Desa Wisata Ngaglik, Kampung Singkong di Kabupaten Salatiga

desa wisata

Desa Wisata Ngaglik di kelurahan Ledok Kota Salatiga dikukuhkan sebagai kampung singkong dengan produk olahan berbasis kearifan lokal berbahan baku ketela yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat baik dalam kota maupun luar kota Salatiga. Pengukuhan kampung singkong menjadikan daya ungkit perekonomian daerah setempat karena mampu meningkatkan potensi yang ada sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat

Kampung Singkong adalah salah satu pusat kuliner khas di Salatiga yang berbahan baku singkong. Pada tahun 2016 sebutan Kampung Singkong atau sentra produksi aneka olahan berbahan singkong ini muncul di daerah Ngaglik, Argomulyo dan resmi didirikan oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Salatiga Jawa Tengah. Perkembangan Kampung Singkong tersebut berdampak luas terhadap kegiatan perekonomian masyarakat di kampung tersebut, antara lain munculnya berbagai macam toko yang menjajakan makanan berbahan baku singkong, dengan olahan singkong yang bervariasi dan memiliki brand / merek yang berbeda. Ada kurang lebih 12 toko yang menjual berbagai macam makanan berbahan baku singkong yang diolah berbeda, seperti Getuk Kethek, Cassava, Singkong Keju D-9, Argo Telo, Singkong Satriyo, dan masih banyak toko kecil lainya yang menjajakan olahan singkong yang sama. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, Kampung Singkong Salatiga belum memiliki brand identity dan pengaplikasiannya yang dapat mempresentasikan Kampung Singkong. Hal ini menjadi kendala besar bagi beberapa pemilik toko karena sebagian besar dari mayarakat tidak mengetahui adanya Kampung Singkong Salatiga. Masyarakat lebih mengenali Singkong Keju D-9 saja, sedangkan di daerah tersebut terdapat kurang lebih 12 toko yang menjajakan berbagai olahan singkong dengan kualitas tidak jauh berbeda dengan Singkong Keju D-9. Masalah lain dari Desa Wisata Ngaglik sebagai Kampung Singkong, yaitu penempatan patung singkong “Sentra Indusri olahan singkong” posisinya sangat tidak strategis, letaknya di sekitar TPS (tempat pembuangan sampah) dan kurang menarik untuk dilihat. Pengunjung sering merasa kebingungan untuk mencari gang masuk Kampung Singkong tersebut karena belum adanya implementasi bagian dari brand identity yang tepat.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat. Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *