi kesulitan-kesulitan yang ssedang mereka hadapi. Sehingga pembagian berkat dan luwur ini sangat dinantikan. Upacara ini diselenggarakan di masjid Kyai Telingsing, kesempatan ini dibagikan berkat yang dibungkus daun jati untuk masyarakat yang belum mendapatkannya ketika prosesi upacara makam berlangsung.  Selainitu, bancakan diselenggarakan setiap hari Kamis terakhir menjelang bulan puas. Upacara ini dilangsungkan setelah sholat asar. Prosesi u[acara ini dimulai dengan masyarakat mengumpulkan nasi berikut lauk pauknya yang sering disebut dengan sego rasulan beserta jajanan khas berupa kue apem.  Inti dari upacara ini adalah memohon maaf kepada para leluhur yang telah dimakamkan yang disimbolkan dengan kue apem.  Selain itu tujuan upacara ini adalah memuliakan Nabi Muhammad sebagai pembawa agama Islam. Sehingga upacara ini bisa dikatakan sebagai ungkapan selamat datang terhadap bulan ramadhan, sebelumnya masyarakat meminta m aaf terlebih dahulu kepada leluhur agar di dalam pelaksanaaan puasa Romadhon semua dalam keadaanbersih, lahir maupun batin.
    Sega rasulan adalah nasi gurih beserta lauk pauk berupa ingkung, sambal kacang, sambal goreng, sambal kedelai, sayur-sayuran mentah sebagai lalapan yang terdiri dari irisan mentimun, irisan jengkol, irisan petai, daun kemangi kol dan tauge. Sega ini disajikan sebagai bentuk menghormati dan mendoakan arwah para rasul, sahabat dan keluarganya, serta arwah leluhur penyelenggaraa upacara selamatan.
  1. Ayam dhekem eyang sakri dan sego daging kerbau bumi rahtawu, ini merupakan kudapan dalam upacara suronan atau sedhekah bumi, yang pelaksanaannya dilakukan dari tanggal 1-10 sura. Menurut kepercayaan masyarakat, dalam pelaksanaan upacara tradisi tidak diperbolehkan menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit, karena akan menimbulkan musibah. Ketika hasil panen yang dulu ditabur nasi rasulan berhasil, maka masyarakat akan menghubungi petugas penyelenggara slametan membawa bancakan yang berupa ayam dhekem yang kemudian dibawa ke ruang tunggu semedi untuk dipasrahkan kepada juru kunci bahwa keinginannya telah terkabul. Setelah bancakan ini diterima oleh eyang sakri, setelahnya akan di bawa ke luar dan dibagi-bagi untuk dinikmati oleh semua peziarah.
  2. Kupat lepet syawalan mbah kyai dudo, ketupat meupakn kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Kupat merepresentasikan tradisi sungkeman pada orang jawa ketika hari raya, sedangkan laku papat dalam perayaan lebaran bermakna usai, menandakan usainya waktu berpuasa. Luberan bermakna meluber atau melimpah, yakni sebagai simbol anjuran bersedekah bagi kaun miskin, pengeluaran zakkat fitrah menjelang lebaran yang menjadi kewajiban setiap muslim yang juga menjadi wujud kepedulian terhadap sesama.

Sedangkan lepet maksudnya adlaah dipun silep ingkang rapet (mari kita kubur yang rapat). Lepet ini terbuat dari ketan, yang mana ketan itu lengket bermaksud untuk semakin erat tali persaudaraan. Ditali tiga seperti pemungkus jenazah dengan maksud agar nantinya kesalahan tidak menjadi dendam sampai mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *