Detak Jantung Toba: Sebuah Cerita tentang Pariwisata Prioritas Super Branding Destinasi di Era New Normal

Jurnal ini secara garis besar membahas mengenai isu soal pentingnya metode marketing storynomic (storytelling) sebagai branding di pasca pandemi. Storynomics itu sendiri menurut Robert MCkee (2018) penulis buku Storynomics: Story Driven Marketing in the Post-Advertising World adalah pendekatan yang menggunakan teknik bercerita dalam sebuah konten yang kreatif. Atau kalau search di google, definisi Storynomics tourism merupakan pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, living culture dan menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

Pokok bahasan yang ada di jurnal ini diantaranya yaitu: Pemerintah Indonesia saat ini sedang fokus mengembangkan lima destinasi wisata super prioritas, yakni Danau Toba, Labuan Bajo, Likupang, Borobudur, dan Mandalika. Kelima destinasi tersebut dipilih karena memiliki potensi sebagai Bali baru. Tujuannya semata-mata untuk meningkatkan jumlah wisatawan setelah dilanda pandemi Covid-19 dan dapat menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan warga sekitar.

Fokus penelitian ini adalah bagaimana super-prioritas dimaknai dalam sebuah narasi dengan pendekatan storynomics melalui promosi video. Kemenparekraf meluncurkan salah satu video promosi yang berjudul The Heart Beat of Toba. Video tersebut merupakan debut konten serial pendek tentang pemandangan alam yang indah, budaya, tradisi, dan destinasi super prioritas menarik lainnya.

konsep storynomics untuk menjelaskan pentingnya mendongeng dalam mempromosikan destinasi wisata untuk menghasilkan perekonomian. .Penelitian ini juga menggunakan sense of place untuk menganalisis bagaimana pendekatan storynomics digunakan dalam video “The Heart Beat of Toba” sebagai salah satu strategi promosi dari Danau Toba.

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba, juga mengklaim Danau Toba sebagai destinasi wisata berbasis geopark kelas dunia yang menawarkan keragaman atraksi berbasis alam, budaya, dan sejarah

Pada Juli 2020, Kaldera Toba ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada Sidang ke-209 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis. Pemerintah Indonesia berhasil meyakinkan UNESCO bahwa Kaldera Toba memiliki keterkaitan geologis dan warisan tradisional yang tinggi dengan masyarakat lokal, terutama dalam hal budaya dan keanekaragaman hayati (Pramudyani, 2020).

Danau Toba menjadi daya tarik dalam mengembangkan wisata storynomics sebagai strategi promosi pariwisata di Indonesia yang tidak lepas dari perkembangan cerita legenda local tentang terbentuknya Danau Toba (Kemenparekraf, 2021). Harapannya dari cerita yang diangkat, akan muncul kesadaran dan pengalaman dari wisatawan, yang kemudian akan menceritakan kembali kisah tersebut kepada wisatawan lain.

Dalam upaya membentuk destination brand, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memperkuat citra Danau Toba menggunakan media sosial seperti YouTube untuk mempublikasikannya.

Branding destinasi harus membedakan sebuah destinasi dari destinasi lainnya melalui berbagai elemen, baik simbolik maupun eksperimental, untuk menciptakan brand yang unik. Sebuah merek tujuan perlu mengomunikasikan “sense of place” dan menciptakan hubungan emosional dengan audiensnya

Sense of place adalah kesan atau pengalaman yang dirasakan seseorang terhadap suatu tempat dimana kesan tersebut dapat berbeda antara satu orang dengan orang lain karena dipengaruhi oleh latar belakang dan karakter orang tersebut serta pengalaman dan ikatan emosional dengan tempat tersebut

Mckee & Gerace juga membedakan antara cerita fiksi dan cerita yang mempunyai tujuan dan ingin disampaikan. Dalam fiksi, loyalitas penonton adalah kepada penulis cerita dengan harapan karya-karya penulis selanjutnya juga dapat memberikan kesenangan/kepuasan. Pada saat yang sama, penonton dalam cerita yang bertujuan akan merasakan loyalitas terhadap merek (brand loyalty). Loyalitas merek, dan pembelian seumur hidup yang menyertainya, diciptakan dengan mencerminkan pengalaman yang diperoleh dari cerita tersebut. Cerita yang disampaikan dengan baik menciptakan dua pengalaman simultan yang mencerminkan satu sama lain: mental dan emosional, yang pada gilirannya dapat memotivasi konsumen untuk bertindak dengan membeli produk atau layanan yang dipromosikan melalui cerita tersebut.

Destination branding harus memberikan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan yang berkunjung (Gartner, 2014). Oleh karena itu, branding destinasi wisata harus mempertimbangkan dua faktor, yaitu hard factor seperti infrastruktur, ekonomi, aksesibilitas, dan soft factor seperti lingkungan, keramahan masyarakat lokal, seni, tradisi budaya, dan aktivitas rekreasi (Morgan et al., 2011). )

Lebih lanjut Buncle menjelaskan bahwa sense of place dapat dibuat dengan menceritakan sebuah cerita dimana cerita tersebut memberikan wawasan tentang tempat tersebut, orang-orangnya, sejarahnya, cara ia memandang dunia, dan bagaimana hubungannya dengan lingkungannya. Sense of place adalah persepsi orang luar dan dirasakan oleh warga tentang tempat tersebut (resident feeling about the place). of place akan berdampak pada tempat tersebut sehingga dapat dijadikan sebagai konsep untuk mengembangkan destinasi atau kawasan yang dapat meningkatkan pariwisata.

hubungan, terutama di platform media sosial (Moin et al., 2020). Analisis akan fokus pada implementasi delapan tahapan storynomics dalam video The Heart Beat of Toba sebagai bentuk destination branding Danau Toba yang merupakan salah satu dari lima destinasi wisata super prioritas. Sense of Place sebagai Strategi Branding Destinasi ISSN 2722-2152 (online) Zaman Jurnal Tinjauan Pariwisata dan Pembangunan Berkelanjutan (TSDR), Vol. 3 (1), 91-104 Detak Jantung Toba: Cerita tentang Branding Destinasi Wisata Super Prioritas di Era New Normal Kencana Ariestyani, Atika Budhi Utami 95 Machine Translated by Google beberapa faktor, yaitu tempat (sejarah & warisan budaya, bangunan, dan lingkungan alam), produk (produk yang terkait dengan tempat), dan orang (peran penduduk lokal & reputasi mereka dalam berkontribusi terhadap lingkungan), karakter nasional, mis. Afrika Selatan – Nelson Mandela). Disarankan bagi pemasar destinasi untuk menerapkan model untuk memahami sense of place sebagai anteseden untuk mengembangkan strategi merek destinasi

Mengingat bahwa makna sebuah merek dikonstruksi secara sosial dan bergantung pada budaya, strategi branding destinasi harus dimulai dengan memahami sense of place seperti yang dialami oleh penghuni destinasi (Campelo et al., 2013). Dalam konteks pariwisata, rasa tempat adalah konsep multidimensi yang mewakili emosi, keyakinan, dan komitmen untuk pengaturan geografis tertentu (Cottrell & Cottrell, 2015). Sense of place menurut Smith (2011) tidak secara langsung terbentuk hanya karena keberadaan suatu lokasi tertentu tetapi berasal dari keterlibatan manusia dengan lokasi tersebut (Rahadiyanti et al., 2019)

sense of place diciptakan berdasarkan yang terkait dengan tempat), dan orang (peran penduduk lokal & reputasi mereka dalam berkontribusi terhadap lingkungan), karakter nasional, mis. Afrika Selatan – Nelson Mandela). Disarankan bagi pemasar destinasi untuk menerapkan model untuk memahami sense of place sebagai anteseden untuk mengembangkan strategi merek destinasi (Campelo et al., 2013).

Interpretifkonstruktivisme berorientasi secara “konstruktionis”, yaitu orang membentuk realitas dari interaksi dan keyakinan mereka.

, “Tanah ajaib ini dan tradisi ini memiliki begitu banyak rahasia untuk hidup kita,” yang divisualisasikan oleh tarian Naga Padoha di danau. Pengarang memaknai rahasia dalam narasi sebagai bentuk peristiwa penghasutan yang dapat menarik perhatian dan membangkitkan rasa ingin tahu penonton, serta membangkitkan harapan untuk melihat adegan selanjutnya.

Objek keinginan (tahap 4) dalam cerita ini digambarkan dengan sangat jelas, yaitu pengalaman petualangan dan budaya di tanah Batak yang ingin dipenuhi oleh tokoh utama. Objek keinginan terpenuhi setelah tokoh utama melakukan tindakan yang membawa mereka lebih dekat ke tujuan mereka, dan akhirnya, kebutuhan mereka terpenuhi. Dalam video ini, aksi yang dilakukan oleh tiga karakter utama yaitu olahraga ekstrim, sesuai dengan keahliannya masing-masing. Identitas unik protagonis, misalnya, keahlian karakter utama dalam olahraga ekstrim dalam cerita ini, menentukan tindakan yang mereka lakukan untuk memenuhi objek keinginan (McKee & Gerace, 2018).

Video The Heart Beat of Toba memvisualisasikan perjalanan para protagonis di Danau Toba mulai dari kedatangan mereka, yang disambut oleh penduduk setempat yang diberkati melalui upacara adat, kemudian melakukan aktivitasnya masing-masing hingga di akhir perjalanan mereka. bertemu lagi di Bukit Holbung, Samosir.

Kami selaku konsultan pariwisata mengucapkan terimakasih kepada Instansi terkait atas kepercayaan dan kerjasamanya. Demikian artikel penelitian pariwisata ini disusun, semoga bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam pembangunan pariwisata setempat.

Kata kunci: Konsultan pariwisata, penelitian pariwisata, kajian pariwisata

Untuk informasi mengenai penelitian pariwisata, berupa kajian atau pendampingan lebih lanjut dapat menghubungi Admin kami di +62 812-3299-9470

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *